Happy reading.. :)
***
I Trust to You
Apakah kamu pernah mempercayai atau mendapatkan kepercayaan? Bagi saya, kepercayaan, mempercayai, dan dipercaya adalah hal yang sangat agung dan mewah. Jika harus dianalogikan, kepercayaan bagaikan berlian diantara logam mulia lainnya. Kepercayaan bukan sekadar emas atau platina melainkan berlian yang berkilau dan indah. Mahal dan mewah. Apakah pernyataan tadi terlalu subjektif? Baik, akan saya interpretasikan menjadi lebih objektif. Kepercayaan berasal dari asal kata percaya yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti yakin benar atau memastikan akan kemampuan atau kelebihan seseorang atau sesuatu (bahwa akan dapat memenuhi harapannya dsb). Ini berarti ketika kamu mendapatkan kepercayaan, orang tersebut yakin benar bahwa dirimu dan kemampuanmu mampu memenuhi harapannya.
Manusia yang dewasa dan bijak adalah manusia yang bisa mempercayai orang lain. Semakin ia mempercayai orang lain semakin dewasa dan bijak ia. Nah, masalahnya –tentu saja ada sebuah masalah yang menjadikan saya menulis tulisan ini– adalah penanaman kepercayaan tidaklah semudah mengerjapkan kelopak mata. Banyak orang yang merasa takut untuk mempercayai dan menaruh kepercayaan. Hal ini bisa muncul karena banyak hal, bisa karena tidak menemukan orang yang tepat untuk dipercayai, takut kepercayaan itu tidak dijaga, takut hasilnya tidak memuaskan, atau bahkan tidak yakin bahwa ada orang yang pantas untuk menerima kepercayaan. Yang sebenarnya, berpusat pada diri pemberi kepercayaan mengenai kepercayaan itu sendiri.
Saya rasa, proses pemberian kepercayaan bukan sesimpel teorinya, sangat bergantung pada apa yang akan dilimpahkan dan pada siapa pelimpahan kepercayaan itu dilakukan. Levelisasi kepercayaan pasti dilakukan oleh setiap orang, entah melihat kondisi yang terjadi atau sekadar melindungi diri layaknya defense mechanism.
Ada hal yang bisa dikatakan dengan mudah, sedang-sedang, cukup rahasia sehingga hanya dipercayakan pada dua atau tiga orang saja, bahkan sangat rahasia yang menjadi hal pribadi yang tak dipercayakan pada siapapun. Levelisasi juga bisa dilakukan melihat pada kemampuan orang yang diberi kepercayaan untuk menjaganya. Seperti pelimpahan tanggung jawab kepada orang kepercayaan yang memang memiliki kapabilitas yang terjamin. Sebuah levelisasi kepercayaan adalah sebuah kewajaran.
Akan tetapi, sering kali, kita sebagai manusia mengalami kesalahan prediksi dalam melakukan levelisasi kepercayaan. Kesalahan ini bisa terjadi pada aspek subjek pelaku atau objek yang dipercayakan. Saya, sebagai manusia yang bersikap amat manusiawi cenderung mudah mempercayai orang. Alasan kerennya, positive thinking. Namun sayangnya tidak semua yang dipercayakan memberikan hasil yang baik. Seperti berusaha mempercayai orang lain untuk melakukan beberapa tanggung jawab namun hasilnya buruk. Atau bahkan saya berusaha mempercayai orang bahwa ketika orang lain meminta bantuan saya berarti mereka benar-benar memerlukan bantuan.
Saat orang lain meminta bantuan, berusaha saya penuhi. Delegasi tugas, saya jalankan. Kesalahan kerja, berusaha saya maklumi. Tidak bisa memikul tanggung jawab, saya bantu bahkan terkadang saya gantikan. Semua itu saya lakukan karena saya percaya bahwa orang lain memang layak dipercaya dan mereka memang amat dan super sibuk sehingga bantuan saya sangat dibutuhkan. Atau mungkin, yang saya lakukan adalah sebuah kebutuhan yang mendesak sehingga saya tidak punya alasan yang objektif untuk tidak menerimanya. Pada akhirnya semua itu menjadikan saya menjadi tipikal yes-woman. Always say yes for every takses.
Sayangnya kepercayaan itu, dikhianati. Praduga yang saya buat, saya upayakan untuk senantiasa positive thinking direnggut dengan jahat. Sejenak saya tidak percaya lagi tetapi akal saya berusaha memakluminya. Bukankah itu hanya human error saja?, begitu kata akal saya. Saya berusaha untuk mempercayai lagi. Berulang lagi. Saya bangun kepercayaan lagi. Hancur lagi. Bangun lagi. Berulang-ulang.
Akan tetapi, saya kembali merenung, bukankah manusia takkan bisa hidup tanpa sebuah kepercayaan? Jika saya tidak bisa mempercayai berarti saya mati, atau paling tidak paranoid dan gila. Kacau! Saya tidak ingin itu. Saya ingin terus percaya tetapi perulangan itu membuat saya trauma cukup parah. Terjadi konflik motivasional yang cukup berat, saya berusaha keras untuk tetap percaya, sungguh! Rasionalisasi saja atau memang tak ada lagi yang cukup pantas dipercaya. Apa saya memang harus trauma, paranoid, dan jadi gila?[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar