Menjadi hal yang sangat biasa ketika dirimu kuliah kemudian orang lain, entah tetanggamu, teman SMAmu, penumpang lain di angkot, atau petugas SPBU *lho?, bertanya 'kuliah dimana?'. Ketika pertanyaan itu saya jawab dengan 'Psikologi', muncul beberapa respon: (1) Mengangguk-angguk dan kembali bertanya 'Dimana (Universitas apa)?'; (2) Sedikit bingung, lalu bertanya 'Terus kerjanya dimana?'; dan (3) Melongo tetapi langsung mengangguk dan berkata 'Yang sering ngetest itu kan?' atau 'Ngurus orang gila?'
Kemudian yang mampu saya lakukan adalah terdiam dengan muka bingung. Saya terlalu bingung untuk menjawab. Kenapa? Karena (1) Saya pun masih bingung akan bekerja apa setelah lulus dan sangaat banyak lahan yang bisa diraih oleh ilmu Psikologi; (2) Memberi test hanyalah setitik pekerjaan lulusan psikologi dari sekian banyak pekerjaan yang mampu dilakukan lulusan psikologi; dan (3) Banyak pihak yang ikut terlibat dalam intervensi terhadap orang gila, ada psikolog klinis, psikiater, perawat, terapis, atau mungkin dokter spesialis neurologi. Sangat sulit untuk membuat penilaian bahwa yang terlibat hanya psikolog semata.
Psikologi adalah ilmu yang masih sangat awam dan jarang dipahami orang lain. Ibu saya saja tidak begitu paham dengan apa yang sedang dan akan saya lakukan dengan status saya sebagai akademisi psikologi.
Psikologi berasal dari psike dan logos. Psike berarti jiwa sedangkan logos adalah ilmu. Jika dikombinasikan maka Psikologi bermakna sebagai Ilmu Jiwa. Namun sayang seribu sayang, jiwa adalah hal yang abstrak dan maya. Hal tersebut menjadikan jiwa sulit diteliti, diukur, dikenai treatmen, dan dijadikan sebagai objek formal ataupun material dari sebuah ilmu. Kenapa? Karena ilmu terikat oleh aturan-aturan ilmiah yan berlaku pada ilmu lain seperti biologi, fisika, ataupun kimia.
Nah, dengan demikian jiwa haruslah terejawantahkan pada sesuatu hal yang dapat diteliti, diukur, ataupun dikenai treatmen sesuai kaidah-kaidah ilmiah. Perilaku adalah ejawantah dari jiwa. Oleh karena itu, Psikologi dipahami sebagai Ilmu Perilaku.
Akan tetapi jangan lupa bahwa perilaku itu tidak hanya sesuatu hal yang dapat kita lihat dan kita rasai saja. Terdapat dua jenis perilaku overt dan covert. Tampak dan tidak tampak. Perilaku tampak seperti berlari, berjalan, makan, minum. Perilaku tidak tampak adalah berpikir, melamun, menganalisa. Kedua perilaku tersebut diteliti dalam psikologi.
Jadi, Psikologi memperlajari perilaku manusia, mulai dari sebab perilaku, faktor yang mempengaruhi perilaku tersebut muncul, aspek yang memunculkan perilaku, dampak perilaku tersebut terhadap pelaku, dampak perilaku terhadap orang lain, dampak perilaku terhadap orang lain, dan masih buaanyaak lagi.
Psikologi dengan ilmu yang abstrak dan dinamis ini menjadikan akademisi psikologi haruslah update. Maksudnya, ilmu psikologi akan terus berkembang dan bisa jadi, teori yang sebelumnya diakui kebenarannya tidak lagi diakui bahkan digugat.
Psikologi bukan ilmu para tukang ngetest. Psikologi bukan ilmu ramal. Psikologi bukan ilmu dukun. Psikologi bukan ilmu abrakadabra. Psikologi itu ilmu yang validitas dan reliabilitas bisa diuji, oke?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar