Jumat, 29 Juni 2012

Adakah yang Menangis saat Saya Mati Nanti?

Kapan kamu mati?
Seseorang dengan wajah teduh bertanya pada saya
Sore itu, saat adzan asar bergema dengan merdu
Hari hampir habis
Mungkin beberapa waktu lagi akan mati

Saya tercengang, 
Berpikir tapi tak tahu apa yang harus saya pikir
Entah,
singkat dengan sedikit ragu saya menjawab

Jalanan sore itu berdebu
Saya terbatuk, dahak berkumpul di tenggorokan
Meludah
Ah, mungkin suatu saat saya akan meludahkan nyawa

Wajah teduh itu tetap memandangi saya,
Saya rasa
Saya membuang muka
Menunggu waktu asar habis berganti maghrib

Mungkin besok saya mati
Saya berlenggang
Sampai jumpa di hari kiamat nanti, Hari

Selasa, 26 Juni 2012

Sedang Butuh Ditampar!

Beberapa minggu terakhir ini adalah episode terlemah saya. Jika gangguan bipolar memiliki episode-episode manic-depresif, sepertinya saya sedang berada dalam episode depresif. Saya berada di titik nadir!

Pertanda futur itu ada dua. Kondisi jiwa yang memburuk atau stagnan, tidak berusaha meningkat dan tidak mengalami kemunduran. Akan tetapi bukankah setiap yang tidak berkembang sama saja dengan mundur?

Berada di titik nadir berarti saya berusaha menjadikan diri saya, baik lahir ataupun batin, berada seaman-amannya dalam comfort zone, zona teraman bagi ego saya. Saya malas keluar rumah. Saya malas bangkit dari kasur. Bahkan jika memungkinkan saya akan selamanya tidur *sayangnya itu tidak mungkin.

Mengamankan ego dengan berada di zona aman sama dengan melarikan diri dari realitas. Karena bagi saya, terutama saat ini, realitas yang terjadi adalah keadaan yang mengancam. Mengancam kedirian saya, mengancam ego saya, dan membuat diri saya berkubang dalam kecemasan. Satu-satunya cara adalah melarikan diri dari realitas. Yaaahhh.. dengan membangun perisai mekanisme diri yang tebal dan berlapis.

Saya membaca buku motivasi. Saya membaca novel. Saya menonton film. Saya tidur. Itulah upaya melarikan diri dari realitas yang mengancam. Menurut hemat saya, pelarian diri yang paling aman adalah tidur. Bukankah dengan tidur, kita membuat mimpi-mimpi sendiri. Semacam limbo mungkin..

Sayangnya, melarikan diri terus-menerus itu justru menyakitkan. Bukan menjadikan diri saya aman. Saya muak dengan pelarian diri saya. Saya menghindari telpon dan pesan yang menyakitkan. Saya menghindari info lomba yang biasanya saya nantikan. Saya bahkan merasa phobia campus. Saya amat sangat malas mendatangi kampus karena disitulah realitas menyakitkan itu terjadi (Bluntly speaking, skripsi just made me mad :)

Saya menyadari bahwa pelarian diri hanyalah menghindari kesakitan kecil tetapi menyongsong kesakitan yang mahabesar. Kesakitan dan kemalasan saya adalah tanda ketidakcintaan saya terhadap diri saya. Saya tidak cinta diri saya. Saya membiarkan diri saya terpuruk padahal saya tahu saya harus bangkit. Saya membiarkan diri saya melepaskan kesempatan padahal saya sadar bahwa kesempatan itu tak mungkin kembali. Saya membiarkan diri saya malas padahal untuk menggapai mimpi-mimpi, saya harus bekerja keras. Saya tidak mencintai diri saya sehingga saya menjadikan diri saya menuju jurang kegagalan.

Saya butuh segera diingatkan. Dibangunkan. Disadarkan. Bahkan ditampar jika kognitif saya tidak juga menggerakkan.

Saya rasa saya memang butuh ditampar, ditendang, atau mungkin dijatuhkan dari gedung tertinggi agar segera sadar bahwa saya harus segera, lebih mencintai diri saya sendiri!

Minggu, 03 Juni 2012

Ingin Menangis

Ibu, mengapa menangis?
Karena Ibu bahagia anakku..
Bukankah menangis itu karena sedih
Kalau berbahagia, mengapa itu tidak tertawa

Dialog itu sudah puluhan kali terdengar
Tetapi mengapa jua saya tak mengerti
Menangis karena haru
Menangis karena bahagia
Menangis karena tersentuh

Asap jalanan pagi ini terlalu pekat
Karenanya saya menangis
Bukankah menitikkan air mata itu menangis?

Drama malam ini menyedihkan
Ayahnya meninggal
Ibunya pergi
Sendiri itu mengenaskan
Dan menangislah saya

Saya terjatuh dari motor
Lecet dan tergores di kaki saya
Karenanya saya menangis, sakit

Kursor komputer berdetik satu-satu
Pagi ini Ibu pergi, tak kembali
Siang tadi adik menjerit
Esok tumpukkan tugas ini harus selesai

Saya tak menangis
Saya tak tertawa
Karena sesungguhnya
Saya tak merasakan apapun