Bisa dibilang ini artikel pembelaan, rasionalisasi, atau sekedar katarsis karena saya tidak mampu bicara soal masalah ini. Saya suka Super Junior. Bener! Saya tahu album pertama hingga kelimanya. Mulai dari personilnya masih 12, kemudian jadi 13, hingga sekarang tinggal 10 member yang masih aktif. 1 masih wajib militer, 1 baru saja keluar dari wajib militer, dan yang 1 lagi 'katanya' fokus dengan akting tetapi saya malah nggak pernah denger lagi syuting film apa. Mau bukti? Saya bahkan ngepos satu lagunya di artikel saya, ini nihh..
Tapi, sueerr!!! Saya nggak sampai nangis-nangis pingin liat konsernya, nungguin kapan manggung, ngumpulin merchandise, dan lain sebagainya yang berbau ababil atau abege galau. Lho wong, saya saja nggak tertarik nonton konsernya. Saya cukup senang dengan mendengarkan mp3 lagu balladnya berputar di komputer dan hape saya :DSampai saat ini, saya tidak habis pikir kenapa mereka, yang baru saja tahu super junior, sudah sangat tergila-gila, terbius, bahkan mendewakan mereka. Mengatakan ganteng banget (-,-?), mengatakan segala kebaikan dan kehebatan para personilnya hingga menjadikan mereka prioritas serta objek rasionalisasi.
Ini murni ke-sotoy-an saya untuk menuliskan ini. Kalaupun elf (everlasting friends - fansnya super junior) sampai guling-guling, nangis enjot-enjotan, dorong-dorongan sampai pingsan waktu beli tiket konser, emangnya para personil super junior bakal ngapain? segila-gilanya fans menyembah apakah ada efeknya pada idolanya??
Fenomena ini membuat saya teringat pada kisah Sunan Muria *lho?
Sunan Muria adalah satu dari wali songo yang kemudian berdakwah di daerah Muria (Gunung Muria, Kudus). Di akhir kehidupannya, Beliau membakar pesantren dan masjidnya :0 Why? Sunan Muria yang waspada akan terjadi syirik yang kemungkinan akan muncul ketika Beliau membiarkan pesantrennya tetap ada. Sayangnya, tembikar wadah air yang tersisa, tetap saja menjadi sarana masyarakat untuk ber-syirik ria. Hmfhh.. sedihnyaa :(
Menurut Nietzsche, manusia selalu menginginkan sosok super atau Superman (Übermensch) yang serba wow untuk menjadi tempat mereka mengiba. Ada fenomena berhala yang merupakan patung orang-orang bijak, ada fenomena ratu adil, bahkan fenomena artis dan idola. Sama yang terjadi pada super junior.
Kebutuhan untuk mengidolakan, kebutuhan akan figur, kebutuhan akan sosok yang lebih dan wow, menjadi sandaran. Entah sebagai role model yang sebenarnya, bentuk lain dari kecintaan pada diri sendiri, atau sarana mencari comfort zone. Saya juga tidak bisa mengerti.
Saya merasa kasihan pada Super Junior, Artis yang didewakan, Sunan Muria, Para Shalafus Sholeh, bahkan pada Nabi Muhammad SAW. Apakah mereka memang menginginkan dan mengharapkan pengkultusan??
Ya Allah, memang hanya Engkau yang seharusnya kami dewakan dan muliakan.. []