Minggu, 07 Oktober 2012

Finally, moving~

Finally...
I'm moving!!

Awalnya, mau meninggalkan blogspot ini karena ga mudeng2 gimana cara makenya *ketahuan gapteknya :DD
Tapi, setelah hampir terusir dari multiply, pindah ke wordpress, berusaha menyelamatkan beberapa butir postingan, hehehe, sayangnya nggak mungkin memindahkan mereka ke wordpress *hiks.. hiks..

Mau nggak, mau dipindahin ke blogspot deh *ketahuan kepaksa :D

But, beyond all of unpleasant things, please enjoy my old post and wait for my new!!
Don't forget to visit me in http://fauziahamalia.wordpress.com/

I'll be happilly waiting :DDD

Minggu, 05 Agustus 2012

Biarkan Daku Mencari

dimanakah terselip makna? 

aku mencari, 
di helaan nafas, 
di decapan lidah, 
diuraian air mata, 
ataukah di tiap tetesan peluh yang menguning 

aku menguntai, 
di tengah riuhrendahnya suara 
di antara derunya mobil, becak, bus yang berhimpit 
mencari sedikit udara yang segar 
di dalam renyah dan ramainya gelegak asmara 

semuanya kosong 
bahkan di dalam siulan burung pagi 
ataupun decit pengerat di larut malam 

semuanya melompong, 
mungkin karena makna terlalu berharga sehingga 
arwah kelaparan menghisapnya atau, 
karena makna memang tak pernah ada 
hanya sebuah khayalan para skizofrenia 

kini kugelar lagi sajadah panjang itu 
yang mulai menguning dan berkarat, 
atau sudah rapuh serat benangnya 

kini kubentangkan lagi sajadah itu 
mulai kaki buaian hingga.. 
paling tidak hingga harihari dan malammalamku 
menggenapi dan mengganjili hidupku 
menjadi pertimbangan terbesar dalam pilihan kuadran prioritasku 

kini pasrah dan tunduk itu 
kini spirit dan jiwa itu 
tumbuh dan menjalar sepanjang sajadah 

Februari 2010 
*puisi repost dari catatan facebook

Untuk Penyair Itu

hai penyair, mengapa kau menulis syair 
tanyaku sore itu ditengah rinai hujan pada penyair berambut palsu 
dia hanya tersenyum. memamerkan gigi yang terendam nikotin. menguning 

penyair, mengapa kau habiskan waktumu 
menggubah ribuan kata, rima, dan bait 
gumamku, meringis hampir menangis 

padahal lebih baik kau menyapu, 
membersihkan gorong hitam para otak udang 
menyingkirkan nyeri anak-anak negri, 
yang tak terperi 

padahal lebih baik kau merangkul 
ribuan bilqis, nirmala bonat, atau mungkin aku 
yang takut tak mampu lagi menari saat 
hujan esok pagi 

kau tetap tersenyum, menggeleng sedikit 
meluruskan rambut palsumu, 
membiarkan aku menangis, menekuni gunungan puisimu 
yang tak kunjung ku mengerti 

22 Februari 2010
*puisi repost dari catatan facebook :)

Untuk Apa Saya Bertanya

Untuk apa saya hidup

karena kau hidup

telah hidup

dan harus hidup

 

Untuk apa saya berjuang

karena untuk hidup harus berjuang

kalau tidak berjuang itu mati

dan tanpa berjuang itu mayat hidup

yang berjalan setelah dikecup dementor

 

Untuk apa saya ada

karena sudah diciptakan ada

dan dikehendaki ada

variabel-variabel nasib menjadikan ada

 

sebenarnya tidak ada jawaban

tidak ada pilihan

karena jika hidup memang harus berjuang

jika tidak, mati saja

tapi jangan pernah mengharap surga

 

pilihan terbaik adalah hidup dengan perjuangan yang tiada kira

menuju satu titik yang nyata dan pasti ada

 

apa saya perlu lagi bertanya?


15 Juli 2011

*puisi repost dari catatan facebook :)

Sabtu, 04 Agustus 2012

Apa yang Paling Berharga?

Aku tak bisa hidup tanpamu..
Begitu pecinta berkata pada kekasihnya
Saya cemburu,
Saya tak mampu mengungkap cinta
Bibir saya terlalu kelu
Rasa-rasanya cinta tak pernah hinggap di lidahku, juga di hatiku

Ibu dan Ayah bertengkar pagi tadi
Ayah terdiam, dingin, angkuh
Ibu menangis, lirih, sesenggukan
Katanya, mereka saling mencinta
Tapi mengapa aku tak juga paham cinta yang terungkap dari es yang dingin, atau air mata yang hangat
Mungkin memang, aku tak pernah paham kau, cinta

Sms ku pada dosen tak terjawab
Revisian skripsiku menumpuk. Aku rasa, aku mencintai skripsi
Tapi entah lah, mungkin aku sudah mati rasa

Selama ini aku hidup baik-baik saja, aku rasa
Berteman, bercanda, belajar 
Tapi, aku tak pernah tahu apakah itu semua karena aku cinta

Aahh.. Mungkin cinta sudah tercuri
Atau hanya ada di negeri liliput dan surga
Jangan-jangan, cinta hanya milik Tuhan.


Bagaimana jika aku mencintaiMu saja, Tuhan?

Kamis, 26 Juli 2012

Fireworks from The Heart (おにいちゃんのハナビ)

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Kids & Family
Another heartwarming movie about brotherhood :)

Oniichan no Hanabi, jika diartikan secara literasi berarti kembang api milik Kakak. Bercerita tentang kakak-adik, Taro dan Hana. Hana adalah gadis yang menderita leukimia. Setelah 6 bulan dirawat di rumah sakit, ia menemukan kakaknya menjadi hikikomori (anti-sosial, mengurung diri dan menghindari hubungan sosial). Dari situlah cerita yang hangat ini dimulai.

Cerita bergulir dari usaha Hana menjadikan kakaknya kembali seperti dulu. Memaksanya melakukan pekerjaan part-time dan ikut serta dalam shushokai, kelompok remaja usia 20th. Usaha Hana dan feedback dari Taro itulah yang menyentuh..

Menonton ini membuat saya mengingat kakak saya. Saya perempuan, kakak saya laki-laki. Saya cenderung nyablak, kakak saya lebih perasa. Bedanya, saya tidak sakit leukimia dan kakak saya bukan hikikomori :D

Keluarga dan saudara memang harta yang tak mungkin tergantikan. Darah memang lebih kental dari air, ditambah lagi kekuatan iman-islam lebih kuat menyatukan kami.

Diakhir cerita, Taro mempersembahkan kembang api buatannya yang didedikasikan untuk Hana. Begitu pula Hana, ternyata lewat temannya, ia menitipkan hadiah untuk kakanya dan kembang api dengan pendar jingga. Hangat dan menentramkan. Part ini bener-bener mengharukan. Meleeerr~

Heartwarming movie memang selalu membuat mata sembab dan hidung berleleran.
Wuuahhh, oniichan kakoi!!

Selasa, 24 Juli 2012

You Were Born to be Loved

Rating:★★★★★
Category:Music
Genre: Pop
Artist:Bada (바다)
당신은 사랑받기 위해 태어난 사람

Kamu lahir untuk dicintai. Mendengar lagu ini saya teringat paper yang sedang saya tulis mengenai anak yang terlantar. Saya teringat pasien kasus neurosis atau psikosis yang tak mampu menjadi manusia seutuhnya.

Banyak manusia yang tak mampu mencintai karena memang tak pernah dicintai sepantasnya. Semua manusia pantas dicintai karena manusia lahir memang untuk dicintai.

You are born to be loved
You are being loved in your life
You are born to be loved
You are being loved in your life

Through our meeting, God's love that has been from the beginning comes to bear fruits
How great is our joy because of you in this world

You are born to be loved
You are being loved now
You are born to be loved
You are being loved now

Anak mental retarded. Anak dengan disabilitas. Anak yang terlantar. Anak yang rendah diri karena merasa dirinya tak pantas dicinta. Sungguh, setiap kita pantas dicinta. Kamu juga.

You were born to be loved, so love others :)

NB: Saya meng-post lagu ini juga lho, klik di http://afauziah.multiply.com/music/item/20/You-Were-Born-to-be-Loved

Happy listening~

Kamis, 05 Juli 2012

Skripsweet 3: Lagi-lagi Skripsi :)

Sebulan sudah saya mogok mengerjakan skripsi. Bimbingan terakhir dengan dosen pembimbing saya lakukan tanggal 1 Juni 2012. Sekarang sudah menunjukkan tanggal 6 Juli 2012.

Saya berusaha memahami mengapa saya banyak menunda. Yang pertama, banyak agenda lain yang saya anggap lebih mendesak sehingga saya lebih mendahulukan agenda tersebut. Hal ini sama saja saya tidak memprioritaskan skripsi saya.

Kedua, skripsi adalah kerja akal. Bukan sejenis dengan pekerjaan rumah yang bisa dilakukan dalam mood apapun. Saya tetap bisa menyapu, mencuci baju, memasak meski dalam mood yang enggak banget. Akan tetapi, saya merasa bahwa skripsi tidak bisa dikerjakan dalam mood yang nggak karuan. Dimarahin Ibu, saya tidak bisa menulis skripsi. Ada masalah organisasi, mogok kepala saya memikirkan masalah moral identity dan school attachment (hahahaha, itu variabel skripsi saya).

Dalam satu bulan ini, saya merenung. Saya memang harus memprioritaskan skripsi saya dibanding dimarahin Ibu, dicuekin adik, atau rumah yang berantakan. *parah! :p

Mood baik itu harus dibangun bukan dibiarkan terwarnai oleh lingkungan. Bukan begitu?
Ayo kejar OKTOBER!!!! SEMANGAT!

Jumat, 29 Juni 2012

Adakah yang Menangis saat Saya Mati Nanti?

Kapan kamu mati?
Seseorang dengan wajah teduh bertanya pada saya
Sore itu, saat adzan asar bergema dengan merdu
Hari hampir habis
Mungkin beberapa waktu lagi akan mati

Saya tercengang, 
Berpikir tapi tak tahu apa yang harus saya pikir
Entah,
singkat dengan sedikit ragu saya menjawab

Jalanan sore itu berdebu
Saya terbatuk, dahak berkumpul di tenggorokan
Meludah
Ah, mungkin suatu saat saya akan meludahkan nyawa

Wajah teduh itu tetap memandangi saya,
Saya rasa
Saya membuang muka
Menunggu waktu asar habis berganti maghrib

Mungkin besok saya mati
Saya berlenggang
Sampai jumpa di hari kiamat nanti, Hari

Selasa, 26 Juni 2012

Sedang Butuh Ditampar!

Beberapa minggu terakhir ini adalah episode terlemah saya. Jika gangguan bipolar memiliki episode-episode manic-depresif, sepertinya saya sedang berada dalam episode depresif. Saya berada di titik nadir!

Pertanda futur itu ada dua. Kondisi jiwa yang memburuk atau stagnan, tidak berusaha meningkat dan tidak mengalami kemunduran. Akan tetapi bukankah setiap yang tidak berkembang sama saja dengan mundur?

Berada di titik nadir berarti saya berusaha menjadikan diri saya, baik lahir ataupun batin, berada seaman-amannya dalam comfort zone, zona teraman bagi ego saya. Saya malas keluar rumah. Saya malas bangkit dari kasur. Bahkan jika memungkinkan saya akan selamanya tidur *sayangnya itu tidak mungkin.

Mengamankan ego dengan berada di zona aman sama dengan melarikan diri dari realitas. Karena bagi saya, terutama saat ini, realitas yang terjadi adalah keadaan yang mengancam. Mengancam kedirian saya, mengancam ego saya, dan membuat diri saya berkubang dalam kecemasan. Satu-satunya cara adalah melarikan diri dari realitas. Yaaahhh.. dengan membangun perisai mekanisme diri yang tebal dan berlapis.

Saya membaca buku motivasi. Saya membaca novel. Saya menonton film. Saya tidur. Itulah upaya melarikan diri dari realitas yang mengancam. Menurut hemat saya, pelarian diri yang paling aman adalah tidur. Bukankah dengan tidur, kita membuat mimpi-mimpi sendiri. Semacam limbo mungkin..

Sayangnya, melarikan diri terus-menerus itu justru menyakitkan. Bukan menjadikan diri saya aman. Saya muak dengan pelarian diri saya. Saya menghindari telpon dan pesan yang menyakitkan. Saya menghindari info lomba yang biasanya saya nantikan. Saya bahkan merasa phobia campus. Saya amat sangat malas mendatangi kampus karena disitulah realitas menyakitkan itu terjadi (Bluntly speaking, skripsi just made me mad :)

Saya menyadari bahwa pelarian diri hanyalah menghindari kesakitan kecil tetapi menyongsong kesakitan yang mahabesar. Kesakitan dan kemalasan saya adalah tanda ketidakcintaan saya terhadap diri saya. Saya tidak cinta diri saya. Saya membiarkan diri saya terpuruk padahal saya tahu saya harus bangkit. Saya membiarkan diri saya melepaskan kesempatan padahal saya sadar bahwa kesempatan itu tak mungkin kembali. Saya membiarkan diri saya malas padahal untuk menggapai mimpi-mimpi, saya harus bekerja keras. Saya tidak mencintai diri saya sehingga saya menjadikan diri saya menuju jurang kegagalan.

Saya butuh segera diingatkan. Dibangunkan. Disadarkan. Bahkan ditampar jika kognitif saya tidak juga menggerakkan.

Saya rasa saya memang butuh ditampar, ditendang, atau mungkin dijatuhkan dari gedung tertinggi agar segera sadar bahwa saya harus segera, lebih mencintai diri saya sendiri!

Minggu, 03 Juni 2012

Ingin Menangis

Ibu, mengapa menangis?
Karena Ibu bahagia anakku..
Bukankah menangis itu karena sedih
Kalau berbahagia, mengapa itu tidak tertawa

Dialog itu sudah puluhan kali terdengar
Tetapi mengapa jua saya tak mengerti
Menangis karena haru
Menangis karena bahagia
Menangis karena tersentuh

Asap jalanan pagi ini terlalu pekat
Karenanya saya menangis
Bukankah menitikkan air mata itu menangis?

Drama malam ini menyedihkan
Ayahnya meninggal
Ibunya pergi
Sendiri itu mengenaskan
Dan menangislah saya

Saya terjatuh dari motor
Lecet dan tergores di kaki saya
Karenanya saya menangis, sakit

Kursor komputer berdetik satu-satu
Pagi ini Ibu pergi, tak kembali
Siang tadi adik menjerit
Esok tumpukkan tugas ini harus selesai

Saya tak menangis
Saya tak tertawa
Karena sesungguhnya
Saya tak merasakan apapun 

Rabu, 30 Mei 2012

Dipaksa Memilih atau Memilih Keterpaksaan

'Apakah skeptis dan apatis sama?' Seorang teman bertanya pada saya. Sebentar saya berpikir, kemudian saya menjawab dengan sedikit keraguan. 'Mirip. Skeptis itu cenderung menutup diri dari pendapat orang lain dan apatis itu masa bodoh atau tidak mau peduli'. Ternyata teman saya sedang bimbang. Dia berpikir bahwa sikapnya tidak selalu meng-iya-kan pendapat orang lain itu masuk dalam bentuk skeptis. 'Tidak mudah percaya', begitu katanya.

Menurut saya, sikap skeptis itu bukan sikap kritis. Skeptis itu tidak mau mendengar pendapat orang sedang kritis itu mendengar pendapat orang tetapi meminta pertanggungjawaban atau pendapat tersebut. Jawaban itu benar-benar pendapat saya saja, bisa dikatakan subjektivitas saya. Saya pun bukan orang yang mudah menerima pendapat orang lain. Okelah jika mendengarkan pendapat orang lain, toh saya suka berdiskusi. Bukankah dalam diskusi, mendengar pendapat orang lain itu mutlak hukumnya? Beda kasus dengan debat kusir, lho :p

Saya memahami pendapat orang lain sebagai sekumpulan pilihan. Orang lain memberikan pilihan pendapat atau sikap sesuai dengan pemahamannya, memberikan alasan mengapa pendapat itu perlu dipilih. Akan tetapi, orang lain tidak punya hak sedikitpun untuk memaksa pendapatnya untuk diterima bukan? Namanya juga pilihan, berarti bisa dipilih, juga bisa ditolak. Saran itu masukan. Masukan itu pilihan. Bukan kewajiban. Bukan keharusan. Berarti tidak etis jika didalamnya ada pemaksaan. Bukan begitu?

Kekritisan dan keinginan bertanya adalah sebuah dorongan yang alamiah (need yang dimiliki manusia). Fitrah. Dan saya berusaha mengembangkan fitrah tersebut :D
Jadi, saya hidup dan berkembang menjadi orang yang kebanyakan tanya, kebanyakan alasan, kebanyakan nge-les, dan kebanyakan ngeyel. Kata Bapak saya, saya itu warok. Kata Ibu saya, saya itu kepinteran. Hahahaha. Saya terima keduanya dengan senang hati dan bahagia.

Mandi dua kali sehari, saya pertanyakan. Makan tiga kali sehari, saya kritisi. Bahkan tidur yang katanya bagusnya 8 jam pun saya perdebatkan. Kalau bisa 4 jam, kenapa harus 8 jam? Anhe-aneh saja. Tapi begitu lah saya.

Jadi, jangan kaget jika semua hal saya pertanyakan kelayakannya untuk saya lakukan. Mengerjakan tugas kuliah. Datang ke kampus 15 menit sebelum kuliah mulai. Ataupun berorganisasi, bagi saya membutuhkan alasan, motif, dan kemanfaatannya. Jika saya mendapatkan jawaban yang bisa dipertanggungjawabkan, akan saya lakukan. Jika tidak, jangan harap saya lakukan. Kalaupun saya lakukan, itu hanya coba-coba. Tak lebih.

Orang lain berkata, tidak semua hal bisa dipilih. Ada hal yang tidak memiliki alasan. Ada hal yang menjadi keterpaksaan dan harus dilakukan. Bagi saya tidak! Semua hal bisa memilih.

Hidup, bisa memilih mati. BerIslam, bisa memilih kafir. Kerkungkung, bisa memilih membebaskan diri. Kapitalis, bisa memilih sosialis. Semua pasti ada pilihan, seburuk apapun pilihan itu. PSK melacurkan diri pun adalah pilihan. Toh, sebenarnya bisa memilih sebagai pengemis, pengamin, perampok, ataupun pedagang asongan. Mahasiswa pun memilih. Memilih tabah dalam belajar, pindah jurusan atau universitas, drop out, atau asal-asalan dalam belajar.

Saya yakin bahwa hidup itu pilihan. Kita pasti memilih. Jadi tidak ada kata 'netral'. Netral sebenarnya memilih membuat pilihan sendiri. Pluralisme pun memilih. Memilih meniadakan pilihan lain dan memilih prinsipnya sendiri. Bohong jika tidak memilih.

Sayangnya, sering dari kita merasa tidak memiliki pilihan sehingga merasa terjebak. Merasa tidak bisa bergerak. Merasa berhenti dan berusaha merelakan diri bahwa memang inilah seharusnya. Bodoh! Itu salah kaprah. Orang lain memaksa bukan berarti kita harus terpaksa bukan? Diri kita sendiri yang membuat keterpaksaan itu ada dan kesempatan untuk memilih itu hilang. Kita yang membuat diri kita sendiri terjebak pada ketiadaan pilihan. Kita yang menghilangkan option-option lain sehingga kita tidak mampu memilih.

Jangan-jangan kita sendirilah yang memilih keterpaksaan. Alih-alih dipaksa, sebenarnya menjalani keterpaksaan itu hanya sebagai pendamai diri dari konflik ego yang terjadi. Bukan kah, itu sama saja dengan putus asa?

*Tulisan ini mutlak pendapat saya dan opini saya. Tidak ada unsur untuk memaksa pendapat ini masuk kedalam pemahaman anda. Apakah ada yang menolak pernyataan saya? Mari berdiskusi dan menemukan kebenarannya :)

Minggu, 27 Mei 2012

Jatuh Hati

Apa yang membuatmu jatuh hati? Saya jatuh hati pada sesuatu hal yang menarik dan bermakna. Saya jatuh hati pada novel jika ceritanya berdetak dan berdenyut kencang, entah itu membuat saya menahan nafas saat menghayatinya atau malah meneteskan hingga menangis tersedu-sedu.

Saya jatuh hati pada sebuah lagu jika saya terpikat pada arti lagu tersebut. Terserah jika suara penyanyinya serak, beda tipis dengan suara saya yang cempreng. Terserah jika melodinya aneh atau nggak terlalu easy listening. Terserah kalau penyanyi nggak terkenal. Yang penting arti lagu itu menancap di hati saya dan membuat saya berkata 'akuu bangeet'.

Saya jatuh hati pada sinema ataupun film jika tema ceritanya membuat saya menangis parah ataupun tercengang. Film dengan genre human, family yang membuat saya tersedak dengan air mata. Film perang dan historical yang membuat saya tercengang. Ataupun film detektif dan medis yang membuat akal saya berlari lebih cepat.

Saya jatuh hati pada psikologi. Membuat saya terhanyut membaca beberapa buku populernya. Membuat saya berkerut dan kecanduan buku diktatnya. Membuat saya meruntuhkan sedikit keegoan dan self-centre saya untuk lebih peka dan peduli pada orang lain.

Saya jatuh hati pada Islam. Menangis membaca sirah-sirahnya. Tertegun dan terhanyut dengan ajarannya. Tergila-gila dengan Pencipta. Saya terjerat. Saya budak. Dan saya tak berusaha sedikitpun untuk melepaskan diri. Justru semakin terasa bahwa sudah seharusnya saya tunduk dan menghamba.

Saya jatuh hati. Dan saya yakin kamu pun juga.
kimi ga kono uta wo aishite kureru 

happines is living your life proudly while facing the sun -gokusen

Minggu, 20 Mei 2012

Memahami Budaya lewat Sastra

Saya suka sastra meskipun saya bukanlah orang yang nyastra dan berbakat seni, apalagi bikin cerita fiksi. Saya paling menikmati cerita berbau historical, sejarah, ataupun yang kental dengan budaya. Bagi saya, membaca novel sejarah layaknya membaca budaya sebuah daerah.

Mungkin ini mutlak ke-sotoy-an saya dalam memahami sastra. Sastra bagi saya, sama dengan memaknai kultur, budaya, kebiasaan, bahkan karakter masyarakat masa itu. Seperti melongok pada jendela waktu dan sejarah. Sangat menyenangkan dan mengesankan.

Pertama kali saya membaca novel sejarah adalah saat SMA. Selain karena perpustakaan sekolah isinya buku-buku kuno dan jadul, tak ada pilihan lain selain membaca novel-novel itu. Ronggeng Dukuh Paruk, Para Priyayi dan Jalan Menikung, Dibawah Lindungan Ka'bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dan masih banyak lagi. Saya jatuh cinta.

Menurut saya, banyak aspek budaya yang tampak dari karya sastra. Saya membaca Eropa dari Les Miserables-nya Victor Hugo. Eropa dengan konflik politik ala Prancisnya, rumah-rumah dan jalan-jalannya, bahkan pertentangan nilai dan norma di dalamnya. Saya membaca Rusia dari Pertengkaran (judul aslinya apaan yaa.. :) karya Nikolai Gogol. Kocak dengan deskripsi yang sepanjang jalan kenangan. Karakter orang Rusia masa itu yang serta merta suka memperkarakan hal sepele.

Saya membaca Jepang dengan Musashi karya Eiji Yoshikawa di zaman pergolakan menuju Meiji. Betapa perjuangan seorang samurai dalam menempa diri. Betapa murahnya nyawa karena pertarungan. Saya berusaha memahami Jepang dengan Kappa dari Ryonosuke Akutagawa ataupun Botchan karya Natsume Soseki. Satir-satir yang dilontarkan. Falsafah dan filosofi hidup yang dipegang. Bahkan gaya cerita yang berbeda dengan karya sastra lain. Karya sastra jepang -dari beberapa novel lampau yang saya baca- cenderung tidak memiliki klimaks yang runcing dan tunggal. Klimaksnya ganda dan banyak. Muncul masalah kecil, diselesaikan, masalah lain, diselesaikan kembali. Bukan gaya cerita macam Nikolai Gogol ataupun HAMKA. Benar-benar cerita gaya Jepang. Joke-joke satirnya pun sangat khas. Keren!

Saya membaca Etiopia dari Bayang-bayang Hitam karya Najib Kailani. Bagaimana pemerintahan yang dibayang-bayangi persengkongkolan mengerikan.

Saya membaca Indonesia dan kepriyayiannya dari novel karya Umar Kayam. Bagaimana ngenger terjadi. Ungah-ungguh yang dilakukan. Bahkan hingga nasi pecel yang jadi tradisi sarapan pagi. Saya belajar kisah Kiai Indonesia dari Dibawah Lindungan Ka'bah-nya HAMKA atau Runtuhnya Surau kami karya AA Navis. Pergolakan agama, budaya, dan sosial yang terjalin.

Saya suka sekali novel-novel sejarah. Apalagi novel tua yang ditulis dijamannya. Wuaahhh.. Jadi pingin baca lebih banyak lagi buku. Karya Naguib Mahfoudz, Anton Chekov, Leo Tolstoy, dan banyak lagi. 

Mari membaca. Mari memahami sejarah dan ribuan hikmah yang terjalin didalamnya :)

Senin, 07 Mei 2012

RISET: Egoisme atau Optimalisasi?

Lagi-lagi saya teringat esai yang pernah saya buat. Saya pikir, pasti akan menarik mendengar pendapat orang lain mengenai opini saya mengenai urusan ini.

So, I present you this essay :) Esai ini saya tulis sebagai syarat masuk sebagai pengurus BEM KM Undip periode 2012. Meskipun saya bukanlah anak BEM (Saya nggak pernah tertarik masuk BEM, sekarang kok masuk *lho?), tetapi karena BEM bagian masih ada bau-bau risetnya, maka okelahh :DD

***

RISET: EGOISME ATAU OPTIMALISASI?

Sebagai negara berkembang yang mendedikasikan diri sebagai negeri yang mencerdaskan bangsanya, Indonesia memiliki 121 Perguruan Tinggi Negeri belum lagi Perguruan Tinggi Swasta yang jumlahnya bisa mencapai empat kali lipatnya. Perguruan Tinggi hadir di Indonesia sejak tahun 1800an hampir seratus tahun sebelum negara ini merdeka. Lucunya, hingga usia lansia ini, Indonesia masih saja memiliki banyak masalah dengan pendidikan dan manusia-manusia hasil didikannya.

Sudah banyak mahasiswa yang menghujat kinerja DPR yang seenaknya dan meminta milyaran dana hanya untuk WC, sudah menjadi hal yang etis bahwa mahasiswa pun juga seharusnya melihat cermin diri atas kebobrokannya sendiri. Universitas Diponegoro telah berdiri hampir 55 tahun dan telah memiliki banyak prestasi dengan lintas ilmu. Sayangnya, potensi ini tidak tampak secara nyata dewasa ini. Mengapa? Bisa jadi ini karena kesalahan treatment atau bahkan kesalahan pemberdayaan potensi. Bisa jadi pula ini kesalahan Kementerian Riset.
  
Kementerian Riset salah. Jika parameter yang terukur hanya satu sisi. Jika muncul kesenjangan sosial tercipta antar fakultas. Jika iklim akademik yang awalnya ada kemudian pudar. Jika banyak mahasiswa yang merasa didzholimi karena cara mereka berprestasi yang unik. Bukankah setiap karakter memunculkan cara pandang yang berbeda?

Anak TK berprestasi jika berani maju ke depan atau bergaul dengan teman. Marketer dikatakan berprestasi ketika berhasil berkenalan dengan banyak orang dan menawarkan. Psikolog dikatakan berprestasi ketika mampu berempati dan berepokhe dengan benar. Lalu mengapa setiap fakultas yang bidangnya berbeda, wadah aktualisasinya berbeda, bahkan tipikal individunya berbeda harus disamaratakan dengan mengukur prestasinya berdasarkan proposal kegiatan mahasiswanya?

Hukum yang harus memiliki kompetensi lobi yang hebat. Ekonomi yang handal mengatur dan mengaudit keuangan. Teknik yang berinovasi. Psikologi yang menciptakan sistem-sistem manusia. Semuanya tidak bisa diukur samarata samarasa seperti sosialis. Semuanya harus dioptimalisasikan dengan caranya. Mengukur kertas dan jalan dengan alat yang berbeda bukan?

Jika ingin semua berprestasi berarti dekati dengan bagaimana seharusnya didekati. Ini berarti fokus lingkar riset bukanlah menghitung berapa banyak proposal melainkan bagaimana kualitas akademik tiap kampus. Ini berarti lingkar riset tidak menghitung banyaknya proposal PKMK di Fakultas Hukum, jangan-jangan mereka malah memperjualbelikan hukum, tetapi memantau berapa kuantitas simulasi sidang yang mereka lakukan. Inilah yang menjadikan riset berjalan secara beriringan dan dinamis. Tidak egois dan individual.

Konyol ketika memaksakan mengukur banyaknya PKMK di Hukum ataupun Akuntansi. Sama konyolnya meminta anak menjual barang yang seharusnya disedekahkan, menyuruh potensi terkubur dan memunculkan kedzoliman baru. Memaksakan berarti egois. Memaksakan berarti malas memikirkan alat yang sesuai. Memaksakan berarti menutup potensi, menyuburkan pemberontakan. Kementerian Riset memilih jalan yang mana?

[] Amalia Fauziah. 16 Januari 2012. 21:55

Sabtu, 05 Mei 2012

Benarkah Ini Milik Saya?

Saya benci kata galau. Apalagi jika disematkan pada diri saya. Ada yang menyamakan galau dengan gelisah dan resah. Ada yang menyamakan galau dengan krisis dalam fase pencapaian identitas. Padahal galau dengan gelisah dan resah itu beda!

Galau, menurut KBBI, adalah kondisi pikiran yang kacau, tidak menentu. Sedangkan gelisah adalah perasaan khawatir, tidak tenang, dan penuh kecemasan. Resah adalah kegelisahan yang sangat. Nah loo.. bedakan!

Galau, bagi saya, berkonotasi negatif yang kesannya saya masih berada dalam fase krisis identitas, ababil (abege labil), dan alay. Padahal, kondisi saya sekarang adalah resah! Saya khawatir sangat, saya gelisah sangat, saya cemas sangat karena beberapa persoalan berputar di kepala saya dan terlalu rumit untuk diselesaikan tanpa menyakiti siapapun.

Saya resah tingkat dewa. Berarti saya gelisah gelisah gelisah gelisah sangaat gelisah. Saya sepenuhnya sadar bahwa kehidupan yang saya jalani saat ini bukan sepenuhnya milik saya. Ketika saya berpakaian, menimbulkan efek sosial. Entah pencitraan Islam, pencitraan saya sebagai pribadi, ataupun pencitraan sekolah yang menaungi saya. Ketika saya bicara, pendapat saya mempengaruhi pendapat orang lain dan bisa saja mempengaruhi pengambilan keputusan orang lain.

Saya sepenuhnya sadar bahwa inilah mengapa manusia itu makhluk sosial. Bukan hanya karena ia dipengaruhi oleh keadaan sekitarnya melainkan juga karena pengaruh yang ia dapatkan dilingkungan membuat dirinya mempengaruhi lingkungan pula (bingung kan? saya pun juga bingung -,-?)

Huaahhh!! Saya benar-benar resah!
Sering kali pilihan-pilihan kehidupan yang saya buat sekarang dipengaruhi orang lain bahkan tak jarang justru kehidupan saya didesain oleh orang lain. Saya ingin menolak tetapi kesadaran saya akan beragam hal itu membuat saya menerimanya. Bukankah berpikir logis dan rasional itu justru lebih baik?

Sayangnya terkadang saya menyesali keputusan-keputusan tersebut dan lagi-lagi rasio saya menguatkan pilihan tersebut. Ego saya kalah telak :(
Pernah saya dengar seorang teman berkata "Seharusnya orang itu bisa memprioritaskan kegiatan dan kebutuhan". Saya terhenyak dan berpikir, prioritas menurut siapa? Bukankah yang membuat pilihan-pilihan prioritas kehidupan adalah orang yang menjalaninya?

Pilihan prioritas saya dengan orang lain berbeda. Saya beranggapan skripsi adalah hal yang lebih prioritas dibanding rapat (ada yang menolak?). Saya beranggapan kegiatan call for paper lebih penting daripada kajian (orang lain beranggapan berbeda, boleh kan?). Saya beranggapan mengurus adik dan mengantarnya mengaji lebih penting daripada saya berkumpul dengan teman. Prioritas kehidupan dan kegiatan orang dengan yang lain sah-sah saja berbeda. Bukankah target kehidupan kehidupan setiap orang berbeda?

Perbedaan prioritas adalah sebuah keniscayaan. Memang, ketika semuanya nafsi-nafsi, tujuan bersama bisa kacau dan hancur total. Akan tetapi, bukankah ada lisan yang bisa menyambungkan ribuan prioritas. Bukankah ada komunikasi yang bisa menyelaraskan semuanya.

Apakah tulisan ini seperti curcol. Saya yakinkan, bukan! Tulisan ini bukan curcol tetapi murni 100% curhat! :DD

Bisakah kiranya masing-masing menurunkan ego dan emosi untuk kemaslahatan bersama. Bolehlah mengintervensi target-target kehidupan orang lain tetapi bukankah lebih baik dengan ketuk pintu dan bicara sepantasnyaa.. Iya kan?

Jadi, bolehkah jika saya membuat prioritas-prioritas sendiri. Bolehkah saya mencapai target-target kehidupan saya sendiri. Bolehkah saya mengklaim bahwa kehidupan saya ini benar milik saya?

Minggu, 29 April 2012

Idola: Bentuk lain dari Pengkultusan?

Tiga hari terakhir ini ditambah dengan minggu-minggu bahkan hingga hitungan bulan, di televisi, mulai dari iklan, gosip, acara musik, hingga berita lagi ribut ngomongin hallyu (itu lho korean wave :). Lebih-lebih karena barusan saja Super Junior ngadain SS4 (Super SHow 4) - wah, aku tau juga yaa.. ya iyalah :D

Bisa dibilang ini artikel pembelaan, rasionalisasi, atau sekedar katarsis karena saya tidak mampu bicara soal masalah ini. Saya suka Super Junior. Bener! Saya tahu album pertama hingga kelimanya. Mulai dari personilnya masih 12, kemudian jadi 13, hingga sekarang tinggal 10 member yang masih aktif. 1 masih wajib militer, 1 baru saja keluar dari wajib militer, dan yang 1 lagi 'katanya' fokus dengan akting tetapi saya malah nggak pernah denger lagi syuting film apa. Mau bukti? Saya bahkan ngepos satu lagunya di artikel saya, ini nihh..

Tapi, sueerr!!! Saya nggak sampai nangis-nangis pingin liat konsernya, nungguin kapan manggung, ngumpulin merchandise, dan lain sebagainya yang berbau ababil atau abege galau. Lho wong, saya saja nggak tertarik nonton konsernya. Saya cukup senang dengan mendengarkan mp3 lagu balladnya berputar di komputer dan hape saya :D

Sampai saat ini, saya tidak habis pikir kenapa mereka, yang baru saja tahu super junior, sudah sangat tergila-gila, terbius, bahkan mendewakan mereka. Mengatakan ganteng banget (-,-?), mengatakan segala kebaikan dan kehebatan para personilnya hingga menjadikan mereka prioritas serta objek rasionalisasi.

Ini murni ke-sotoy-an saya untuk menuliskan ini. Kalaupun elf (everlasting friends - fansnya super junior) sampai guling-guling, nangis enjot-enjotan, dorong-dorongan sampai pingsan waktu beli tiket konser, emangnya para personil super junior bakal ngapain? segila-gilanya fans menyembah apakah ada efeknya pada idolanya??

Fenomena ini membuat saya teringat pada kisah Sunan Muria *lho?
Sunan Muria adalah satu dari wali songo yang kemudian berdakwah di daerah Muria (Gunung Muria, Kudus). Di akhir kehidupannya, Beliau membakar pesantren dan masjidnya :0 Why? Sunan Muria yang waspada akan terjadi syirik yang kemungkinan akan muncul ketika Beliau membiarkan pesantrennya tetap ada. Sayangnya, tembikar wadah air yang tersisa, tetap saja menjadi sarana masyarakat untuk ber-syirik ria. Hmfhh.. sedihnyaa :(

Menurut Nietzsche, manusia selalu menginginkan sosok super atau Superman (Übermensch) yang serba wow untuk menjadi tempat mereka mengiba. Ada fenomena berhala yang merupakan patung orang-orang bijak, ada fenomena ratu adil, bahkan fenomena artis dan idola. Sama yang terjadi pada super junior.

Kebutuhan untuk mengidolakan, kebutuhan akan figur, kebutuhan akan sosok yang lebih dan wow, menjadi sandaran. Entah sebagai role model yang sebenarnya, bentuk lain dari kecintaan pada diri sendiri, atau sarana mencari comfort zone. Saya juga tidak bisa mengerti.

Saya merasa kasihan pada Super Junior, Artis yang didewakan, Sunan Muria, Para Shalafus Sholeh, bahkan pada Nabi Muhammad SAW. Apakah mereka memang menginginkan dan mengharapkan pengkultusan??

Ya Allah, memang hanya Engkau yang seharusnya kami dewakan dan muliakan.. []

Kamis, 26 April 2012

Seberapa Sholeh Dirimu?


Siang tadi, di pelataran mushola, saya beserta dua teman duduk menunggu teman lain untuk melaksanakan rapat rutin. Alih-alih rapat, kami bertiga mengobrol ngalor-ngidul hingga bahasan nyerempet parah ke masalah pernikahan. Nggak enaknya, saya yang jadi korban :(

Saya yang masih muda dan imut-imut ini (wkwkwk) belum cukup umur(-,-') untuk ngomongin hal ini jadi serba salah. Sampai pada sebuah kriteria kesolehan pasangan. Temen saya kontan bertanya, "Sholeh yang kayak apa? Hapal berapa juz?". Hmhmmhh, saya terhenyak, iya juga yaa.. harus seberapa sholeh suami saya kelak? Pasangan itu cermin diri kita. Wanita baik akan berjodoh dengan pria baik. Pria baik akan berpasangan dengan wanita baik. Jadi, suami saya kelak akan sebaik saya saat ini. Sayangnyaa, saya belum cukup baik untuk dapat suami yang baik :'(

Sholeh, bagi saya adalah sebuah konstrak yang sulit diukur kuantitatif karena pada dasarnya elemen ini kualitatif. Layaknya berusaha mengukur moral identity ataupun attachment yang terbentuk antara Ibu dan anak. Semua hal itu konstrak yang abstrak dan kualitatif. Akan tetapi, tetap memungkinkan untuk diukur secara kuantitatif tetap ada hanya saja alat ukurnya harus valid dan reliabel. Alih-alih mengukur kesholehan, jangan-jangan malah mengukur yang lain.

Bagi saya, mendefinisikan kesholehan tidak hanya sekadar dari sisi ritual ibadahnya. Berapa banyak hapalannya, berapa panjang dzikirnya, berapa kali khatam dalam sahari, ataupun kekuatannya untuk berdiri di malam hari (qiyamul lail :). Bukankah ritual hanyalah sekelumit dari kesholehan seseorang. Bagaimana jika kesholehan itu tampak dari idealisme, etika, ataupun kinerjanya dalam masyarakat?

Kesholehan itu terbagi dua. Kesholehan pribadi dan kesholehan sosial. Se-sotoy-nya saya, kesholehan pribadi itu dilihat dari ketundukkan pribadinya kepada Allah. Baik dari masalah hati, ritual, ibadah, yang muaranya pada kemanfaatan pribadinya. Kesholehan sosial itu dilihat dari ketundukkan kepada Allah dari aspek interaksinya dengan masyarakat dan orang lain. Bagaimana beretika, berbicara, mempertahankan idealisme, dan bekerja bagi masyarakat. Bohong jika kesholehan itu terpisah. Sholeh pribadi yaa harusnya secara otomatis sholeh sosial, begitu juga sebaliknya. Toh, namanya tunduk kepada Allah itu kaaffah, dari ujung rambut sampai kuku kaki, dari sel paling sederhana sampai kinerja sistem organ yang kompleks tingkat dewa.

Nah loo! Maka, bagi saya, kesholehan ini terlalu kompleks konstrak untuk dibikin skalanya dan kita ukur validitas dan reliabilitasnya. Bukankah yang Maha Mengadili itu Allah? Bagaimana jika berhusnudzon dan berpositive thinking saja pada kesholehan orang lain?

Duuhh, saya jadi deg-degan, jangan-jangan saya belum sholeh pribadi dan sosial. Gawaat!!!

8:59 PM 4/26/2012

Sabtu, 24 Maret 2012

I Trust to You

Saya menemukan tulisan ini dalam folder campur-aduk yang belum terstortir dalam perihal-perihal tertentu. Saya baca sekilas, memperbaiki beberapa kata, dan mungkin terlalu eman-eman kalau tulisan ini saya delete. Tulisan ini saya tulis satu tahun yang lalu, 26 Februari 2011.

Happy reading.. :)

***
I Trust to You

Apakah kamu pernah mempercayai atau mendapatkan kepercayaan? Bagi saya, kepercayaan, mempercayai, dan dipercaya adalah hal yang sangat agung dan mewah. Jika harus dianalogikan, kepercayaan bagaikan berlian diantara logam mulia lainnya. Kepercayaan bukan sekadar emas atau platina melainkan berlian yang berkilau dan indah. Mahal dan mewah. Apakah pernyataan tadi terlalu subjektif? Baik, akan saya interpretasikan menjadi lebih objektif. Kepercayaan berasal dari asal kata percaya yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti  yakin benar atau memastikan akan kemampuan atau kelebihan seseorang atau sesuatu (bahwa akan dapat memenuhi harapannya dsb). Ini berarti ketika kamu mendapatkan kepercayaan, orang tersebut yakin benar bahwa dirimu dan kemampuanmu mampu memenuhi harapannya. 

Jika dilihat dari pendekatan Erik H. Erikson, seorang psikolog Psikoanalisa, kepercayaan atau dalam bahasa inggrisnya, trust menempati tahap yang paling awal dalam perkembangan manusia. Basic trust –Erikson membahasakannya – menjadi dasar terbentuknya manusia yang utuh dan sehat. Manusia tanpa basic trust akan mengalami kesulitan dalam menghadapi tahap perkembangan hidup selanjutnya. Mereka akan sulit merasa aman karena tidak percaya pada significant othersnya, takut untuk bergaul karena tak percaya pada teman dan lingkungannya, yang pada akhirnya akan sangat kesulitan dalam berkembang dan mengembangkan potensinya. Saya yakin anda pun mungkin tak bisa membayangkan kehidupan tanpa secuil pun rasa percaya. Ini berarti, percaya dan kepercayaan bisa dikatakan juga sebagai hal yang paling penting, wajib, dasar, atau bahkan primer dalam kehidupan manusia. Manusia tanpa rasa percaya tak mungkin jadi manusia.

Manusia yang dewasa dan bijak adalah manusia yang bisa mempercayai orang lain. Semakin ia mempercayai orang lain semakin dewasa dan bijak ia. Nah, masalahnya –tentu saja ada sebuah masalah yang menjadikan saya menulis tulisan ini– adalah penanaman kepercayaan tidaklah semudah mengerjapkan kelopak mata. Banyak orang yang merasa takut untuk mempercayai dan menaruh kepercayaan. Hal ini bisa muncul karena banyak hal, bisa karena tidak menemukan orang yang tepat untuk dipercayai, takut kepercayaan itu tidak dijaga, takut hasilnya tidak memuaskan, atau bahkan tidak yakin bahwa ada orang yang pantas untuk menerima kepercayaan. Yang sebenarnya, berpusat pada diri pemberi kepercayaan mengenai kepercayaan itu sendiri.

Saya rasa, proses pemberian kepercayaan bukan sesimpel teorinya, sangat bergantung pada apa yang akan dilimpahkan dan pada siapa pelimpahan kepercayaan itu dilakukan. Levelisasi kepercayaan pasti dilakukan oleh setiap orang, entah melihat kondisi yang terjadi atau sekadar melindungi diri layaknya defense mechanism.
 
Ada hal yang bisa dikatakan dengan mudah, sedang-sedang, cukup rahasia sehingga hanya dipercayakan pada dua atau tiga orang saja, bahkan sangat rahasia yang menjadi hal pribadi yang tak dipercayakan pada siapapun. Levelisasi juga bisa dilakukan melihat pada kemampuan orang yang diberi kepercayaan untuk menjaganya. Seperti pelimpahan tanggung jawab kepada orang kepercayaan yang memang memiliki kapabilitas yang terjamin. Sebuah levelisasi kepercayaan adalah sebuah kewajaran.

Akan tetapi, sering kali, kita sebagai manusia mengalami kesalahan prediksi dalam melakukan levelisasi kepercayaan. Kesalahan ini bisa terjadi pada aspek subjek pelaku atau objek yang dipercayakan. Saya, sebagai manusia yang bersikap amat manusiawi cenderung mudah mempercayai orang. Alasan kerennya, positive thinking. Namun sayangnya tidak semua yang dipercayakan memberikan hasil yang baik. Seperti berusaha mempercayai orang lain untuk melakukan beberapa tanggung jawab namun hasilnya buruk. Atau bahkan saya berusaha mempercayai orang bahwa ketika orang lain meminta bantuan saya berarti mereka benar-benar memerlukan bantuan.

Saat orang lain meminta bantuan, berusaha saya penuhi. Delegasi tugas, saya jalankan. Kesalahan kerja, berusaha saya maklumi. Tidak bisa memikul tanggung jawab, saya bantu bahkan terkadang saya gantikan. Semua itu saya lakukan karena saya percaya bahwa orang lain memang layak dipercaya dan mereka memang amat dan super sibuk sehingga bantuan saya sangat dibutuhkan. Atau mungkin, yang saya lakukan adalah sebuah kebutuhan yang mendesak sehingga saya tidak punya alasan yang objektif untuk tidak menerimanya. Pada akhirnya semua itu menjadikan saya menjadi tipikal yes-woman. Always say yes for every takses.

Sayangnya kepercayaan itu, dikhianati. Praduga yang saya buat, saya upayakan untuk senantiasa positive thinking direnggut dengan jahat. Sejenak saya tidak percaya lagi tetapi akal saya berusaha memakluminya. Bukankah itu hanya human error saja?, begitu kata akal saya. Saya berusaha untuk mempercayai lagi. Berulang lagi. Saya bangun kepercayaan lagi. Hancur lagi. Bangun lagi. Berulang-ulang. 

Akan tetapi, saya kembali merenung, bukankah manusia takkan bisa hidup tanpa sebuah kepercayaan? Jika saya tidak bisa mempercayai berarti saya mati, atau paling tidak paranoid dan gila. Kacau! Saya tidak ingin itu. Saya ingin terus percaya tetapi perulangan itu membuat saya trauma cukup parah. Terjadi konflik motivasional yang cukup berat, saya berusaha keras untuk tetap percaya, sungguh! Rasionalisasi saja atau memang tak ada lagi yang cukup pantas dipercaya. Apa saya memang harus trauma, paranoid, dan jadi gila?[]

Senin, 19 Maret 2012

Psikologi: Makanan Macam Apa?

Menjadi hal yang sangat biasa ketika dirimu kuliah kemudian orang lain, entah tetanggamu, teman SMAmu, penumpang lain di angkot, atau petugas SPBU *lho?, bertanya 'kuliah dimana?'. Ketika pertanyaan itu saya jawab dengan 'Psikologi', muncul beberapa respon: (1) Mengangguk-angguk dan kembali bertanya 'Dimana (Universitas apa)?'; (2) Sedikit bingung, lalu bertanya 'Terus kerjanya dimana?'; dan (3) Melongo tetapi langsung mengangguk dan berkata 'Yang sering ngetest itu kan?' atau 'Ngurus orang gila?'

Kemudian yang mampu saya lakukan adalah terdiam dengan muka bingung. Saya terlalu bingung untuk menjawab. Kenapa? Karena (1) Saya pun masih bingung akan bekerja apa setelah lulus dan sangaat banyak lahan yang bisa diraih oleh ilmu Psikologi; (2) Memberi test hanyalah setitik pekerjaan lulusan psikologi dari sekian banyak pekerjaan yang mampu dilakukan lulusan psikologi; dan (3) Banyak pihak yang ikut terlibat dalam intervensi terhadap orang gila, ada psikolog klinis, psikiater, perawat, terapis, atau mungkin dokter spesialis neurologi. Sangat sulit untuk membuat penilaian bahwa yang terlibat hanya psikolog semata.

Psikologi adalah ilmu yang masih sangat awam dan jarang dipahami orang lain. Ibu saya saja tidak begitu paham dengan apa yang sedang dan akan saya lakukan dengan status saya sebagai akademisi psikologi.

Psikologi berasal dari psike dan logos. Psike berarti jiwa sedangkan logos adalah ilmu. Jika dikombinasikan maka Psikologi bermakna sebagai Ilmu Jiwa. Namun sayang seribu sayang, jiwa adalah hal yang abstrak dan maya. Hal tersebut menjadikan jiwa sulit diteliti, diukur, dikenai treatmen, dan dijadikan sebagai objek formal ataupun material dari sebuah ilmu. Kenapa? Karena ilmu terikat oleh aturan-aturan ilmiah yan berlaku pada ilmu lain seperti biologi, fisika, ataupun kimia.

Nah, dengan demikian jiwa haruslah terejawantahkan pada sesuatu hal yang dapat diteliti, diukur, ataupun dikenai treatmen sesuai kaidah-kaidah ilmiah. Perilaku adalah ejawantah dari jiwa. Oleh karena itu, Psikologi dipahami sebagai Ilmu Perilaku.

Akan tetapi jangan lupa bahwa perilaku itu tidak hanya sesuatu hal yang dapat kita lihat dan kita rasai saja. Terdapat dua jenis perilaku overt dan covert. Tampak dan tidak tampak. Perilaku tampak seperti berlari, berjalan, makan, minum. Perilaku tidak tampak adalah berpikir, melamun, menganalisa. Kedua perilaku tersebut diteliti dalam psikologi.

Jadi, Psikologi memperlajari perilaku manusia, mulai dari sebab perilaku, faktor yang mempengaruhi perilaku tersebut muncul, aspek yang memunculkan perilaku, dampak perilaku tersebut terhadap pelaku, dampak perilaku terhadap orang lain, dampak perilaku terhadap orang lain, dan masih buaanyaak lagi.

Psikologi dengan ilmu yang abstrak dan dinamis ini menjadikan akademisi psikologi haruslah update. Maksudnya, ilmu psikologi akan terus berkembang dan bisa jadi, teori yang sebelumnya diakui kebenarannya tidak lagi diakui bahkan digugat.

Psikologi bukan ilmu para tukang ngetest. Psikologi bukan ilmu ramal. Psikologi bukan ilmu dukun. Psikologi bukan ilmu abrakadabra. Psikologi itu ilmu yang validitas dan reliabilitas bisa diuji, oke?

Psikologi: Makanan Macam Apa?

Menjadi hal yang sangat biasa ketika dirimu kuliah kemudian orang lain, entah tetanggamu, teman SMAmu, penumpang lain di angkot, atau petugas SPBU *lho?, bertanya 'kuliah dimana?'. Ketika pertanyaan itu saya jawab dengan 'Psikologi', muncul beberapa respon: (1) Mengangguk-angguk dan kembali bertanya 'Dimana (Universitas apa)?'; (2) Sedikit bingung, lalu bertanya 'Terus kerjanya dimana?'; dan (3) Melongo tetapi langsung mengangguk dan berkata 'Yang sering ngetest itu kan?' atau 'Ngurus orang gila?'

Kemudian yang mampu saya lakukan adalah terdiam dengan muka bingung. Saya terlalu bingung untuk menjawab. Kenapa? Karena (1) Saya pun masih bingung akan bekerja apa setelah lulus dan sangaat banyak lahan yang bisa diraih oleh ilmu Psikologi; (2) Memberi test hanyalah setitik pekerjaan lulusan psikologi dari sekian banyak pekerjaan yang mampu dilakukan lulusan psikologi; dan (3) Banyak pihak yang ikut terlibat dalam intervensi terhadap orang gila, ada psikolog klinis, psikiater, perawat, terapis, atau mungkin dokter spesialis neurologi. Sangat sulit untuk membuat penilaian bahwa yang terlibat hanya psikolog semata.

Psikologi adalah ilmu yang masih sangat awam dan jarang dipahami orang lain. Ibu saya saja tidak begitu paham dengan apa yang sedang dan akan saya lakukan dengan status saya sebagai akademisi psikologi.

Psikologi berasal dari psike dan logos. Psike berarti jiwa sedangkan logos adalah ilmu. Jika dikombinasikan maka Psikologi bermakna sebagai Ilmu Jiwa. Namun sayang seribu sayang, jiwa adalah hal yang abstrak dan maya. Hal tersebut menjadikan jiwa sulit diteliti, diukur, dikenai treatmen, dan dijadikan sebagai objek formal ataupun material dari sebuah ilmu. Kenapa? Karena ilmu terikat oleh aturan-aturan ilmiah yan berlaku pada ilmu lain seperti biologi, fisika, ataupun kimia.

Nah, dengan demikian jiwa haruslah terejawantahkan pada sesuatu hal yang dapat diteliti, diukur, ataupun dikenai treatmen sesuai kaidah-kaidah ilmiah. Perilaku adalah ejawantah dari jiwa. Oleh karena itu, Psikologi dipahami sebagai Ilmu Perilaku.

Akan tetapi jangan lupa bahwa perilaku itu tidak hanya sesuatu hal yang dapat kita lihat dan kita rasai saja. Terdapat dua jenis perilaku overt dan covert. Tampak dan tidak tampak. Perilaku tampak seperti berlari, berjalan, makan, minum. Perilaku tidak tampak adalah berpikir, melamun, menganalisa. Kedua perilaku tersebut diteliti dalam psikologi.

Jadi, Psikologi memperlajari perilaku manusia, mulai dari sebab perilaku, faktor yang mempengaruhi perilaku tersebut muncul, aspek yang memunculkan perilaku, dampak perilaku tersebut terhadap pelaku, dampak perilaku terhadap orang lain, dampak perilaku terhadap orang lain, dan masih buaanyaak lagi.

Psikologi dengan ilmu yang abstrak dan dinamis ini menjadikan akademisi psikologi haruslah update. Maksudnya, ilmu psikologi akan terus berkembang dan bisa jadi, teori yang sebelumnya diakui kebenarannya tidak lagi diakui bahkan digugat.

Psikologi bukan ilmu para tukang ngetest. Psikologi bukan ilmu ramal. Psikologi bukan ilmu dukun. Psikologi bukan ilmu abrakadabra. Psikologi itu ilmu yang validitas dan reliabilitas bisa diuji, oke?

Agama: Bukan Candu!

Saya senang sekali membaca novel dan menonton film. Jika terlalu sering semua itu menjadi candu bagi saya. Stres mengerjakan skripsi, saya selesaikan dengan menonton film. Dikejar target, saya selesaikan dengan membaca novel. Saya meng-coping kecemasan saya dengan cara-cara yang tidak menyelesaikan masalah hanya menetramkan kecemasan dan cenderung lari dari masalah.

Akan tetapi, saya pun perlu membaca novel dan menonton film. Ada hikmah yang bisa saya ambil. Ada kelegaan diantara kepenatan rutinitas. Saya merasakan nafas baru. Kadang, dengan itulah saya mampu berempati dan mendapatkan inspirasi baru untuk menyelesaikan masalah-masalah saya. Membaca novel dan menonton film tidak menjadi candu tetapi menjadi sarana lain bahkan bantuan untuk menyelesaikan masalah saya.

Saya sering tersindir dengan Karl Max yang mengatakan bahwa 'Agama itu Candu'. Agama itu candu karena sering kali orang-orang mencari pembenaran melalui agama. Orang beragama sering menjadikan agama sebagai coping emosi. Layaknya saya mencoping stres saya dengan menonton film, agama, dianggap Karl Max, menjadi candu yang membantu untuk menghindari dan lari dari masalah.

Candu dari mana? Ungkap saya dengan kemarahan! Sayangnya, kemarahan yang ungkapkan hanya membenarkan statemen dari Karl Max. Shalat sering menjadi cara untuk menghindari pertengkaran. Doa sering menjadi pelepas kecemasan. Sayangnya, ritual ibadah sering dilakukan kami untuk menyelesaikan masalah padahal JELAS bahwa itu semua tidak menyelesaikan masalah!

Shalat tidak akan menyelesaikan skripsi saya. Doa tidak akan mendamaikan pertengkaran saya dan adik saya. Dzikir tidak bisa membuat motor saya kepling seperti habis dicuci. Ibadah tidak akan mengakibatkan apa-apa ketika kita memang tidak melakukan apa-apa untuk menyelesaikan masalah!

Saya sering terpekur dan membenarkan. Memang, saat ini, seperti yang kami dan banyak orang lakukan, menjadikan agama sebagai candu mereka. Berharap hutang terbayar dengan berdzikir ribuan kali. Berharap ujian lulus dengan shalat dhuha setiap hari tanpa belajar. Berharap skripsi lulus dengan bersedekah jutaan rupiah.


Bukankah Allah justru memerintahkan untuk berusaha. Bukankah Allah menyuruh kita bekerja keras. Bukankah Allah meminta kita untuk menjadi doa dan shalat sebagai charger motivasi untuk berbuat dan berkarya lebih?

Saya shalat dan saya bekerja. Saya berdoa dan saya berusaha. Dengan ibadah, saya mampu berjalan lebih panjang dan lebih jauh! Agama bukan candu, Tuan!

Selasa, 13 Maret 2012

Skripsweet 2: Berjalan bahkan Berlari di Tempat

Sekarang sudah bulan Maret! 13 Maret 2012 pukul 8.26 WIB!
Apa kabar skripsi saya?
Masih saja berada di angka satu dan bergeming. Tak bergeser. Bukan berarti saya tidak mengerjakan apapun! Saya sudah berusaha membuat agar daya saya bergerak hingga membuat momen inersia yang terus menggelinding.

Sayangnya, sekuat apapun saya bergerak ternyata saya hanya berlari berputar bahkan berlari di tempat. Saya tidak membuat kecepatan tetapi kelajuan (ingat fisika kelas XI SMA).

Hampir setiap hari saya buka jurnal dan saya baca berlembar-lembar. Setiap hari saya menekuri setiap milimeter draf skripsi saya. Tapi, entah.. Saya gamang. Saya tak yakin. Saya gelisah!!!

Akhirnya, satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah curhat di lembar maya ini. Paling tidak rasa sesal dan kesal terhadap ketidakmampuan saya ini tidak terepresi dan membuat sebentuk trauma dalam unconsiousnes saya.

Kalau sudah keterlaluan gelisah saya, hanya coping emosi yang mampu saya lakukan. Baca novel, buku pengembangan diri, nonton drama, nonton film.. Kebanyakan. Kecanduan lah saya. Sepertinya denial saya terlalu kuat menguasai diri saya.

Beberapa kali saya tercenung. Target saya lulus dan wisuda di bulan Juli seperti candaan kosong terlebih beberapa teman semakin menggoyahkan keyakinan dan menguatkan pesimisme saya. Kemudian, godaan untuk menurunkan target lulus dan meruntuhkan ikat pinggang yang saya tarik kuat, semuanya mengendorr..

Luruh satu-satu..

What value left is there

in this world I live in?

I start thinking its all meaningless

or maybe I’m just tired?

 

In exchange for something I got

I gave up a number of precious things

but it’s not such a peaceful world

that I can lament each and every one.

 

What kind of dreams should I envision?

What kind of hopes should I take with me as I go forward?

These seemingly impossible to answer questions

Get buried in my day to day life.

 

If you were here I wonder what you would say?

you’d probably say I was being “gloomy” and have a laugh.

I just wish i could see your gentle smile to blow away my melancholy.

 

even if it’s a light like fireworks

that can never be caught

one more time, one more time,

one more time, one more time

I want to reach out for it.

 

We all carry sadness with us

but we hope for a better tomorrow

I wonder to what extent we can love a world

gripped by fear, thrown into unrest?

 

I get choked up on the words ’cause I think too much

I hate how clumsy I am

Yet oddly enough, I hate more how skillfully I can pretend.

 

Whether we spend the years laughing or crying

time passes the same for all

the future is calling to us

are you, now, hearing it too?

 

Even though we knew from the start

that we’d eventually have to say goodbye

one more time, one more time,

one more time, one more time

and as many times as I can I hope to see you again.

 

I never imagined that simply meeting you

could make the world seem so beautiful

would you laugh at me for being simple minded?

I want to say “thank you” to you from my heart.

 

I wish my heart flowed fast and smooth like water

so that it would not settle in one place.

 

For all those times when I need to see you

for those times when I’ll miss you so

one more time, one more time,

one more time, one more time

I want to burn your memory deep in me.

 

We all have our problems

but we hope for a better tomorrow

I wonder to what extent we can love a world

gripped by fear, thrown into unrest?

one more time, one more time,

one more time, one more time…

(Hanabi - Mr Children)


Semua orang berkata bahwa mimpimu itu mustahil karena hal itu sulit dan mereka tidak melakukannya. Kalau mimpimu itu mudah, sudah sedari dulu mereka mencapai puncak itu..
Bukankah semuanya butuh perjuangan dan pengorbanan yang diatas rata-rata? *self-talk

Saya pasti tetap bangkit!

Minggu, 04 Maret 2012

Rumah Kaca

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: History
Author:Pramoedya Ananta Toer
Tabiikk!! Novel yang keren! Rumah kaca adalah novel keempat dari tetralogi pulau Buru yang ditelurkan oleh Pramoedya dalam pengasingannya. Saya yakin, para penggila sejarah dan sastra pasti sudah khatam membacanya.

Saya ingin menuliskan keempat novel tersebut dalam satu review sekaligus. Namun, karena hanya cukup mengupload satu gambar saja. Tak apalah jika review keempatnya saya beri judul Rumah Kaca.

Tetralogi novel ini adalah karya Pramoedya yang pertama kali saya tamatkan. Saya telah membaca beberapa novelnya seperti cerita dari Blora namun tak sempat habis saya baca.

Tetralogi novel ini dimulai dengan perjalanan Minke (tokoh utama novel ini) yang mengunjungi kediaman Nyai Ontosoroh dan jatuh hati pada Annellies dalam Bumi Manusia. Disinilah tumbuh bibit awal yang menjadi trigger bagi Minke untuk menulis dan menunjukkan pendapatnya mengenai kondisi bangsanya. Budaya kasta atau levelisasi masyrakat tampak nyata di novel ini. Tertinggi adalah Totok kemudian campuran dan terakhir pribumi. Di Bumi Manusia, kondisi ekonomi - sosio - kultural masyarakat Indonesia terutama Jawa (karena sangat terasa Jawasentris-nya), tergambar dengan jelas, gamblang, dan deskriptif.

Kehidupan Minke hingga Annellies meninggal terangkum dalam Bumi Manusia. Dalam Anak Seribu Bangsa, Minke yang ditinggal mati Annellies berjuang untuk hidup dan bergerak. Persoalan budaya, kondisi politik yang menghangat, terlebih karena buletin Medan yang dibuatnya. Menghembuskan nafas baru bagi kehidupan masyarakat Pribumi. Pembentukan awal organisasi pribumi pun diceritakan lugas. Pembaca akan menemui kesesuaian sejarah yang sering dipelajari di bangku sekolah dengan novel ini. Meski terdapat beberapa kontradiksi. Saya rasa, wajar jika novel ini pernah dibredel. Cerdas dan provokatif!

Pasang-surut kehidupan politik, kisah asmara Minke, dan hambatan sosial akhirnya mendorong Minke untuk hijrah dari Surabaya menuju Betawi yang tertuang dalam Jejak Langkah. Pergulatannya sebagai aktivis keorganisasian yang menerjang budaya dan kolonialisme sangat mengasyikkan untuk disimak. Sayangnya, jebakkan pengasingan menangkapnya dan berakhirlah novel ketiga.

Berbeda dengan ketiga novel sebelumnya yang ber-aku-an. Novel Rumah Kaca ditulis dengan sudut pandang Panggemanann, orang yang membuat Minke diasingkan. Sangat provokatif dan heboh. Banyak hal-hal mengejutkan ada dalam novel ini. Inilah mengapa novel ini dilarang terbit. Dianggap membuka rahasia negara!!

Saya terpukau dengan novel ini. Seperti saya terpukau dengan Srintil dalam Ronggeng Dukuh Paruk ataupun dengan Lanthiep dalam Para Priyayi. Saya rasa ini bukanlah novel namun benar-benar kisah nyata.

Mulai inisiasi Boedi Oetomo oleh Dr Wahidin, Berdirinya Boedi Oetomo, Sarikat Dagang Islam, Indistje Partij digambarkan dalam novel ini meskipun dengan penamaan yang berbeda. Tetapi saya yakin pembaca akan dapat dengan segera menebaknya.

A must reading novel! Saya yang bukan pecinta sejarah saja bisa merasa memiliki sejarah Indonesia. Selamat membaca, selamat menemukan keajaiban sastra dan sejarah Indonesia!