Selasa, 06 Desember 2011

Skripsweet 1: Sulitnya Memulai

F=0

Hukum Newton I berbunyi setiap benda akan cenderung mempertahankan kondisi awalnya (hukum kelembaman). Ini berarti benda akan terus diam ketika kondisi awalnya diam dan akan terus bergerak ketika kondisi awalnya bergerak. Kalau kita analisis teori ini, setiap benda itu cenderung istiqomah dengan jalan yang diambilnya :)

Nah, sekarang konteksnya adalah proyek skripsi saya. Karena kondisi awal saya belum mengerjakan skripsi maka, hingga 2 minggu sebelum semester ini selesai saya masih istiqomah belum mengerjakan apapun *jeger! Parah separah parahnya parah. Saya menyia-nyiakan tiga bulan dalam hidup saya tanpa mengerjakan skripsi.

Kalau mau bikin alasan, saya bisa bikin 1001 bahkan 1000001 alasan. Toh, denial dan rasionalisasi masih kuat mengakar dalam diri saya :D Karena saya sadar saya adalah orang yang kebanyakan alasan, suka menunda-nunda, terlalu -atau kepaksa- percaya dengan mantra the power of kepepet, maka saya berusaha mengkondisikan diri saya untuk terus mengerjakan skripsi.

Saya dan tiga teman saya (yang nasibnya tak jauh berbeda dengan saya) membuat kontrak perilaku. Tappiii, apa daya, sudah dua kali saya kena denda. Ketiga ini dapat hadiah payung rusak :DDD

Sebelum saya memulai skripsi, saya selalu berpikir kenapa kakak-kakak senior saya tidak segera lulus. Tak segera menyelesaikan skripsinya, toh mereka tidak mengambil SKS lain kecuali skripsi. Meskipun saya masih mengambil beberapa SKS selain skripsi, akhirnya saya menyadari betapa tebalnya dinding yang membatasi saya dan skripsi (*lebay mode on:)

Galau judul. Bingung latar belakang. Geje metodologi hingga analisis data. Atau malah takut-kalut-degdegan kalau mau bimbingan dengan dosen pembimbing. Ganjelannya berasa sebesar gunung Jayawijaya :D

Huuaahhh.. meskipun momen inersia baik bagi keistiqomahan tetapi bukan saatnya saya menerapkan rumus itu pada diri saya. Saya harus langsung bergerak pada hukum newton ketiga F=ma. Saya harus segera berusaha, sebesar dan sekuat mungkin supaya segera lulus.

Pokoknya, Juli saya harus sudah LULUS!!!!

Minggu, 04 Desember 2011

Saya dan Kegilaan

Jangan baca artikel ini! Suer, ini post yang ditulis karena saya merasa cukup gila untuk mengerjakan tugas. Daripada saya mengerjakan tugas asal-asalan, mending posting di blog, asal-asalan tetep halal kan? 

Hampir tidak ada hari yang totally free buat saya santai-santai, nonton TV sampai TVnya panas, ataupun main-main nggak jelas bareng adik-adik saya. Jika itu terjadi, berarti saya lagi gila, malas ngerjain tugas, kabur dari tanggung jawab, atau pura-pura mengalami fugue dissosiatif .

Jika saya sedang gila, deadline yang tiga jam lagi nggak bakal ngaruh. Saya akan tetap saja nonton film. Kalau nggak ada film, saya bakal searching film apa yang kayaknya enak ditonton atau malah streamingan film. Nyari-nyari banget .

Seharian bisa nonton sampai tiga film, dua reality show dengan durasi masing-masing satu jam, baca 2 novel setebel twilight saga. Yang menghentikan saya cuma sholat. No mandi, no makan. Mata saya bisa beloo. Kebanyakan nangis atau kelamaan kena radiasi. Agenda mau beres-beresin kabar bubar! Ngerjain tugas nggak jadi! Semua rencana yang saya buat malam hari gatot, gagal total!

Yang jadi gawat ketika hari gila saya berulang dalam bulan yang sama. Sekali sebulan, it's okay. Dua kali sebulan parah. Tiga kali sebulan, saya bisa bonyok digebukin orang-orang yang saya janjiin kerjaan.

Yaa.. Intinya saya cuma mau bilang, nyuwun ngapunten dumateng para rencang. Maaf yaa, otak saya lagi mogok :DDDD

Kamis, 24 November 2011

Hearty Paws (마음이)

Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Kids & Family
A Heart Warming movie!

Film ini bercerita tentang Chan Yi (Yoo Seung Ho) dan adiknya, Sol Yi (Kim Hyang Ki, adik lucu yang main di Wedding Dress) yang hanya tinggal berdua, eh bertiga dengan anjing kesayangan mereka, Maeumi. Ayah mereka meninggal sedangkan Ibu mereka meninggalkan mereka tanpa kabar yang jelas.

Film ini dimulai dengan ulang tahun Sol Yi dengan hadiah dari sang kakak, puppy lucu yang sebenarnya adalah curian. Kemudian, dimulailah kisah. Bagaimana Chan Yi menjalani hidup, mengasuh Sol Yi, berangkat sekolah, tingkah polah kakak-beradik yang lucu dan menggetarkan.

Masalah dimulai ketika Sol Yi, adik yang lucu dan cengeng ini meninggal tenggelam di danau yang membeku karena Maeumi. Chan Yi marah, meninggalkan dan membuang Maeumi, pergi ke Busan mencari Ibunya. Sayangnya, Ibunya justru menganggapnya angin lalu dan Chan Yi menjadi anak jalanan.

Film ini seddiihhh.. banget. Dari awal cerita, mata dan hidung ini meler teruss.. Sol Yi yang kangeen sekali dengan Ibunya dan yakin bahwa suatu saat nanti Ibunya pasti kembali. Chan Yi yang marah namun sebenarnya sangaat rindu kepada Ibunya.

Meskipun saya paling nggak suka film yang ngomongin binatang, entah itu simpanze, anjing, kucing, atau paus yang pinter main basket atau bola macem air bush gituu.. Tappi SUERR!! film ini bagguuss banget.

4 thumbs up untuk film ini. Yoo Seung Ho dengan akting nangis dan marah yang keren banget juga adik lucu dengan akting yang nggak main-main. Bikin nangis terus kalau inget :'(

Yups, film yang heart warming ini jelas-jelas mengingatkan bahwa anak itu berharga banget. Jangan pernah buang-buang anak apalagi menganggapnya invisible. Finally, happy watching eh sad watching! You have to cry ^^V

Pesan tambahan: Kalau memang nggak niat mau ngurus anak, jangan pernah berniat untuk punya anak! Suer, nggak bertanggung jawab banget kan kalau punya anak terus dibuang-buang!!

Selasa, 22 November 2011

Bicara Cinta!

Saya sering sekali baca status galau tentang cinta, nonton film melodrama yang sampai berdarah-darah nangisnya, baca novel chiklit, teenlit, roman yang semuanya bicara cinta, bahkan artikel-artikel di yahoo pun banyak banget tentang bagaimana menarik cinta pada dirimu dan hatimu. Cinta yang saya tulis disini bukan cinta yang universal lho! Cinta orang tua pada anak, cinta pada sahabat, cinta pada tanah air, ataupun cinta pada agama. BUKAN! Yang saya tulis disini benar-benar cinta yang sangat spesifik dan menjadi bahan asyik laki-laki - perempuan di semua usia dan semua area. Cinta antara laki-laki dan perempuan.

Kalau saya baca, saya dengar, saya lihat, semua aspek senang sekali bicara cinta. Dari lagu slow ballad yang emang pangsanya nangis-nangisan sampai lagu band rock and roll yang tampangnya sangar tapi hatinya mellow. Lebih mellow dari saya, padahal saya lebih suka lagu ballad :p

Dari semua itu, saya selalu berpikir. Dari usia saya SMP, SMA, sampai sekarang semester VII, saya belum dapat jawabannya. Kenapa orang bisa jatuh cinta, pada orang tersebut, waktu tersebut, dan saat tersebut. Apa alasannya?!?

Pencarian tersebut saya mulai dari SMP, masa awal rain and storm (wkwkwkwk) dimana banyaak sekali teman-teman saya yang riuh rendah membahasnya. Kemudian SMA, saya bahkan bertanya pada teman-teman saya yang sudah menjalin hubungan dengan lawan jenis (maksudnya pacaran:). Kenapa kamu memilih pacaran, dan kenapa laki-laki itu yang jadi pacarmu? Begitu tanya saya. Tetapi jawabannya selalu tidak memuaskan logika berpikir saya. Kalau saya bisa memahami proses atensi di otak, kenapa saya tidak juga memahami proses cinta dalam diri seseorang yaa..

Kata Stenberg, cinta itu terdiri dari commitment, passion, dan intimacy. Commitment dan intimacy ada dalam hubungan pertemanan yang akrab. Passion dan intimacy ada pada pasangan kumpul kebo yang tidak memahami pentingnya komitmen tertulis bahkan kepemilikan pasangan. Bahkan passion saja bisa membentuk hubungan, hubungan kacau PSK dengan kliennya ataupun para pemerkosa.

Kata Islam, keluarga yang penuh cinta itu punya sakinah, mawaddah, warahmah. Ketenangan, rasa saling menyayangi dan memelihara, rahmah. Kalau menurut saya, cinta itu terbentuk yaa harus karena cinta pada Allah. Kita mencintai orang-orang yang mencintai Allah. Begitu bukan?

Kadang saya berpikir, sudah ada belum ya, penelitian fenomenologis yang membahas pemilihan pasangan dan decision makingnya. Bukannya kalau kita memilih pasangan yang kita lihat adalah bibit, bebet, bobotnya? Yang paling baik adalah memilih pasangan karena agamanya, setelah itu baru nasabnya, wajahnya, daann hartanya. Meskipun kalau pilih pasangan hidup, saya pasti pilih laki-laki yang pintarnya tingkat dewa 

Tappiii, bukannya orang yang masuk kriteria itu ada banyyaaakk sekali. Ada banyak orang sholeh di dunia ini. Ada banyak orang tampan di dunia ini. Ada banyak orang yang lahir dari keluarga yang baik di dunia ini. Ada banyak orang kaya di dunia ini. Dan ada banyak pula orang yang punya kesemuanya di dunia ini. Lalu, kenapa memilih orang yang ini? Saya sama sekali belum bisa memahami. Kurang nyaman, kurang cocok, kurang sreg, nggak ada chemistry. Itu benar-benar alasan atau sekadar alasan menolak? Wadduuhhh.. saya benar-benar bingung.

Atau memang karena saya tidak punya pengalaman yaa? Hahahaha, hidup saya kan bukan seperti Thorndike yang trial-error, mosok yaa.. butuh trial-error juga mencari pasangan hidup yang tepat. Yaa, sudahlah, mungkin saya belum tahu jawabannya sekarang, mungkin suatu saat nanti. Kata orang time solve everything, saya tunggu pembuktian saja :D

Yang jelas, mari mencinta. Mari mencinta dunia, mari mencinta semesta. Selamat mencinta kawan!!

Jumat, 11 November 2011

Witing tresno jalaran saka kulina


Saya tidak suka kucing! Sebenarnya justru bisa dikatakan bahwa saya membenci kucing. Menurut hemat saya, kucing selayaknya penjilat, mirip dengan tikus yang dikonotasikan sebagai tukang korup. Mengeong-ngeong lemah, manja, lalu berjalan sambil menggelendot di kaki majikannya. Jika kucing seperti itu, pasti ia menginginkan sesuatu. Entah makanan, air, bantal empuk, atau sekadar dielus-elus. Menjijikkan bukan. Alaminya, kucing itu memburu tikus. Memakan tikus untuk hidup. Mencari makanannya sendiri. Jika tidak, berarti itu penyimpangan! Deliquent!!!

Akan tetapi, karena lima ekor kucing di rumah saya yang secara otomotis mirip seperti panti asuhan kucing memaksa saya bersikap. Dicintai adik-adik saya. Berkeliaran sepanjang hari disekitar saya. Mau tidak mau, rela tidak rela, saya harus menerima kehadiran mereka. Lama-lama saya menjadi cukup memperhatikan, hapal nama-namanya, bahkan memberinya makan. Saya merasa terpaksa untuk meridhoinya. Begitulah. Witing tresno jalaran saka kulino.

Banyak dari kita hidup dengan mantra witing tresno jalaran saka kulina. Hampir di semua aspek kehidupan. Tidak suka makan buah, ketika dipaksa kemudian terbiasa akhirnya mencintai buah. Terpaksa masuk ke psikologi tetapi setelah kuliah satu hingga dua semester justru jatuh cinta dengan psikologi dan semakin mendalaminya. Bahkan, banyak sekali drama, sinetron, bahkan kehidupan percintaan yang fell in love karena terbiasa dan yup, simsalabim abrakadabra. Mencintai karena terbiasa dan terasa janggal jika tidak ada. Bisa jadi apa yang kita inginkan dan kita harapkan bukanlah yang terbaik bagi kita. Begitu bukan?

Hal yang aneh pun bisa kita anggap biasa, wajar, hingga kita cintai karena terbiasa. Wedges tidak dikenal perempuan jawa, dulu, tapi kini, sangat digemari.  Celana panjang yang tidak biasa digunakan perempuan, kini hampir semua perempuan memakainya. Kini, perempuan yang sekolah tinggi dan bekerja adalah biasa, padahal dahulu adalah hal tabu. Normal dan biasa menjadi sebuah kesepakatan umum tentang suatu hal. Yang diterima mayoritas itu lah yang normal.

Sayangnya, witing tresno jalaran saka kulina ini ternyata berdampak lebih jauh dibanding yang dibayangkan. Bergandengan dan berciuman dipinggir jalan dianggap biasa. Memakai rok super pendek menjadi mode yang harus diikuti. Menonton video amoral dikatakan wajar, jika tidak, justru dikatakan munafik. Korupsi adalah manusiawi, jika tidak mau korupsi berarti sok alim dan berlagak malaikat.

Ketika masyarakat menganggap keburukan menjadi hal biasa, bukan lagi tabu. Maka, kurve dan grafik kewajaran menjadi bergeser. Yang baik dikatakan abnormal. Yang buruk dikatakan normal. Yang amoral dikatakan trend. Yang bermoral dikatakan munafik. Yang benar jadi salah. Yang salah dibenarkan.

Wah..wah..wah…. Jika begini adanya apakah mantra witing tresno jalaran saka kulina menjadi benar untuk dilakukan. Memang hal buruk yang menimpa harus dihayati dan diambil hikmahnya. Tapi kalau kita sudah terbiasa dan terlanjur tresno dengan keburukan. Alamak.. jangan-jangan mata kita buta dan otak kita sudah bebal, tahi ayam jadi berasa coklat!!

Jumat, 28 Oktober 2011

Kenapa Saya Masuk Psikologi?

Sampai saat ini saya masih memiliki keraguan dalam menjawabnya. Yang saya tahu, saya ingin menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang sehat dan hebat. Lalu bagaimana?

Banyak orang menyuruh saya ini, itu, begini, begitu, dan sebagainya karena saya mahasiswa psikologi, karena saya -katanya- paham tentang kedirian manusia.
"Kamu kan mahasiswa psikologi, harusnya tahu menjaga emosi!"
"Kamu kan mahasiswa psikologi, harusnya bisa mendidik. Bisa memodifikasi perilaku!"
"Kalau gitu buat apa masuk psikologi!!!"

Saya sakit hati, sungguh! Harga diri saya, martabat saya, kedirian saya, dihancurkan, diremehkan, diinjak-injak berkeping-keping. Remuk.
Saya marah! Muntabbb!!!

Atas dasar apa orang menghakimi saya dan menilai saya seperti itu?
Atas dasar apa orang mengklaim bahwa ilmu saya tak berguna?
Mending saya punya ilmu, lha situ gimana? itu pikir saya yang mulai sengak.

Bukankah banyak para dokter yang juga sakit-sakitan?
Bukankah banyak guru yang menipu dan melakukan plagiasi?
Bukankah banyak penegak hukum yang melanggar hukum?
Juga, bukankah banyak psikolog profesional yang mumpuni tapi mood-moodan bahkan bercerai!
Lalu, apa salah saya! Toh saya masih mahasiswa, belum punya ijazah. Dan toh saya tidak melakukan dosa..

Kemudian saya berpikir, apakah perkataan saya benar? Objektif?
Apakah saya melakukan yang haq dengan cara yang haq?
Atau ini hanya rasionalisasi saja karena saya sedang marah..

Idealnya, seorang psikolog mampu memodifikasi dirinya dan lingkungannya.
Idealnya, seorang dokter memiliki gaya hidup sehat.
Idealnya, seorang penegak hukum sangat taat hukum.
Idealnya, guru menjadi teladan, baik perkataan, perilaku, ataupun buah pikirannya.
Akan tetapi, dalam realitas, gambaran ideal tidak berjalan se-ideal yang diinginkan. Ada kepapaan. Ada kecacatan. Ada khilaf. Manusiawi. Tetapi bukan untuk selalu meminta dipahami dan dimaklumi.

Saya sadar. Seharusnya saya menjadi sosok psikolog, ilmuwan psikolog yang ideal.
Tetapi, bukankah hidup itu life time education?

Saya masih belajar dan pasti akan saya amalkan. Persis nama saya, Amalia Fauziah.

Biarkan orang lain menghakimi, menilai, mencaci, atau mendikte saya. Akan tetapi, pasti, suatu saat nanti, kini hingga nanti, saya akan menjadi psikolog dan ilmuwan psikolog yang ideal.
Psikologi bagi saya, anda, dan semua!

Saya janji! PASTI!!!

Rabu, 12 Oktober 2011

Ichi Rittoru no Namida (1 litre of tears)

Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Kids & Family
こんにちは、お元気ですか?
Kon'nichiwa, o genkidesu ka?

After re-watching 1 litre of tears, I exactly glad to make it's review. Drama ini sudah dirilis sejak 2005 dan meskipun sudah hampir 6 tahun, masih banyak yang menyukainya, termasuk saya :)

Lucu rasanya ketika saya hendak menulis reviewnya karena saya hampir yakin, kalian semua pasti sudah pernah menontonnya. Allright, I just want to write my opinion about this drama..

Kalau mau mengatakan bahwa drama ini berjudul 1 litre of tears, judul ini bener-bener membuat kita menangis satu liter. Mungkin bisa lebih, setiap episodenya yang ada 11 ini, pasti meminta kita untuk menangis tersedu-sedu. Entah perasaan Ikeuchi Aya (Erika Sawajiri) yang berjuang melawan penyakitnya, penerimaan keluarganya, hubungan dengan dengan teman, ataupun ucapan selamat tinggal pada Aso Haruto (Ryu Nishikido).

Waduh.. jadi spechless karena kepingin nangis. Almost, di setiap drama yang menyentuh dan melibatkan perasaan mendalam ataupun hikmah, pertanyaan yang paling hakiki adalah untuk apa saya hidup, apa tujuan dari kehidupan yang saya jalani.

Hikmah ini juga muncul di 1 litre of tears. Mengapa Aya tetap hidup dan memilih untuk berjuang dalam hidupnya tentu didasari pada pertanyaan akan hakikat kehidupannya. Ketika seseorang tidak melihat adanya masa depan, kehampaan hidup, atau tidak ada lagi gunanya hidup. Hal paling mendasar yang membentengi orang tersebut untuk tetap hidup, berjuang untuk terus bermakna dalam hidup, dan bahagia akan hidupnya adalah prinsip tersebut.

Tidak mungkin seseorang yang tidak yakin akan tujuan hidupnya akan berjuang sekeras itu untuk hidup. Ketika seseorang memilih untuk terus hidup, tentulah ia memiliki pengharapan atas kehidupannya. Masa depan.

Saya rasa, ketika saya berada di kondisi Aya, yang kemudian tidak memiliki alasan mengapa saya harus bertahan hidup. Saya akan memilih mati. Toh, untuk apa saya hidup karena sudah bisa dipastikan masa depan saya pasti kelam, waktu saya terbatas, dan saya akan kehilangan semua kemampuan saya seberapa keras pun saya menempa.

Two thumbs up! Untuk orang-orang hebat yang meski waktunya sudah dipastikan singkat tetapi tidak pernah kehilangan semangat untuk berjuang.

SEMANGAAT!!! Karena kita tidak tahu apa yang terjadi di depan, bukankah ini menyenangkan untuk mengguratnya perlahan dengan pengharapan dan kesenangan yang besar. Mari hidup, mari berjuang, mari berkarya!

Minggu, 02 Oktober 2011

TAEGUKGI: The Brotherhood of War

Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
A Great Film!
Kesan pertama saya setelah selesai nonton film ini. Baru kemarin saya selesai nonton film ini dan sekarang udah nulis reviewnya :). Sudah pernah nonton film ini? Film ini adalah film yang melambungkan nama Wonbin karena memang aktingnya keren banget.

Taegukgi, film ini berkisah tentang dua kakak-beradik Lee Jun Tae (Jang Dong Gun) dan Lee Jun Seok (Wonbin) dengan setting Perang Korea di tahun 1950. Film ini dimulai dari penggalian para arkeolog di tempat dimana pernah terjadi perang Korea lima puluh tahun kemudian. Lee Jun Tae adalah seorang kakak pembuat dan penyemir sepatu yang sangat menyayangi adiknya dan mencintai Ibunya yang tak lagi bisa bicara setelah ayahnya mati. Lee Jun Seok adalah pemuda berusia delapan belas tahun yang pintar. Cita-cita Jun Tae adalah menjadikan Jun Seok masuk universitas.

Keluarga tersebut bahagia. Beserta Young Min (Lee Eun Joo), tunangan Jun Tae, dan tiga adiknya, mereka hidup bahagia hingga pecahlah perang Korea di awal tahun 1950 sehingga muncul wajib militer. Disinilah cerita dimulai. Kedua bersaudara ini kemudian dikenai wajib militer dan berperang dalam satu batalyon. Jun Tae yang sangat menyayangi adiknya berobsesi mendapatkan medali sehingga ia dapat mengirim Jun Seok pulang. Jun Seok yang lemah fisiknya tidak suka melihat kelakuan kakaknya, ia ingin bersama dengan kakaknya.

Intrik kakak beradik, panasnya kondisi psikologis perang sangat tergambar dalam film ini. Keren banget! Semua darah, ledakan, tembakan feel so real dan mengerikan. Adegan yang paling mengerikan adalah ketika operasi dilakukan manual tanpa pembiusan hingga luka yang ditempeli belatung. Ngenes banget :(

Saya sarankan buat yang nggak kuat liat darah, tembak-tembakan yang sadis, atau jarang nonton film action, waspada saja karena hampir 85% film ini isinya kekerasan perang. Suer! nonton film ini sambil merinding, menyengit sadis, dan nangis.

Klimaks film ini mulai tampak ketika Jun Seok semakin tidak menyukai perilaku Jun Tae yang sepertinya gila hormat. Jun Tae tidak lagi seperti Jun Tae yang dulu, menjadi lebih sadis dan tidak berperikemanusiaan. Hingga akhirnya Jun Seok hilang kepercayaan pada kakaknya.

Adegan paling mengharukan ketika Young Min mati ditembak gerakan anti-komunis yang menuduhnya berubah haluan menjadi komunis. Jun Tae dan Jun Seok berusaha melindungi tapi tak sanggup hingga akhirnya mereka berdua dituduh menjadi pemberontak. Mereka berdua kemudian terpisah dimana Jun Tae mengira bahwa Jun Seok telah mati dibakar oleh batalyon tempat mereka di penjara.

Klimaks yang sangat mengharukan ketika Jun Seok berusaha maju ke medan perang, menyerahkan diri pada Korea Utara untuk menemui Jun Tae yang berkhianat dan menjadi kapten di pasukan Korea Utara karena kekecewaannya atas kematian Jun Seok. Mereka berdua bergumul, bertarung, hingga Jun Tae sadar bahwa Jun Seok masih hidup tetapi sayangnya Jun Tae akhirnya mati ditembaki seribu peluru.

Dalam film ini kerasa banget permainan politik di dalamnya. Korea Selatan dibantu USA sebagai lambang kapitalis dan Korea Utara dibantu Cina adalah komunis. Permainan kepentingan memang selalu ada dalam perang, menyedihkan :(

Yang paling suprising for me adalah kondisi perang yang sangat panas, jauh dari keakraban dan Tuhan. Penuh dengan umpatan, hawa nafsu, kemarahan, dan perang yang tanpa adab. Yakin deh... Isinya kayak orang yang nggak bermoral dimana mereka (baik KorSel ataupu KorUt) menembaki pasukan tanpa senjata, membunuhi penduduk. Sadiss gila!!

Sewaktu nonton film ini memang bener-bener miris. Komunis vs kapitalis memang sudah musuhan sejak zaman purba. Perang ini pun adalah perang komunis vs kapitalis. Mereka berbeda dan nggak mungkin bisa bersatu (ini pikirku).

Yang jelas perang memang selalu membawa kesengsaraan bagi siapapun, dan memang ada beberapa hal yang hanya bisa selesai dengan perang (kayak kemerdekaan kita, kan harus perang, perundingan nggak pernah ada benernya)

Coba mereka orang Islam (begitu pikirku), Islam tidak mungkin sadis seperti itu karena Islam punya adab berperang. Coba yang perang orang Islam, pasti tidak akan muncul kesengsaraan macam itu. Perang dalam Islam nggak mungkin mbunuh tawanan, mengadu mereka seperti ngadu ayam, membunuh penduduk sipil, dan mengumpat-umpat karena Islam membunuh bukan dendam tetapi karena mereka adalah musuh (tuh.. Islam emang keren banget kan :)

Meskipun perang adalah solusi terakhir yang sangat terpaksa diambil, mbok ya nggak gitu-gitu banget kalau perang. Di film, ini, kondisi perang menjadikan mereka tidak lagi manusia, sudah persis seperti binatang, ngeri banget! Kayak nggak punya perasaan lagi.

Yang pasti, film ini keren banget!!! Mulai dari ceritanya, akting pemainnya, darah, tembakan, atau ledakan yang so real dan ngeri banget, hingga hikmah yang bisa diambil. Nonton film ini justru menjadikan aku lebih cinta Islam dan yakin kalau aturan dan moral dalam Islam bener-bener jawaban.

Nonton film ini bikin kamu nangis darah, banjir air mata melihat persaudaraan mereka berdua dan semakin benci sama perang yang cuma bisa memberikan penderitaan. Selamat nonton, selamat mengurai hikmah!

Kesppi : saya cinta Kesppi, saya cinta berjuang

Mengingat awal tahun 2011, sudah masuk bulan kesepuluh di tahun 2011. Benar-benar cepat berlalu, tidak terasa. Satu saat saya iseng membuka artikel yang pernah saya tulis. Lalu, terbuka lah file ini. Artikel ini saya tulis sebagai tugas Up Grading Kesppi. Saya jadi mulai merefleksi diri, mengingat kembali semangat dan keyakinan itu. Selamat membaca, semoga memberi hikmah


KARENA INI SEMUA ADALAH KEWAJIBAN

Tahun ini adalah tahun ketiga saya berada di Kesppi dan tahun kesepuluh  berdirinya Kesppi. Bagi saya, hitungan tahun itu bukan lah hitungan yang sedikit dengan makna yang sempit. Jika hendak dianalogikan, dengan tiga tahun, bayi sudah menjadi batita yang mampu mengucap kata-kata, berlari-lari kecil, bahkan mulai belajar berhitung. Dengan tiga tahun, murid SD sudah berubah menjadi lulusan SMP, ataupun murid SMP sudah berubah menjadi lulusan SMA yang pastinya semakin matang dan mantap. Begitu pula dengan usia Kesppi yang ke dasawarsa, seharusnya telah mampu mengubah Kesppi menjadi organisasi yang mantap dan bermanfaat.

Menulis essai ini mengingatkan saya pada sepenggal ayat yang saya sukai. Intansurullaha yansurkum wa yutsabits aqdaamakum. Tolonglah agama Allah maka Allah akan menolongmu dan meninggikan derajatmu.

Masuk bulan ketiga setelah Musyawarah Besar yang memutuskan saya menjadi Ketua Kesppi 2011 dan satu bulan setelah Bu Iin melantik saya menjadi Ketua Kesppi 2011 adalah masa-masa yang amat berat. Saya merasakannya lebih berat dari September-Oktober tahun lalu saat harus mengurus Seminar dan Lomba Essai yang penuh tantangan. Menghabiskan tiga bulan terakhir sering membuat saya goyah untuk berada di Kesppi. Amanah sebagai Ketua Kesppi merupakan amanah terberat yang pernah saya terima dalam hidup saya setelah amanah menjadi hambaNya. Saya ragu bahakan hingga saat menuis essai ini, saya ragu bahwa tempat ini adalah tempat yang tepat bagi saya.

Izinkan saya menceritakan tiga bulan berat dalam setahun terakhir hidup saya. Setelah MuBes mensyahkan saya menjadi Ketua Kesppi 2011. PR besar yang sudah terendap dalam otak saya kembai mengembang dan membengkak. Saya membaca beberapa artikel yang menguatkan saya bahwa menjadi ketua itu berat dan harus memberi sebuah perubahan. Tuntutan tim formatur untuk segera rapat dan membentuk kepengurusan 2011 begitu menekan. Libur UAS dan SP, terasa bukanlah liburan tetapi tumpukan amanah yang masih harus saya tanggung selama satu tahun.

Menyelesaikan proposal besar, rapat-rapat koordinasi dengan senat, sidang, hingga rapat penentuan jadwal menjadi agenda wajib saya. Berat-berat-sangat berat. Bahkan tahun baru yang biasanya saya habiskan dengan menonton film atau sekadar tidur nyenyak pun sulit saya lakukan. Tahun baru saya habiskan untuk mengitung detail anggaran Kesppi, berkali-kali, seteliti mungkin yang saya bisa. Tahun baru bukanlah saat saya menghela nafas lega namun saat saya menghirup nafas dengan berat dan kekhawatiran mampu kah saya?

Jika Umar bin Khattab merasa rubuh saat dibai’at menjadi khalifah setelah Abu Bakar, begitu pula yang saya rasakan ketika disyahkan sebagai Ketua Kesppi 2011. Rasanya yang saya mampu hanyalah menangis. menangis karena hanya hal itu yang mampu saya lakukan. Saya tak mampu menolak, saya tak mampu mengindar. Saya tak mampu mangkir, saya tak mampu berkelit. Saya, sungguh, tetap berada di tempat, tergugu, dan menangis. Sungguh, saya takut, amanah ini tak mampu saya laksanakan dengan baik dan membelit saya masuk neraka. Sungguh saya takut mendzolimi pengurus Kesppi, saya takut mendzolimi Kesppi.

Bulan Februari kemarin adalah bulan puncak rasa frustrasi saya. Bila mampu, saya ingin mengundurkan diri sebagai Ketua Kesppi 2011. Bila boleh saya ingin, sungguh. Bahkan di tiga bulan pertama, amanah sudah terasa begitu berat dan menakutkan.

Essai ini bukanlah essai tetapi cerita saya tentang diri saya. Maaf jika menjadikan essai ini meaningless.

Mengapa saya masih disini?
Inilah pertanyaan yang sampai saat ini tidak mampu saya jawab sesuai dengan nafsu dan keinginan saya. Jika saya mampu, sudah sejak lama saya mundur tetapi saya tak bisa. Semua ini sungguh bukan karena saya mencari penghargaan dan kedudukan sebagai ketua. Saya tak butuh, saya tak ingin! Satu-satunya alasan mengapa saya mau dan tetap disini apapun yang terjadi hanya karena ini adalah kewajiban!

Berada di Kesppi menjadi sebuah kewajiban. Perilaku yang bernilai fardhu ‘ain. Mengapa? Karena ketika saya berada disini motivasi utama adalah keridhoan Allah, yang kedua adalah idealisme Islam yang harus terus kita suburkan. Kita tidak punya pilihan lain kecuali itu.

Berada di Kesppi adalah sarana saya berdakwah dengan kompetensi yang saya miliki. Menjadikan masyarakat kita masyarakat yang madani seperti saat Nabi menjadi pemimpin dulu dengan tangan dan pikiran saya. Saya rasa, itulah mengapa saya masih disini dengan segala kepayahan yang menggilas sumsum tulang saya.

Karena saya muslim yang berusaha menjadi mukmin. Karena saya umat nabi Muhammad. Karena saya hamba Allah yang mengharapkan ridhoNya. Karena saya memiliki ilmu pengetahuan dan saya wajib mengamalkannya. Karena saya manusia hidup yang harus memberi kontribusi perubahan. Karena saya adalah Kesppier’s yang berintikan semangat membangun Islam dari psikologi. Karena saya adalah saya!

Sungguh, tidak akan kamu masuk surga sebelum kamu mendapat cobaan seperti umat-umat sebelum kamu. Biarkan ayat dari surat Ali Imron ini menginternalisasi diri supaya tetap berusaha sekuat Nabi Muhammad dahulu berjuang untuk agamaNya. Sungguh, semuanya tak pernah sia-sia.

Amalia Fauziah
21:49, 11 Maret 2011

Jumat, 09 September 2011

49 Days

Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Drama
Next korean drama's review :)
Drama ini aku tonton pas KKN di Kudus, yup Juli - Agustus ini. KKN bukannya kerja, malah nonton drama, hahaha

Good drama, menurutku, meskipun ide awal ceritanya nggak logis dan takhayul banget. Tapi, sejak drama ini masih tayang di korsel, udah kepengen nonton, kayaknya bagus, untungnya bener bagus :)

49 Days artinya 49 hari waktu untuk arwah seseorang yang mati untuk tetap di dunia sebelum pergi ke surga. Ini takhayul banget dan berdasar pada kepercayaan tertentu. Aku sih nggak percaya blaaasss sama kayak gitu. Cuma, dramanya emang bagus buat ditonton. Gives you many hikmah.

Cerita ini bermula dari kecelakaan yang menyebabkan Ji Hyun meninggal dunia. Cuma, karena kecelakaan ini benar-benar tidak terduga, bahkan tidak terduga oleh Scheduler (istilah shikigaminya -malaikat pengambil ruh). Jadi, kematiannya benar-benar tidak direncanakan. Itulah sebabnya Ji Hyun mendapatkan hak untuk memilih apa dia mau langsung mati atau bisa kembali hidup dengan mengumpulkan 3 tetes air mata dari orang yang benar-benar mencintainya setulus hari dalam kurun waktu 49 hari.

Tetes air mata yang menyelamatkannya tidak boleh berasal dari orang yang memiliki hubungan darah dengannya. Ini lah yang membuat Ji Hyun cukup shock dan bingung. Terlebih lagi air mata tulus yang benar-benar mencintainya tidak lah mudah. Untuk mendapatkan 3 tetes air mata, Ji Hyun diberi kesempatan untuk menggunakan tubuh Song Yi Kyung, wanita malang yang hidup nelangsa karena kepedihan yang sangat akibat kematian kekasihnya.

Dari sinilah cerita seru ini bermula. Keseruan tampak dari dua tokoh sentral, Ji Hyun dan Yi Kyung yang ternyata kehidupannya tidak sesederhana yang tampak. Kematian Ji Hyun berhubungan erat dengan rencana busuk tunangannya Kang Min Ho dan sahabatnya In Jung. Kondisi Ji Hyun juga membawa Han Kang, sahabat yang menyukai Ji Hyun terlibat. Ji Hyun dan Yi Kyung pun terhubung dengan nasib mereka berdua dan sahabat-sahabat yang berada di sekitarnya.

Drama ini membawa banyak hikmah. Mulai dari bahwa manusia memang memiliki banyak wajah dan sedikit ketulusan. Tetapi jangan khawatir, ketika kamu benar-benar tulus dan murni melakukan semua aktivitasmu, akan ada banyak orang yang benar-benar tulus dan murni mencintaimu. Drama ini juga membuatmu berpikir ulang tentang hidupmu dan bagaimana kamu menjalani hidup. Bagiku, drama ini cukup inspiring :)

Bagus! Itu komentar dari 2 temanku yang terseret dan ikut-ikutan nonton drama ini. Ketika kamu memulai nonton drama ini, kamu bakal takjub dengan hubungan yang mereka berdua miliki. What a fantastic fate!

Selain banyak hikmah, drama ini juga sweet banget (standar drama sih.. :) Apalagi terkuak bahwa scheduler adah Song Yi Soo, kekasih Yi Kyung yang meninggal dan menjadikan 5 tahun kehidupan Yi Kyung terpuruk. Adegan ketika Yi Soo muncul lagi dihadapan Yi Kyung adalah scene yang paling menyentuh. Nangiiiisss..

Apalagi episode 20, episode terakhirnya. Terkuak semua fakta yang mengejutkan, bahkan mengejutkan bagi sheduler. Penasaran?? Ayo tonton sendiri!

Renungi dan semoga bisa jadi bahan instrospeksi diri. Oke? Selamat nonton dan selamat menikmati!!! :))

Kamis, 08 September 2011

PENGUMUMAN! : Deadline Lomba Esai diundur.

Lomba Esai Psikologi Islami oleh Kelompok Studi Pengembangan Psikologi Islami (Kesppi) yang dijadwalkan ditutup tanggal 10 September 2011, diundur hingga 2 Oktober 2011. Hal ini dikarenakan adanya kesalahan teknis dan human error. Mohon maklum.

Catat tanggal PENTINGnya:
Batas pengumpulan Esai dan pendaftaran : 2 Oktober 2011
Pengumuman 5 finalis : 7 Oktober 2011
Diskusi Ilmiah Mahasiswa : 9 Oktober 2011

Masih banyak waktu untuk ikut berlomba. Ayo kirimkan esaimu! Mari menulis, mari berkarya!

Kesppi
no limit to learn and move


look more at http://kesppi.wordpress.com/2011/09/08/pengumuman-deadline-lomba-esai-diundur/


Minggu, 04 September 2011

Update Info Lomba Esai Psikologi Islam

Asalamualaikum wr. Wb.

Update info lomba essay. sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan informasi yang dibutuhkan peserta, demikian kami berusaha melengkapi kekurangan informasi tersebut.

Kali ini kami mengangkat tema : KARAKTER BANGSA SEBAGAI PONDASI UTAMA DALAM MEMBENTUK  SUMBER DAYA MANUSIA. Adapun subtema penulisan essay ini adalah sebagai berikut:

1.       Character Building

2.       Sains & Teknologi

3.       Kultural

4.       Kesehatan

5.       Pendidikan

 

Ketentuan penulisan

A.      Umum

1        Naskah yang telah dikirim menjadi hak milik Panitia.

2        Akan dipilih 4 (Empat) finalis yang akan mempresentasikan naskah esainya pada Minggu, 19 September 2011  di Kampus Psikologi Universitas Diponegoro Semarang.

3        Dari hasil presentasi akan dipilih satu juara yang diumumkan Minggu, 19 September 2011.

4        Lomba Esai dibuka mulai 11 Juli 2011 dan diperpanjang hingga 10 September 2011.

5        Batas akhir pengiriman naskah: 10 September 2011 pukul 24.00 WIB.

6        Pengumuman 5 finalis: 15 September 2011 pukul 24.00 WIB.

7        Peserta

1)      Peserta adalah mahasiswa D3 atau S1 Universitas di Pulau Jawa yang dibuktikan dengan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa).

2)      Peserta wajib menyertakan hasil scan KTM dan KTP yang masih berlaku, dimuat dalam lembar pernyataan orisinalitas naskah yang dikirimkan (contoh dibawah).

3)      Tema : Pembangunan Karakter Bangsa

B.     Penulisan Esai

Sesuai dengan ketentuan dan sudah di publish di catatan info sebelumnya.

 

C.      Pendaftaran :

1.       Melakukan Registrasi dengan mentransfer uang sebanyak Rp. 50.000 ke no Rekening: 1360007683185 atas nama Siska Lestari

2.       Setelah transfer berhasil, segera lakukan registrasi via SMS dengan format :

Daftar, Nama Lengkap,Fakultas/Jurusan, Universitas, Kota Universitas,  

Contoh:

a.       Daftar Siska Lestari Psikologi UNDIP Semarang.

b.      Daftar Riyan Mardiyan Teknik/Elektro UNPAD Bandung.

SMS dikirim ke no : 085740991678 (Hima)

 

3.       Mengirim softcopy essay ke email : kesppi@yahoo.co.id. Batas pengiriman sampai tanggal 10 September 2011, pukul 24.00. Dikirim dengan attach.

Subject : LOMBA, subtema yang dipilih, Judul essay, nama peserta

Contoh :

Subject : Lomba, Character building (Penanaman Nilai Regligiusitas pada Anak), Riyan Mardiyan

 

Reward

JUARA UTAMA : 1.000.000 + Sertifikat

4 ESSAY TERBAIK : Uang Pembinaan + sertifikat

5 penulis essay terbaik akan diundang pada diskusi ilmiah pada tanggal 19 September 2011 di Fakultas Psikologi Undip Semarang untuk mempresentasikan hasil essay yang ditulis.

Demikian info ini kami sampaikan. Selamat menulis, selamat mewarnai dunia ilmiah mahasiswa Indonesia.

 

Presented by :

KESPPI Undip

No limit to Learn and move

괜찮아, 아빠 딸 (It's Okay Daddy's Daughter)

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Drama
Annyeonghaseo....
it's my first time nulis review tentang drama yang suka aku lihat. Jjajang, yup, korean drama. Bukan berarti karena efek hallyu yang menyerang abege di Indonesia lho. Tappi, aku udah suka korean drama sebelum wabah hallyu menyerang :p

Suer.. drama ini mengharu biru. Baru dua hari lalu aku selesai nonton drama ini, marathon lah... jadi masih fresh banget di ingatanku. Drama ini bercerita tentang seorang ayah (Eun Gi Hwan) yang sangat mencintai dua putrinya (Chae Ryung dan Ae Ryung). Nah, cerita dalam drama ini berawal saat Chae Ryung dan Ayahnya terlibat masalah yang menyebabkan seorang pria meninggal (Duk Ki). Nah, kasus kematian Duk Ki inilah yang membawa cerita ini berjalan.

Inti dari drama ini adalah perjuangan keluarga Eun yang tertatih, terjatuh, bahkan terjungkal :) ketika masalah kematian Duk Ki menjadikan Eun Gi Hwan menjadi tersangka, lalu jatuh sakit, hingga jatuh miskin. Juga perjuangan duo saudara Choi (Wook Ki dan Hyuk Ki) untuk membongkar misteri kematian saudaranya Choi Duk Ki sekaligus membuktikan bahwa Eun Gi Hwan tidak bersalah.

Yakin deh... drama ini mengharukan banget. Proofing banget betapa cintanya Ayahnya kepada anak-anaknya. Terlihat dari banyak adegan mulai dari surat Ayah untuk Hyo Ryung yang sedang wajib militer, perlakuan Ayah kepada anak-anaknya, dan ucapan "괜찮아, 아빠 딸" atau it's okay, daddy's daughter yang selalu diucapkan Ayah kepada kedua anak putrinya. Ucapan itulah yang menjadi poin mengharukan drama ini.

Di drama ini juga menunjukkan betapa kuat dan mati-matiannya kerja keras yang dilakukan Choi bersaudara untuk tetap hidup. Mereka adalah anak yang pintar dan berusaha keras. Master of part-time job istilahnya, karena mereka melakukan hampir semua part-time job. Juga tampak betapa kuat dan besar rasa cinta Duk Ki kepada saudaranya Hyuk Ki dan Wook Ki.

Momen yang paling bikin banjir air mata adalah ketika flashback ingatan Byung Chun mengenai Duk Ki. All of pictures in his handphone is his brothers picture!!! Dan semua pekerjaan kasar yang dilakukan Duk Ki itu hanya untuk kebahagian saudaranya. Juga sewaktu Sun Do mengajak Hyuk Ki makan, ia mengambilkan makan dan minum untuk Duk Ki seakan-akan Duk Ki ikut makan bersamanya (Suer, banjir banget mataku, bahkan sewaktu buat review inipun, aku pingin nangis :)

Yuup, finally, drama ini is a must wacthing drama. Touching banget dan bikin kita semakin menyadari betapa berharganya keluarga kita, betapa beruntungnya kita. Jadi bener-bener bersyukur punya keluarga yang mendukung kita. Mari syukuri dan buat keluarga kita bangga!!!! :D

Selasa, 26 Juli 2011

Apakah Sholat hanyalah Sebentuk Ungkapan Syukur?

Banyak orang berpikir -yang saya lihat- sholat adalah islam dan islam disimbolkan dengan sholat. Orang berislam secara baik adalah orang yang sholat lima waktu. Berislam hanya cukup dengan sholat. Apakah iya?

Berbeda lagi dengan yang lain, sholat dianggap sebagai sebentuk syukur. Saya hidup dan dihidupkan sehingga saya harus bersyukur. Kebersyukuran hanya karena rezeki yang kita terima. Apa benar seperti itu?

Dengan logika berpikir seperti itu, ketika bersyukur atas nikmat atau rizki dilakukan dengan cara lain, sholat dianggap tidak lagi penting. Melakukan tindakan lain sebagai subtitusi atas sholat. Cukup bersyukur dan merasa telah bersyukur.. Karena dianggap bahwa perasaan bersyukur telah mampu menggantikan semua efek dari sholat. Kemudian, sholat tidak lagi dilakukan dengan alasan Tuhan pun tidak membutuhkannya. Benarkah?

Aneh sekiranya Tuhan, Allah SWT, mengeluarkan keharusan dan kewajiban bagi manusia hanyalah berdampak bagi individu. Tidak masuk akal ketika satu perintah memang benar-benar bermakna tunggal dan satu, bukan makna yang saling menyambung serta kontinum.

Kalaupun ketika kita ingin berpikir dengan pensifatan manusia saja, perilaku yang dilakukan manusia, walaupun ditujukan dan dimaksudkan untuk kepentingan individu yang tunggal. Efek yang muncul pasti ganda, kontinum, bahkan menjadi sebuah sistem. Mengapa? karena manusia adalah makhluk sosial, satu perilaku memberi efek pada diri dan diri memberi efek pada orang lain.

Menjadi hal yang mustahil ketika berpikir bahwa saya, diri saya, tidak akan mempengaruhi orang lain. Mau, tidak mau, ingin, tidak ingin, setiap orang pasti mempengaruhi orang lain, dan dipengaruhi orang lain. Sengaja ataupun tidak sengaja.

Begitu pula dengan sholat. Sholat adalah manajemen individu supaya individu tersebut mampu berperan di lingkungannya dengan sempurna. Sesuai kodrat, tugas, dan fitrahnya. Sholat adalah suplemen manusia agar kemudian mampu bermasyarakat, berpikir, belajar, dengan baik.

Benar bahwa sholat adalah sebentuk rasa syukur. Akan tetapi, fungsi sholat tidak hanya sebentuk rasa syukur. Sholat berarti mengingatkan diri kita bahwa kita lemah dan papa sehingga harus terus tawadhu. Sholat adalah charger bahwa kita tidak sendiri, Allah pasti menolong, membantu kita untuk tawakkal. Sholat menjadi istirahat dan olah raga yang khusyuk dan syahdu. Sholat menjadi simbol bahwa kita hamba dan harus taat dengan perintahnya.

Dengan sholat, manusia akan bersikap tawadhu, tawakkal, berserah diri namun sangat optimis, berharap sekaligus takut, yakin sekaligus hati-hati, dan selalu bersikap baik, menjauhi perbuatan keji dan mungkar.

Memang betul Tuhan (Allah), tidak butuh sholat kita layaknya Ia tidak butuh kita. Namun, bukankah kita yang butuh sholat dan kitalah yang butuh Ia? []amalia fauziah

 

Jumat, 03 Juni 2011

Pembenahan Masyarakat = Pembenahan Budaya

“Saat aku muda, aku berpikir untuk mengubah dunia. Ketika aku rasa itu tak mungkin, aku ingin mengubah negaraku. Aku beranjak tua dan aku rasa tak mungkin untuk mengubah Negara, aku ingin mengubah masyarakatku. Aku sadar aku tak mampu mengubah masyarakatku, aku ingin mengubah keluargaku. Saat aku sudah terbaring dengan ajal yang mendekat, aku sadar aku tak mungkin mengubah keluargaku, masyarakatku, negaraku, bahkan dunia, jika aku tidak mengubah diriku sendiri”

Masalah Negara, masalah bangsa, dan beragam masalah yang ada disekeliling kita tidak hanya disadari oleh manusia yang berpendidikan atau civitas akademika. Jika di lingkungan akademik masalah terror bom, hari bumi, korupsi, ataupun masalah seks bebas menjadi hal yang marak dan umum untuk dibahas dalam forum-forum studi, masalah-masalah yang sama pun dibahas oleh para office boy, cleaning service, tukang becak, hingga pemulung dan pengemis di pinggir jalan. Masalah tersebut adalah masalah publik yang bisa didiskusikan siapa saja dengan background pendidikan apapun. Bisa ditarik asumsi bahwa semua orang di semua ranah dan kasta masyarakat, peduli dan peka pada masalah sosial. Kepekaan dan kepedulian tidak mengenal latar belakang karena toh pada umumnya semua manusia itu peduli.

Hal yang kemudian menjadi gap atau kesenjangan adalah ketika orang-orang dalam sebuah komunitas peka, seharusnya masalah-masalah tersebut tidak menjadi masalah yang terus-menerus dan menetap sebagai masalah. Seharusnya masalah tersebut dapat segera ditanggulangi dan segera selesai karena keberadaan masalah langsung disadari kemunculannya.

Analoginya, ketika tubuh menyadari bahwa anggota tubuhnya mengalami masalah, secara spontan dan alamiah, tubuh akan segera memperbaikinya dan menjadikannya berada dalam kondisi prima. Berbeda jika tubuh tidak menyadari, masalah pada tubuh tidak dapat segera diselesaikan. Sayangnya, perilaku tubuh bukanlah perilaku yang terjadi di masyarakat kita. Semua lapisan masyarakat sadar namun masalah tidak juga segera diselesaikan.

Pola perilaku tersebut dilakukan, dibiasakan, dibudayakan, dan dianggap menjadi sebuah hal yang benar untuk selalu dilakukan dalam berbagai masalah. Semua lapisan masyarakat sadar dan sangat menyadari keberadaan masalah namun tidak satupun anggota dari masyarakat yang merasa perlu untuk memperbaiki dan menyelesaikan masalah tersebut.

Inilah yang menjadi akar utama mengapa masalah di Indonesia, di masyarakat kita tidak segera selesai atau bahkan tidak ada yang menyelesaikan. Banyak dari kita menyadari masalah-masalah sosial tetapi lebih memilih untuk menjadi penonton, penulis dan pengomentar di kolom-kolom surat kabar, eksis di jejaring sosial sembari menghujat pemerintah, atau ribut-ribut aksi yang tidak berujung. Perilaku ini adalah pengejawantahan dari budaya yang hanya berkomentar tanpa solusi. Pengejawantahan yang lebih suka menjadi penonton, motivator, atau penyokong saja tanpa mau menjadi titik poin utama perubahan.

Hal yang sama terjadi di forum perkuliahan, banyak sekali studi-studi ataupun diskusi yang panas dan mengecam saat membahas masalah sosial atau penurunan kualitas hidup masyarakat Indonesia tetapi pembahasan tersebut selesai saat diskusi selesai, tanpa ada follow up yang konkrit. Perilaku skeptic dan apatis menjadi aktif saat masyarakat harus mengambil aksi nyata.

Semua hal tersebut adalah fakta. Masalah-masalah sosial, ekonomi, moral menjadi masalah yang factual, bukan isapan jempol. Namun, penyebab utama yang menjadikan kualitas hidup kita – masyarakat Indonesia – tidak segera berubah atau meningkat adalah karena budaya yang kita sengaja tumbuhkan adalah budaya yang salah. Pembenahan masyarakat tidak akan terbentuk ketika budaya kita untuk gemar mengomentari tidak segera diubah menjadi gemar member solusi dan bertindak sesuai solusi.

Budaya aktif secara fisik dan perilaku, bukan sekadar aktif berbicara, harus segera dibudayakan. Jika Sitaresmi S. Soekanto menuliskan bahwa kita memiliki satu mulut dua telinga, aplikasi dari kepemilikan dua telinga, dua tangan, dan dua kaki harus segera dioptimalisasikan. Dua tangan dan dua kaki meminta kita untuk bekerja lebih, bahkan empat kali lipat lebih besar dari gaung suara kita. Hal ini berarti perbuatan kita jauh lebih efektif dari sekadar berbicara.

Sayangnya, budaya berbicara dan berkomentar tidak segera dihentikan dan budaya bekerja dan berkarya tidak segera dilakukan. Peningkatan budaya ini dapat segera dilakukan ketika ada satu atau dua pihak dari lapisan masyarakat yang berinisiatif untuk berkarya dengan pasti dan konkrit. Namun, inisiatif tidak mungkin bisa diharapkan berkembang dan membudaya dari lapisan masyarakat yang dinilai marginal. Inisiatif masalah sangat dimungkinkan untuk berkembang di lapisan masyarakat yang beredukasi dan giat untuk melakukan perbaikan.

Budaya berkarya dan bekerja sangat mudah dikembangkan di lembaga pendidikan formal yang mapan secara system. Pembudayaan bekerja pada lembaga pendidikan adalah solusi yang paling masuk akal untuk meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia. Siswa dan civitas akademik harus memiliki mentalitas dan budaya untuk berkarya. Forum-forum perkuliahan, diskusi, ataupun temu ilmiah dioptimalisasikan untuk membudayakan mentalitas bekerja. Hasil akhirnya adalah solusi dan follow up dalam bentuk kegiatan dan produk yang berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas masyarakat.

Pembenahan budaya adalah inti utama pembenahan dan peningkatan kualitas masyarakat. Pembenahan budaya bekerja disuburkan melalui lembaga yang memproduk iron stock bagi masyarakat, lembaga pendidikan. Pembenahan budaya melalui lembaga tersebut sangat efektif karena budaya ini nantinya akan menjadi budaya masyarakat melalui kerja-kinerja pribadi yang merupakan keluaran dari lembaga pendidikan.

Peningkatan kualitas masyarakat Indonesia dapat segera dilakukan dan diaplikasikan. Bukan menjadi hal yang utopis karena pembenahan ini bermuara pada pembenahan budaya yang nantinya akan memasyarakat. Sungguh, ketika hendak mengubah dunia, mengubah masyarakat kita, pengubahan budaya pribadi yang kemudian menjadi budaya komunitas adalah hal yang perlu dilakukan. Mari kita tingkatkan kualitas masyarakat dengan meningkatkan kualitas diri kita! []amalia fauziah. 12.36.

Barat: Kritik Eksistensi Tuhan

Sebelum saya menuliskan pendapat dan kritik saya terhadap pemikiran psikologi Barat, boleh kiranya untuk menilik keberadaan ilmu psikologi di dunia. Psikologi berawal dari pecahan filosofi yang memikirkan dan menghayati mengenai hakikat manusia. Psikologi yang berasal dari filsafat dialihkan menjadi lebih ilmiah dengan menjadikannya bernuansa medis, ekperimental, dan terukur. Pengalihan dasar ini menjadikan psikologi kemudian dianggap sebagai ilmu pasti dengan Wundt sebagai pembentuk dasarnya.

Psikologi yang berasal dari pola pikir rasionalis secara drastis berubah menjadi empiris. Perubahan menjadikan struktur dan pembentukan psikologi menjadi grambyang atau kehilangan jejak. Hal yang menjadi pertanyaan utama saya atas eksistensi ilmu psikologi adalah untuk apa sebenarnya ilmu psikologi ada.

Logikanya ketika tujuan atau visi pemunculan ilmu psikologi, pengarahan dan penatalaksanaannya akan jauh lebih terarah dan tidak kehilangan pijakan. Ilmu-ilmu pengetahuan lain berdiri disebabkan adanya kebutuhan manusia untuk memahami fenomena alam dan kehidupan sehingga harapannya manusia dapat menjadikan hidupnya lebih sejahtera dan lebih baik. Misalnya teknologi, teknologi dikembangakan dengan tujuan agar manusia dapat memiliki hidup yang lebih baik, lebih mudah, dan lebih sejahtera. Dengan demikian, semua ilmu disandarkan pada manusia sebagai center yang hasil akhirnya mejadikan manusia menjadi lebih nyaman.

Apakah logika ini bisa disandarkan pada ilmu psikologi? Ilmu psikologi ada tentu karena adanya kebutuhan manusia untuk memahami hakikat manusia itu sendiri, kebutuhan untuk memahami mengapa perilaku-perilaku berbeda muncul padahal dengan stimulus yang sama atau bahkan muncul perilaku yang sama padahal mendapat stimulus yang berbeda. Akan tetapi, muara dari ilmu psikologi sendiri tidak jelas. Jika kemudian disepakati bahwa ilmu psikologi mampu mengungkap hakikat manusia seutuhnya, akan dipergunakan macam apa hasil tersebut?

Mengutip perkataan Malik Badri dalam Dilema Psikolog Muslim, ilmu psikologi saat ini tidak lagi bebas nilai, atau netral. Semua ilmunya muncul, disepakati, dan diaplikasikan justru karena mereka semua memiliki nilai-nilai yang sesuai dengan paham yang dimiliki pencetus teori. Dengan demikian, ilmu psikologi menjadi subjektif, dan melegalisasi diri dengan intersubjektif.

Bukan hal bijak ketika menyatakan bahwa setiap teori yang muncul dari individu selalu subjektif mengingat individu tersebut adalah subjek. Ketika statement tersebut muncul, konsekuensinya adalah manusia tidak mungkin mendapatkan kemutlakan. Dan kebenaran tidak ada yang mutlak. Semua berjalan relatif, relatif, dan semakin relatif.

Menurut saya, pendapat bahwa tidak ada kebenaran mutlak adalah kebutuhan pencetus teori untuk melegitimasi teorinya. Tidak ada kebenaran yang relatif karena fakta dan kebenaran, sebenarnya, selalu bersifat mutlak dan satu. Tidak ada kebenaran yang ganda. Manusia meskipun berperan sebagai subjek, tetap mampu menginterpretasi sesuatu sesuai dengan sifat objeknya (objektif), tidak selalu semata-mata berperilaku sesuai dengan dirinya (subjektif).

Ilmu psikologi yang berkembang, ada dengan tujuan. Menurut saya, tujuannya adalah semakin menjadikan manusia yakin bahwa ia adalah ciptakan Tuhan. Tuhan ini ada secara objektif, riil, dan fakta. Dan ilmu psikologi membantu manusia untuk memahami dirinya sehingga mampu menjadi hamba yang sesuai dengan yang diingikan Tuhan.

Secara tidak langsung, psikologi Barat yang tidak memiliki tujuan ketuhanan beorientasi pada penihilan ketuhanan. Psikologi barat berusaha menolak eksistensi Tuhan yang sebenarnya telah diyakini jauh sebelum ilmu tersebut muncul. Psikologi barat merupakan kritik atas eksistensi Tuhan dalam kehidupan manusia. Paham-paham materialisme yang dimiliki oleh setiap pencetus teori psikologi bisa mejadi bukti bahwa ilmu psikologi Barat memiliki tujuan utama untuk menihilkan Tuhan. Lalu, apakah kita tetap bertahan dalam upaya penihilan ini? []am2