Senin, 19 Maret 2012

Agama: Bukan Candu!

Saya senang sekali membaca novel dan menonton film. Jika terlalu sering semua itu menjadi candu bagi saya. Stres mengerjakan skripsi, saya selesaikan dengan menonton film. Dikejar target, saya selesaikan dengan membaca novel. Saya meng-coping kecemasan saya dengan cara-cara yang tidak menyelesaikan masalah hanya menetramkan kecemasan dan cenderung lari dari masalah.

Akan tetapi, saya pun perlu membaca novel dan menonton film. Ada hikmah yang bisa saya ambil. Ada kelegaan diantara kepenatan rutinitas. Saya merasakan nafas baru. Kadang, dengan itulah saya mampu berempati dan mendapatkan inspirasi baru untuk menyelesaikan masalah-masalah saya. Membaca novel dan menonton film tidak menjadi candu tetapi menjadi sarana lain bahkan bantuan untuk menyelesaikan masalah saya.

Saya sering tersindir dengan Karl Max yang mengatakan bahwa 'Agama itu Candu'. Agama itu candu karena sering kali orang-orang mencari pembenaran melalui agama. Orang beragama sering menjadikan agama sebagai coping emosi. Layaknya saya mencoping stres saya dengan menonton film, agama, dianggap Karl Max, menjadi candu yang membantu untuk menghindari dan lari dari masalah.

Candu dari mana? Ungkap saya dengan kemarahan! Sayangnya, kemarahan yang ungkapkan hanya membenarkan statemen dari Karl Max. Shalat sering menjadi cara untuk menghindari pertengkaran. Doa sering menjadi pelepas kecemasan. Sayangnya, ritual ibadah sering dilakukan kami untuk menyelesaikan masalah padahal JELAS bahwa itu semua tidak menyelesaikan masalah!

Shalat tidak akan menyelesaikan skripsi saya. Doa tidak akan mendamaikan pertengkaran saya dan adik saya. Dzikir tidak bisa membuat motor saya kepling seperti habis dicuci. Ibadah tidak akan mengakibatkan apa-apa ketika kita memang tidak melakukan apa-apa untuk menyelesaikan masalah!

Saya sering terpekur dan membenarkan. Memang, saat ini, seperti yang kami dan banyak orang lakukan, menjadikan agama sebagai candu mereka. Berharap hutang terbayar dengan berdzikir ribuan kali. Berharap ujian lulus dengan shalat dhuha setiap hari tanpa belajar. Berharap skripsi lulus dengan bersedekah jutaan rupiah.


Bukankah Allah justru memerintahkan untuk berusaha. Bukankah Allah menyuruh kita bekerja keras. Bukankah Allah meminta kita untuk menjadi doa dan shalat sebagai charger motivasi untuk berbuat dan berkarya lebih?

Saya shalat dan saya bekerja. Saya berdoa dan saya berusaha. Dengan ibadah, saya mampu berjalan lebih panjang dan lebih jauh! Agama bukan candu, Tuan!

2 komentar:

  1. sudah baca buku Karl Marx yang berisi pemikiran "agama adalah candu"?

    BalasHapus
  2. maksudnya critique of hegels? sudah tetapi baru sebagian.
    ada yang bisa dibagi?

    BalasHapus