Kamis, 26 April 2012

Seberapa Sholeh Dirimu?


Siang tadi, di pelataran mushola, saya beserta dua teman duduk menunggu teman lain untuk melaksanakan rapat rutin. Alih-alih rapat, kami bertiga mengobrol ngalor-ngidul hingga bahasan nyerempet parah ke masalah pernikahan. Nggak enaknya, saya yang jadi korban :(

Saya yang masih muda dan imut-imut ini (wkwkwk) belum cukup umur(-,-') untuk ngomongin hal ini jadi serba salah. Sampai pada sebuah kriteria kesolehan pasangan. Temen saya kontan bertanya, "Sholeh yang kayak apa? Hapal berapa juz?". Hmhmmhh, saya terhenyak, iya juga yaa.. harus seberapa sholeh suami saya kelak? Pasangan itu cermin diri kita. Wanita baik akan berjodoh dengan pria baik. Pria baik akan berpasangan dengan wanita baik. Jadi, suami saya kelak akan sebaik saya saat ini. Sayangnyaa, saya belum cukup baik untuk dapat suami yang baik :'(

Sholeh, bagi saya adalah sebuah konstrak yang sulit diukur kuantitatif karena pada dasarnya elemen ini kualitatif. Layaknya berusaha mengukur moral identity ataupun attachment yang terbentuk antara Ibu dan anak. Semua hal itu konstrak yang abstrak dan kualitatif. Akan tetapi, tetap memungkinkan untuk diukur secara kuantitatif tetap ada hanya saja alat ukurnya harus valid dan reliabel. Alih-alih mengukur kesholehan, jangan-jangan malah mengukur yang lain.

Bagi saya, mendefinisikan kesholehan tidak hanya sekadar dari sisi ritual ibadahnya. Berapa banyak hapalannya, berapa panjang dzikirnya, berapa kali khatam dalam sahari, ataupun kekuatannya untuk berdiri di malam hari (qiyamul lail :). Bukankah ritual hanyalah sekelumit dari kesholehan seseorang. Bagaimana jika kesholehan itu tampak dari idealisme, etika, ataupun kinerjanya dalam masyarakat?

Kesholehan itu terbagi dua. Kesholehan pribadi dan kesholehan sosial. Se-sotoy-nya saya, kesholehan pribadi itu dilihat dari ketundukkan pribadinya kepada Allah. Baik dari masalah hati, ritual, ibadah, yang muaranya pada kemanfaatan pribadinya. Kesholehan sosial itu dilihat dari ketundukkan kepada Allah dari aspek interaksinya dengan masyarakat dan orang lain. Bagaimana beretika, berbicara, mempertahankan idealisme, dan bekerja bagi masyarakat. Bohong jika kesholehan itu terpisah. Sholeh pribadi yaa harusnya secara otomatis sholeh sosial, begitu juga sebaliknya. Toh, namanya tunduk kepada Allah itu kaaffah, dari ujung rambut sampai kuku kaki, dari sel paling sederhana sampai kinerja sistem organ yang kompleks tingkat dewa.

Nah loo! Maka, bagi saya, kesholehan ini terlalu kompleks konstrak untuk dibikin skalanya dan kita ukur validitas dan reliabilitasnya. Bukankah yang Maha Mengadili itu Allah? Bagaimana jika berhusnudzon dan berpositive thinking saja pada kesholehan orang lain?

Duuhh, saya jadi deg-degan, jangan-jangan saya belum sholeh pribadi dan sosial. Gawaat!!!

8:59 PM 4/26/2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar