Sabtu, 24 Maret 2012

I Trust to You

Saya menemukan tulisan ini dalam folder campur-aduk yang belum terstortir dalam perihal-perihal tertentu. Saya baca sekilas, memperbaiki beberapa kata, dan mungkin terlalu eman-eman kalau tulisan ini saya delete. Tulisan ini saya tulis satu tahun yang lalu, 26 Februari 2011.

Happy reading.. :)

***
I Trust to You

Apakah kamu pernah mempercayai atau mendapatkan kepercayaan? Bagi saya, kepercayaan, mempercayai, dan dipercaya adalah hal yang sangat agung dan mewah. Jika harus dianalogikan, kepercayaan bagaikan berlian diantara logam mulia lainnya. Kepercayaan bukan sekadar emas atau platina melainkan berlian yang berkilau dan indah. Mahal dan mewah. Apakah pernyataan tadi terlalu subjektif? Baik, akan saya interpretasikan menjadi lebih objektif. Kepercayaan berasal dari asal kata percaya yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti  yakin benar atau memastikan akan kemampuan atau kelebihan seseorang atau sesuatu (bahwa akan dapat memenuhi harapannya dsb). Ini berarti ketika kamu mendapatkan kepercayaan, orang tersebut yakin benar bahwa dirimu dan kemampuanmu mampu memenuhi harapannya. 

Jika dilihat dari pendekatan Erik H. Erikson, seorang psikolog Psikoanalisa, kepercayaan atau dalam bahasa inggrisnya, trust menempati tahap yang paling awal dalam perkembangan manusia. Basic trust –Erikson membahasakannya – menjadi dasar terbentuknya manusia yang utuh dan sehat. Manusia tanpa basic trust akan mengalami kesulitan dalam menghadapi tahap perkembangan hidup selanjutnya. Mereka akan sulit merasa aman karena tidak percaya pada significant othersnya, takut untuk bergaul karena tak percaya pada teman dan lingkungannya, yang pada akhirnya akan sangat kesulitan dalam berkembang dan mengembangkan potensinya. Saya yakin anda pun mungkin tak bisa membayangkan kehidupan tanpa secuil pun rasa percaya. Ini berarti, percaya dan kepercayaan bisa dikatakan juga sebagai hal yang paling penting, wajib, dasar, atau bahkan primer dalam kehidupan manusia. Manusia tanpa rasa percaya tak mungkin jadi manusia.

Manusia yang dewasa dan bijak adalah manusia yang bisa mempercayai orang lain. Semakin ia mempercayai orang lain semakin dewasa dan bijak ia. Nah, masalahnya –tentu saja ada sebuah masalah yang menjadikan saya menulis tulisan ini– adalah penanaman kepercayaan tidaklah semudah mengerjapkan kelopak mata. Banyak orang yang merasa takut untuk mempercayai dan menaruh kepercayaan. Hal ini bisa muncul karena banyak hal, bisa karena tidak menemukan orang yang tepat untuk dipercayai, takut kepercayaan itu tidak dijaga, takut hasilnya tidak memuaskan, atau bahkan tidak yakin bahwa ada orang yang pantas untuk menerima kepercayaan. Yang sebenarnya, berpusat pada diri pemberi kepercayaan mengenai kepercayaan itu sendiri.

Saya rasa, proses pemberian kepercayaan bukan sesimpel teorinya, sangat bergantung pada apa yang akan dilimpahkan dan pada siapa pelimpahan kepercayaan itu dilakukan. Levelisasi kepercayaan pasti dilakukan oleh setiap orang, entah melihat kondisi yang terjadi atau sekadar melindungi diri layaknya defense mechanism.
 
Ada hal yang bisa dikatakan dengan mudah, sedang-sedang, cukup rahasia sehingga hanya dipercayakan pada dua atau tiga orang saja, bahkan sangat rahasia yang menjadi hal pribadi yang tak dipercayakan pada siapapun. Levelisasi juga bisa dilakukan melihat pada kemampuan orang yang diberi kepercayaan untuk menjaganya. Seperti pelimpahan tanggung jawab kepada orang kepercayaan yang memang memiliki kapabilitas yang terjamin. Sebuah levelisasi kepercayaan adalah sebuah kewajaran.

Akan tetapi, sering kali, kita sebagai manusia mengalami kesalahan prediksi dalam melakukan levelisasi kepercayaan. Kesalahan ini bisa terjadi pada aspek subjek pelaku atau objek yang dipercayakan. Saya, sebagai manusia yang bersikap amat manusiawi cenderung mudah mempercayai orang. Alasan kerennya, positive thinking. Namun sayangnya tidak semua yang dipercayakan memberikan hasil yang baik. Seperti berusaha mempercayai orang lain untuk melakukan beberapa tanggung jawab namun hasilnya buruk. Atau bahkan saya berusaha mempercayai orang bahwa ketika orang lain meminta bantuan saya berarti mereka benar-benar memerlukan bantuan.

Saat orang lain meminta bantuan, berusaha saya penuhi. Delegasi tugas, saya jalankan. Kesalahan kerja, berusaha saya maklumi. Tidak bisa memikul tanggung jawab, saya bantu bahkan terkadang saya gantikan. Semua itu saya lakukan karena saya percaya bahwa orang lain memang layak dipercaya dan mereka memang amat dan super sibuk sehingga bantuan saya sangat dibutuhkan. Atau mungkin, yang saya lakukan adalah sebuah kebutuhan yang mendesak sehingga saya tidak punya alasan yang objektif untuk tidak menerimanya. Pada akhirnya semua itu menjadikan saya menjadi tipikal yes-woman. Always say yes for every takses.

Sayangnya kepercayaan itu, dikhianati. Praduga yang saya buat, saya upayakan untuk senantiasa positive thinking direnggut dengan jahat. Sejenak saya tidak percaya lagi tetapi akal saya berusaha memakluminya. Bukankah itu hanya human error saja?, begitu kata akal saya. Saya berusaha untuk mempercayai lagi. Berulang lagi. Saya bangun kepercayaan lagi. Hancur lagi. Bangun lagi. Berulang-ulang. 

Akan tetapi, saya kembali merenung, bukankah manusia takkan bisa hidup tanpa sebuah kepercayaan? Jika saya tidak bisa mempercayai berarti saya mati, atau paling tidak paranoid dan gila. Kacau! Saya tidak ingin itu. Saya ingin terus percaya tetapi perulangan itu membuat saya trauma cukup parah. Terjadi konflik motivasional yang cukup berat, saya berusaha keras untuk tetap percaya, sungguh! Rasionalisasi saja atau memang tak ada lagi yang cukup pantas dipercaya. Apa saya memang harus trauma, paranoid, dan jadi gila?[]

Senin, 19 Maret 2012

Psikologi: Makanan Macam Apa?

Menjadi hal yang sangat biasa ketika dirimu kuliah kemudian orang lain, entah tetanggamu, teman SMAmu, penumpang lain di angkot, atau petugas SPBU *lho?, bertanya 'kuliah dimana?'. Ketika pertanyaan itu saya jawab dengan 'Psikologi', muncul beberapa respon: (1) Mengangguk-angguk dan kembali bertanya 'Dimana (Universitas apa)?'; (2) Sedikit bingung, lalu bertanya 'Terus kerjanya dimana?'; dan (3) Melongo tetapi langsung mengangguk dan berkata 'Yang sering ngetest itu kan?' atau 'Ngurus orang gila?'

Kemudian yang mampu saya lakukan adalah terdiam dengan muka bingung. Saya terlalu bingung untuk menjawab. Kenapa? Karena (1) Saya pun masih bingung akan bekerja apa setelah lulus dan sangaat banyak lahan yang bisa diraih oleh ilmu Psikologi; (2) Memberi test hanyalah setitik pekerjaan lulusan psikologi dari sekian banyak pekerjaan yang mampu dilakukan lulusan psikologi; dan (3) Banyak pihak yang ikut terlibat dalam intervensi terhadap orang gila, ada psikolog klinis, psikiater, perawat, terapis, atau mungkin dokter spesialis neurologi. Sangat sulit untuk membuat penilaian bahwa yang terlibat hanya psikolog semata.

Psikologi adalah ilmu yang masih sangat awam dan jarang dipahami orang lain. Ibu saya saja tidak begitu paham dengan apa yang sedang dan akan saya lakukan dengan status saya sebagai akademisi psikologi.

Psikologi berasal dari psike dan logos. Psike berarti jiwa sedangkan logos adalah ilmu. Jika dikombinasikan maka Psikologi bermakna sebagai Ilmu Jiwa. Namun sayang seribu sayang, jiwa adalah hal yang abstrak dan maya. Hal tersebut menjadikan jiwa sulit diteliti, diukur, dikenai treatmen, dan dijadikan sebagai objek formal ataupun material dari sebuah ilmu. Kenapa? Karena ilmu terikat oleh aturan-aturan ilmiah yan berlaku pada ilmu lain seperti biologi, fisika, ataupun kimia.

Nah, dengan demikian jiwa haruslah terejawantahkan pada sesuatu hal yang dapat diteliti, diukur, ataupun dikenai treatmen sesuai kaidah-kaidah ilmiah. Perilaku adalah ejawantah dari jiwa. Oleh karena itu, Psikologi dipahami sebagai Ilmu Perilaku.

Akan tetapi jangan lupa bahwa perilaku itu tidak hanya sesuatu hal yang dapat kita lihat dan kita rasai saja. Terdapat dua jenis perilaku overt dan covert. Tampak dan tidak tampak. Perilaku tampak seperti berlari, berjalan, makan, minum. Perilaku tidak tampak adalah berpikir, melamun, menganalisa. Kedua perilaku tersebut diteliti dalam psikologi.

Jadi, Psikologi memperlajari perilaku manusia, mulai dari sebab perilaku, faktor yang mempengaruhi perilaku tersebut muncul, aspek yang memunculkan perilaku, dampak perilaku tersebut terhadap pelaku, dampak perilaku terhadap orang lain, dampak perilaku terhadap orang lain, dan masih buaanyaak lagi.

Psikologi dengan ilmu yang abstrak dan dinamis ini menjadikan akademisi psikologi haruslah update. Maksudnya, ilmu psikologi akan terus berkembang dan bisa jadi, teori yang sebelumnya diakui kebenarannya tidak lagi diakui bahkan digugat.

Psikologi bukan ilmu para tukang ngetest. Psikologi bukan ilmu ramal. Psikologi bukan ilmu dukun. Psikologi bukan ilmu abrakadabra. Psikologi itu ilmu yang validitas dan reliabilitas bisa diuji, oke?

Psikologi: Makanan Macam Apa?

Menjadi hal yang sangat biasa ketika dirimu kuliah kemudian orang lain, entah tetanggamu, teman SMAmu, penumpang lain di angkot, atau petugas SPBU *lho?, bertanya 'kuliah dimana?'. Ketika pertanyaan itu saya jawab dengan 'Psikologi', muncul beberapa respon: (1) Mengangguk-angguk dan kembali bertanya 'Dimana (Universitas apa)?'; (2) Sedikit bingung, lalu bertanya 'Terus kerjanya dimana?'; dan (3) Melongo tetapi langsung mengangguk dan berkata 'Yang sering ngetest itu kan?' atau 'Ngurus orang gila?'

Kemudian yang mampu saya lakukan adalah terdiam dengan muka bingung. Saya terlalu bingung untuk menjawab. Kenapa? Karena (1) Saya pun masih bingung akan bekerja apa setelah lulus dan sangaat banyak lahan yang bisa diraih oleh ilmu Psikologi; (2) Memberi test hanyalah setitik pekerjaan lulusan psikologi dari sekian banyak pekerjaan yang mampu dilakukan lulusan psikologi; dan (3) Banyak pihak yang ikut terlibat dalam intervensi terhadap orang gila, ada psikolog klinis, psikiater, perawat, terapis, atau mungkin dokter spesialis neurologi. Sangat sulit untuk membuat penilaian bahwa yang terlibat hanya psikolog semata.

Psikologi adalah ilmu yang masih sangat awam dan jarang dipahami orang lain. Ibu saya saja tidak begitu paham dengan apa yang sedang dan akan saya lakukan dengan status saya sebagai akademisi psikologi.

Psikologi berasal dari psike dan logos. Psike berarti jiwa sedangkan logos adalah ilmu. Jika dikombinasikan maka Psikologi bermakna sebagai Ilmu Jiwa. Namun sayang seribu sayang, jiwa adalah hal yang abstrak dan maya. Hal tersebut menjadikan jiwa sulit diteliti, diukur, dikenai treatmen, dan dijadikan sebagai objek formal ataupun material dari sebuah ilmu. Kenapa? Karena ilmu terikat oleh aturan-aturan ilmiah yan berlaku pada ilmu lain seperti biologi, fisika, ataupun kimia.

Nah, dengan demikian jiwa haruslah terejawantahkan pada sesuatu hal yang dapat diteliti, diukur, ataupun dikenai treatmen sesuai kaidah-kaidah ilmiah. Perilaku adalah ejawantah dari jiwa. Oleh karena itu, Psikologi dipahami sebagai Ilmu Perilaku.

Akan tetapi jangan lupa bahwa perilaku itu tidak hanya sesuatu hal yang dapat kita lihat dan kita rasai saja. Terdapat dua jenis perilaku overt dan covert. Tampak dan tidak tampak. Perilaku tampak seperti berlari, berjalan, makan, minum. Perilaku tidak tampak adalah berpikir, melamun, menganalisa. Kedua perilaku tersebut diteliti dalam psikologi.

Jadi, Psikologi memperlajari perilaku manusia, mulai dari sebab perilaku, faktor yang mempengaruhi perilaku tersebut muncul, aspek yang memunculkan perilaku, dampak perilaku tersebut terhadap pelaku, dampak perilaku terhadap orang lain, dampak perilaku terhadap orang lain, dan masih buaanyaak lagi.

Psikologi dengan ilmu yang abstrak dan dinamis ini menjadikan akademisi psikologi haruslah update. Maksudnya, ilmu psikologi akan terus berkembang dan bisa jadi, teori yang sebelumnya diakui kebenarannya tidak lagi diakui bahkan digugat.

Psikologi bukan ilmu para tukang ngetest. Psikologi bukan ilmu ramal. Psikologi bukan ilmu dukun. Psikologi bukan ilmu abrakadabra. Psikologi itu ilmu yang validitas dan reliabilitas bisa diuji, oke?

Agama: Bukan Candu!

Saya senang sekali membaca novel dan menonton film. Jika terlalu sering semua itu menjadi candu bagi saya. Stres mengerjakan skripsi, saya selesaikan dengan menonton film. Dikejar target, saya selesaikan dengan membaca novel. Saya meng-coping kecemasan saya dengan cara-cara yang tidak menyelesaikan masalah hanya menetramkan kecemasan dan cenderung lari dari masalah.

Akan tetapi, saya pun perlu membaca novel dan menonton film. Ada hikmah yang bisa saya ambil. Ada kelegaan diantara kepenatan rutinitas. Saya merasakan nafas baru. Kadang, dengan itulah saya mampu berempati dan mendapatkan inspirasi baru untuk menyelesaikan masalah-masalah saya. Membaca novel dan menonton film tidak menjadi candu tetapi menjadi sarana lain bahkan bantuan untuk menyelesaikan masalah saya.

Saya sering tersindir dengan Karl Max yang mengatakan bahwa 'Agama itu Candu'. Agama itu candu karena sering kali orang-orang mencari pembenaran melalui agama. Orang beragama sering menjadikan agama sebagai coping emosi. Layaknya saya mencoping stres saya dengan menonton film, agama, dianggap Karl Max, menjadi candu yang membantu untuk menghindari dan lari dari masalah.

Candu dari mana? Ungkap saya dengan kemarahan! Sayangnya, kemarahan yang ungkapkan hanya membenarkan statemen dari Karl Max. Shalat sering menjadi cara untuk menghindari pertengkaran. Doa sering menjadi pelepas kecemasan. Sayangnya, ritual ibadah sering dilakukan kami untuk menyelesaikan masalah padahal JELAS bahwa itu semua tidak menyelesaikan masalah!

Shalat tidak akan menyelesaikan skripsi saya. Doa tidak akan mendamaikan pertengkaran saya dan adik saya. Dzikir tidak bisa membuat motor saya kepling seperti habis dicuci. Ibadah tidak akan mengakibatkan apa-apa ketika kita memang tidak melakukan apa-apa untuk menyelesaikan masalah!

Saya sering terpekur dan membenarkan. Memang, saat ini, seperti yang kami dan banyak orang lakukan, menjadikan agama sebagai candu mereka. Berharap hutang terbayar dengan berdzikir ribuan kali. Berharap ujian lulus dengan shalat dhuha setiap hari tanpa belajar. Berharap skripsi lulus dengan bersedekah jutaan rupiah.


Bukankah Allah justru memerintahkan untuk berusaha. Bukankah Allah menyuruh kita bekerja keras. Bukankah Allah meminta kita untuk menjadi doa dan shalat sebagai charger motivasi untuk berbuat dan berkarya lebih?

Saya shalat dan saya bekerja. Saya berdoa dan saya berusaha. Dengan ibadah, saya mampu berjalan lebih panjang dan lebih jauh! Agama bukan candu, Tuan!

Selasa, 13 Maret 2012

Skripsweet 2: Berjalan bahkan Berlari di Tempat

Sekarang sudah bulan Maret! 13 Maret 2012 pukul 8.26 WIB!
Apa kabar skripsi saya?
Masih saja berada di angka satu dan bergeming. Tak bergeser. Bukan berarti saya tidak mengerjakan apapun! Saya sudah berusaha membuat agar daya saya bergerak hingga membuat momen inersia yang terus menggelinding.

Sayangnya, sekuat apapun saya bergerak ternyata saya hanya berlari berputar bahkan berlari di tempat. Saya tidak membuat kecepatan tetapi kelajuan (ingat fisika kelas XI SMA).

Hampir setiap hari saya buka jurnal dan saya baca berlembar-lembar. Setiap hari saya menekuri setiap milimeter draf skripsi saya. Tapi, entah.. Saya gamang. Saya tak yakin. Saya gelisah!!!

Akhirnya, satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah curhat di lembar maya ini. Paling tidak rasa sesal dan kesal terhadap ketidakmampuan saya ini tidak terepresi dan membuat sebentuk trauma dalam unconsiousnes saya.

Kalau sudah keterlaluan gelisah saya, hanya coping emosi yang mampu saya lakukan. Baca novel, buku pengembangan diri, nonton drama, nonton film.. Kebanyakan. Kecanduan lah saya. Sepertinya denial saya terlalu kuat menguasai diri saya.

Beberapa kali saya tercenung. Target saya lulus dan wisuda di bulan Juli seperti candaan kosong terlebih beberapa teman semakin menggoyahkan keyakinan dan menguatkan pesimisme saya. Kemudian, godaan untuk menurunkan target lulus dan meruntuhkan ikat pinggang yang saya tarik kuat, semuanya mengendorr..

Luruh satu-satu..

What value left is there

in this world I live in?

I start thinking its all meaningless

or maybe I’m just tired?

 

In exchange for something I got

I gave up a number of precious things

but it’s not such a peaceful world

that I can lament each and every one.

 

What kind of dreams should I envision?

What kind of hopes should I take with me as I go forward?

These seemingly impossible to answer questions

Get buried in my day to day life.

 

If you were here I wonder what you would say?

you’d probably say I was being “gloomy” and have a laugh.

I just wish i could see your gentle smile to blow away my melancholy.

 

even if it’s a light like fireworks

that can never be caught

one more time, one more time,

one more time, one more time

I want to reach out for it.

 

We all carry sadness with us

but we hope for a better tomorrow

I wonder to what extent we can love a world

gripped by fear, thrown into unrest?

 

I get choked up on the words ’cause I think too much

I hate how clumsy I am

Yet oddly enough, I hate more how skillfully I can pretend.

 

Whether we spend the years laughing or crying

time passes the same for all

the future is calling to us

are you, now, hearing it too?

 

Even though we knew from the start

that we’d eventually have to say goodbye

one more time, one more time,

one more time, one more time

and as many times as I can I hope to see you again.

 

I never imagined that simply meeting you

could make the world seem so beautiful

would you laugh at me for being simple minded?

I want to say “thank you” to you from my heart.

 

I wish my heart flowed fast and smooth like water

so that it would not settle in one place.

 

For all those times when I need to see you

for those times when I’ll miss you so

one more time, one more time,

one more time, one more time

I want to burn your memory deep in me.

 

We all have our problems

but we hope for a better tomorrow

I wonder to what extent we can love a world

gripped by fear, thrown into unrest?

one more time, one more time,

one more time, one more time…

(Hanabi - Mr Children)


Semua orang berkata bahwa mimpimu itu mustahil karena hal itu sulit dan mereka tidak melakukannya. Kalau mimpimu itu mudah, sudah sedari dulu mereka mencapai puncak itu..
Bukankah semuanya butuh perjuangan dan pengorbanan yang diatas rata-rata? *self-talk

Saya pasti tetap bangkit!

Minggu, 04 Maret 2012

Rumah Kaca

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: History
Author:Pramoedya Ananta Toer
Tabiikk!! Novel yang keren! Rumah kaca adalah novel keempat dari tetralogi pulau Buru yang ditelurkan oleh Pramoedya dalam pengasingannya. Saya yakin, para penggila sejarah dan sastra pasti sudah khatam membacanya.

Saya ingin menuliskan keempat novel tersebut dalam satu review sekaligus. Namun, karena hanya cukup mengupload satu gambar saja. Tak apalah jika review keempatnya saya beri judul Rumah Kaca.

Tetralogi novel ini adalah karya Pramoedya yang pertama kali saya tamatkan. Saya telah membaca beberapa novelnya seperti cerita dari Blora namun tak sempat habis saya baca.

Tetralogi novel ini dimulai dengan perjalanan Minke (tokoh utama novel ini) yang mengunjungi kediaman Nyai Ontosoroh dan jatuh hati pada Annellies dalam Bumi Manusia. Disinilah tumbuh bibit awal yang menjadi trigger bagi Minke untuk menulis dan menunjukkan pendapatnya mengenai kondisi bangsanya. Budaya kasta atau levelisasi masyrakat tampak nyata di novel ini. Tertinggi adalah Totok kemudian campuran dan terakhir pribumi. Di Bumi Manusia, kondisi ekonomi - sosio - kultural masyarakat Indonesia terutama Jawa (karena sangat terasa Jawasentris-nya), tergambar dengan jelas, gamblang, dan deskriptif.

Kehidupan Minke hingga Annellies meninggal terangkum dalam Bumi Manusia. Dalam Anak Seribu Bangsa, Minke yang ditinggal mati Annellies berjuang untuk hidup dan bergerak. Persoalan budaya, kondisi politik yang menghangat, terlebih karena buletin Medan yang dibuatnya. Menghembuskan nafas baru bagi kehidupan masyarakat Pribumi. Pembentukan awal organisasi pribumi pun diceritakan lugas. Pembaca akan menemui kesesuaian sejarah yang sering dipelajari di bangku sekolah dengan novel ini. Meski terdapat beberapa kontradiksi. Saya rasa, wajar jika novel ini pernah dibredel. Cerdas dan provokatif!

Pasang-surut kehidupan politik, kisah asmara Minke, dan hambatan sosial akhirnya mendorong Minke untuk hijrah dari Surabaya menuju Betawi yang tertuang dalam Jejak Langkah. Pergulatannya sebagai aktivis keorganisasian yang menerjang budaya dan kolonialisme sangat mengasyikkan untuk disimak. Sayangnya, jebakkan pengasingan menangkapnya dan berakhirlah novel ketiga.

Berbeda dengan ketiga novel sebelumnya yang ber-aku-an. Novel Rumah Kaca ditulis dengan sudut pandang Panggemanann, orang yang membuat Minke diasingkan. Sangat provokatif dan heboh. Banyak hal-hal mengejutkan ada dalam novel ini. Inilah mengapa novel ini dilarang terbit. Dianggap membuka rahasia negara!!

Saya terpukau dengan novel ini. Seperti saya terpukau dengan Srintil dalam Ronggeng Dukuh Paruk ataupun dengan Lanthiep dalam Para Priyayi. Saya rasa ini bukanlah novel namun benar-benar kisah nyata.

Mulai inisiasi Boedi Oetomo oleh Dr Wahidin, Berdirinya Boedi Oetomo, Sarikat Dagang Islam, Indistje Partij digambarkan dalam novel ini meskipun dengan penamaan yang berbeda. Tetapi saya yakin pembaca akan dapat dengan segera menebaknya.

A must reading novel! Saya yang bukan pecinta sejarah saja bisa merasa memiliki sejarah Indonesia. Selamat membaca, selamat menemukan keajaiban sastra dan sejarah Indonesia!

Sabtu, 03 Maret 2012

Belajar Jadi Ibu 1: Masak-masak

Huahh.. sebenarnya sudah lama pengin ng-post tentang hal ini. Saya dan adik-adik sering ditinggal Ibu keluar kota. Biasanya tiap dua minggu sekali, paling lama satu minggu. Rempong banget kalau jadwal kuliah penuh, adik-adik sekolah semua. Mbangunin tidur, siap-siap seragam, antri kamar mandi. Jam pagi adalah jam-jam yang stressful apalagi kalau setelah itu telat kuliah dan nggak boleh masuk. Maaangkel banget. 

Yang nggak mungkin ditinggalkan adalah masak. Lha setiap hari saja makan tiga kali, ehh enggak ding, paling banter dua kali. Tapi kan harus selalu makan dan berarti harus masak! Nggak mungkin beli lauk setiap hari atau makan mie instan terus.Bisa dipelototin Ibu kalau tahu anak-anaknya makan mie instan terus.

Nah, masakan yang paling suka saya masak adalah tumisan. Kenapa? karena gampang dan cepet banget masaknya. Cuma 15menit!! Mulai persiapan bahan sampai matang, apalagi kalau bawang-brambangnya udah dikupas dulu.

Ibu pergi adalah saat yang paling asyik buat mencoba semua makanan aneh. Pernah suatu ketika masak kwetiau rasa jahe, atau masak sup kental yang pedesnya bikin mules.
Berani masak konyol as long as eatable :DD

Hari ini pun sama, karena Ibu keluar kota lagi. Iseng lah saya masak fusilli krim keju. Gampang baaanggett sayangnya saya harus ngerampok keju Ibu yang biasa untuk bikin kue, hehehe. Nggak bilang nih, semoga nggak ketahuan :p

Resepnya?? Tau makroni yang biasa dipakai sop? Nah, pilih yang mluntir-mluntir itu fusilli. Rebus, jangan lupa beri sesendok minyak dan sejumput garam biar nggak plain rasanya plus nggak nempel-nempel.

Terus tumis bawang bombay pakai mentega satu sendok, tepung terigu sesendok, terus susu cair (pake susu kotak aja, sudah enak :). Masukan garam, merica halus, sosis, dan keju chedar parut. Kalau mau lengket-lengket kasih mozarella tapi karena mahal, nggak usah aja :p Pake keju chedar yang beli kiloan. Jauh lebih murah. Updatenya 250gr 17ribuan :DD

Terakhir, campurkan fusilli. Jadilah fusilli krim keju. Kalau suka jamur bisa ditambah jamur, kalau ada paprika bisa ditambah. Tapi kayaknya nggak pas kalau ditambah kol ataupun wortel :DD

Intinya mau bilang kalau hari ini saya makan fussili yang enak lho! Nggak penting banget kan :DD