Jumat, 28 Oktober 2011

Kenapa Saya Masuk Psikologi?

Sampai saat ini saya masih memiliki keraguan dalam menjawabnya. Yang saya tahu, saya ingin menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang sehat dan hebat. Lalu bagaimana?

Banyak orang menyuruh saya ini, itu, begini, begitu, dan sebagainya karena saya mahasiswa psikologi, karena saya -katanya- paham tentang kedirian manusia.
"Kamu kan mahasiswa psikologi, harusnya tahu menjaga emosi!"
"Kamu kan mahasiswa psikologi, harusnya bisa mendidik. Bisa memodifikasi perilaku!"
"Kalau gitu buat apa masuk psikologi!!!"

Saya sakit hati, sungguh! Harga diri saya, martabat saya, kedirian saya, dihancurkan, diremehkan, diinjak-injak berkeping-keping. Remuk.
Saya marah! Muntabbb!!!

Atas dasar apa orang menghakimi saya dan menilai saya seperti itu?
Atas dasar apa orang mengklaim bahwa ilmu saya tak berguna?
Mending saya punya ilmu, lha situ gimana? itu pikir saya yang mulai sengak.

Bukankah banyak para dokter yang juga sakit-sakitan?
Bukankah banyak guru yang menipu dan melakukan plagiasi?
Bukankah banyak penegak hukum yang melanggar hukum?
Juga, bukankah banyak psikolog profesional yang mumpuni tapi mood-moodan bahkan bercerai!
Lalu, apa salah saya! Toh saya masih mahasiswa, belum punya ijazah. Dan toh saya tidak melakukan dosa..

Kemudian saya berpikir, apakah perkataan saya benar? Objektif?
Apakah saya melakukan yang haq dengan cara yang haq?
Atau ini hanya rasionalisasi saja karena saya sedang marah..

Idealnya, seorang psikolog mampu memodifikasi dirinya dan lingkungannya.
Idealnya, seorang dokter memiliki gaya hidup sehat.
Idealnya, seorang penegak hukum sangat taat hukum.
Idealnya, guru menjadi teladan, baik perkataan, perilaku, ataupun buah pikirannya.
Akan tetapi, dalam realitas, gambaran ideal tidak berjalan se-ideal yang diinginkan. Ada kepapaan. Ada kecacatan. Ada khilaf. Manusiawi. Tetapi bukan untuk selalu meminta dipahami dan dimaklumi.

Saya sadar. Seharusnya saya menjadi sosok psikolog, ilmuwan psikolog yang ideal.
Tetapi, bukankah hidup itu life time education?

Saya masih belajar dan pasti akan saya amalkan. Persis nama saya, Amalia Fauziah.

Biarkan orang lain menghakimi, menilai, mencaci, atau mendikte saya. Akan tetapi, pasti, suatu saat nanti, kini hingga nanti, saya akan menjadi psikolog dan ilmuwan psikolog yang ideal.
Psikologi bagi saya, anda, dan semua!

Saya janji! PASTI!!!

Rabu, 12 Oktober 2011

Ichi Rittoru no Namida (1 litre of tears)

Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Kids & Family
こんにちは、お元気ですか?
Kon'nichiwa, o genkidesu ka?

After re-watching 1 litre of tears, I exactly glad to make it's review. Drama ini sudah dirilis sejak 2005 dan meskipun sudah hampir 6 tahun, masih banyak yang menyukainya, termasuk saya :)

Lucu rasanya ketika saya hendak menulis reviewnya karena saya hampir yakin, kalian semua pasti sudah pernah menontonnya. Allright, I just want to write my opinion about this drama..

Kalau mau mengatakan bahwa drama ini berjudul 1 litre of tears, judul ini bener-bener membuat kita menangis satu liter. Mungkin bisa lebih, setiap episodenya yang ada 11 ini, pasti meminta kita untuk menangis tersedu-sedu. Entah perasaan Ikeuchi Aya (Erika Sawajiri) yang berjuang melawan penyakitnya, penerimaan keluarganya, hubungan dengan dengan teman, ataupun ucapan selamat tinggal pada Aso Haruto (Ryu Nishikido).

Waduh.. jadi spechless karena kepingin nangis. Almost, di setiap drama yang menyentuh dan melibatkan perasaan mendalam ataupun hikmah, pertanyaan yang paling hakiki adalah untuk apa saya hidup, apa tujuan dari kehidupan yang saya jalani.

Hikmah ini juga muncul di 1 litre of tears. Mengapa Aya tetap hidup dan memilih untuk berjuang dalam hidupnya tentu didasari pada pertanyaan akan hakikat kehidupannya. Ketika seseorang tidak melihat adanya masa depan, kehampaan hidup, atau tidak ada lagi gunanya hidup. Hal paling mendasar yang membentengi orang tersebut untuk tetap hidup, berjuang untuk terus bermakna dalam hidup, dan bahagia akan hidupnya adalah prinsip tersebut.

Tidak mungkin seseorang yang tidak yakin akan tujuan hidupnya akan berjuang sekeras itu untuk hidup. Ketika seseorang memilih untuk terus hidup, tentulah ia memiliki pengharapan atas kehidupannya. Masa depan.

Saya rasa, ketika saya berada di kondisi Aya, yang kemudian tidak memiliki alasan mengapa saya harus bertahan hidup. Saya akan memilih mati. Toh, untuk apa saya hidup karena sudah bisa dipastikan masa depan saya pasti kelam, waktu saya terbatas, dan saya akan kehilangan semua kemampuan saya seberapa keras pun saya menempa.

Two thumbs up! Untuk orang-orang hebat yang meski waktunya sudah dipastikan singkat tetapi tidak pernah kehilangan semangat untuk berjuang.

SEMANGAAT!!! Karena kita tidak tahu apa yang terjadi di depan, bukankah ini menyenangkan untuk mengguratnya perlahan dengan pengharapan dan kesenangan yang besar. Mari hidup, mari berjuang, mari berkarya!

Minggu, 02 Oktober 2011

TAEGUKGI: The Brotherhood of War

Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
A Great Film!
Kesan pertama saya setelah selesai nonton film ini. Baru kemarin saya selesai nonton film ini dan sekarang udah nulis reviewnya :). Sudah pernah nonton film ini? Film ini adalah film yang melambungkan nama Wonbin karena memang aktingnya keren banget.

Taegukgi, film ini berkisah tentang dua kakak-beradik Lee Jun Tae (Jang Dong Gun) dan Lee Jun Seok (Wonbin) dengan setting Perang Korea di tahun 1950. Film ini dimulai dari penggalian para arkeolog di tempat dimana pernah terjadi perang Korea lima puluh tahun kemudian. Lee Jun Tae adalah seorang kakak pembuat dan penyemir sepatu yang sangat menyayangi adiknya dan mencintai Ibunya yang tak lagi bisa bicara setelah ayahnya mati. Lee Jun Seok adalah pemuda berusia delapan belas tahun yang pintar. Cita-cita Jun Tae adalah menjadikan Jun Seok masuk universitas.

Keluarga tersebut bahagia. Beserta Young Min (Lee Eun Joo), tunangan Jun Tae, dan tiga adiknya, mereka hidup bahagia hingga pecahlah perang Korea di awal tahun 1950 sehingga muncul wajib militer. Disinilah cerita dimulai. Kedua bersaudara ini kemudian dikenai wajib militer dan berperang dalam satu batalyon. Jun Tae yang sangat menyayangi adiknya berobsesi mendapatkan medali sehingga ia dapat mengirim Jun Seok pulang. Jun Seok yang lemah fisiknya tidak suka melihat kelakuan kakaknya, ia ingin bersama dengan kakaknya.

Intrik kakak beradik, panasnya kondisi psikologis perang sangat tergambar dalam film ini. Keren banget! Semua darah, ledakan, tembakan feel so real dan mengerikan. Adegan yang paling mengerikan adalah ketika operasi dilakukan manual tanpa pembiusan hingga luka yang ditempeli belatung. Ngenes banget :(

Saya sarankan buat yang nggak kuat liat darah, tembak-tembakan yang sadis, atau jarang nonton film action, waspada saja karena hampir 85% film ini isinya kekerasan perang. Suer! nonton film ini sambil merinding, menyengit sadis, dan nangis.

Klimaks film ini mulai tampak ketika Jun Seok semakin tidak menyukai perilaku Jun Tae yang sepertinya gila hormat. Jun Tae tidak lagi seperti Jun Tae yang dulu, menjadi lebih sadis dan tidak berperikemanusiaan. Hingga akhirnya Jun Seok hilang kepercayaan pada kakaknya.

Adegan paling mengharukan ketika Young Min mati ditembak gerakan anti-komunis yang menuduhnya berubah haluan menjadi komunis. Jun Tae dan Jun Seok berusaha melindungi tapi tak sanggup hingga akhirnya mereka berdua dituduh menjadi pemberontak. Mereka berdua kemudian terpisah dimana Jun Tae mengira bahwa Jun Seok telah mati dibakar oleh batalyon tempat mereka di penjara.

Klimaks yang sangat mengharukan ketika Jun Seok berusaha maju ke medan perang, menyerahkan diri pada Korea Utara untuk menemui Jun Tae yang berkhianat dan menjadi kapten di pasukan Korea Utara karena kekecewaannya atas kematian Jun Seok. Mereka berdua bergumul, bertarung, hingga Jun Tae sadar bahwa Jun Seok masih hidup tetapi sayangnya Jun Tae akhirnya mati ditembaki seribu peluru.

Dalam film ini kerasa banget permainan politik di dalamnya. Korea Selatan dibantu USA sebagai lambang kapitalis dan Korea Utara dibantu Cina adalah komunis. Permainan kepentingan memang selalu ada dalam perang, menyedihkan :(

Yang paling suprising for me adalah kondisi perang yang sangat panas, jauh dari keakraban dan Tuhan. Penuh dengan umpatan, hawa nafsu, kemarahan, dan perang yang tanpa adab. Yakin deh... Isinya kayak orang yang nggak bermoral dimana mereka (baik KorSel ataupu KorUt) menembaki pasukan tanpa senjata, membunuhi penduduk. Sadiss gila!!

Sewaktu nonton film ini memang bener-bener miris. Komunis vs kapitalis memang sudah musuhan sejak zaman purba. Perang ini pun adalah perang komunis vs kapitalis. Mereka berbeda dan nggak mungkin bisa bersatu (ini pikirku).

Yang jelas perang memang selalu membawa kesengsaraan bagi siapapun, dan memang ada beberapa hal yang hanya bisa selesai dengan perang (kayak kemerdekaan kita, kan harus perang, perundingan nggak pernah ada benernya)

Coba mereka orang Islam (begitu pikirku), Islam tidak mungkin sadis seperti itu karena Islam punya adab berperang. Coba yang perang orang Islam, pasti tidak akan muncul kesengsaraan macam itu. Perang dalam Islam nggak mungkin mbunuh tawanan, mengadu mereka seperti ngadu ayam, membunuh penduduk sipil, dan mengumpat-umpat karena Islam membunuh bukan dendam tetapi karena mereka adalah musuh (tuh.. Islam emang keren banget kan :)

Meskipun perang adalah solusi terakhir yang sangat terpaksa diambil, mbok ya nggak gitu-gitu banget kalau perang. Di film, ini, kondisi perang menjadikan mereka tidak lagi manusia, sudah persis seperti binatang, ngeri banget! Kayak nggak punya perasaan lagi.

Yang pasti, film ini keren banget!!! Mulai dari ceritanya, akting pemainnya, darah, tembakan, atau ledakan yang so real dan ngeri banget, hingga hikmah yang bisa diambil. Nonton film ini justru menjadikan aku lebih cinta Islam dan yakin kalau aturan dan moral dalam Islam bener-bener jawaban.

Nonton film ini bikin kamu nangis darah, banjir air mata melihat persaudaraan mereka berdua dan semakin benci sama perang yang cuma bisa memberikan penderitaan. Selamat nonton, selamat mengurai hikmah!

Kesppi : saya cinta Kesppi, saya cinta berjuang

Mengingat awal tahun 2011, sudah masuk bulan kesepuluh di tahun 2011. Benar-benar cepat berlalu, tidak terasa. Satu saat saya iseng membuka artikel yang pernah saya tulis. Lalu, terbuka lah file ini. Artikel ini saya tulis sebagai tugas Up Grading Kesppi. Saya jadi mulai merefleksi diri, mengingat kembali semangat dan keyakinan itu. Selamat membaca, semoga memberi hikmah


KARENA INI SEMUA ADALAH KEWAJIBAN

Tahun ini adalah tahun ketiga saya berada di Kesppi dan tahun kesepuluh  berdirinya Kesppi. Bagi saya, hitungan tahun itu bukan lah hitungan yang sedikit dengan makna yang sempit. Jika hendak dianalogikan, dengan tiga tahun, bayi sudah menjadi batita yang mampu mengucap kata-kata, berlari-lari kecil, bahkan mulai belajar berhitung. Dengan tiga tahun, murid SD sudah berubah menjadi lulusan SMP, ataupun murid SMP sudah berubah menjadi lulusan SMA yang pastinya semakin matang dan mantap. Begitu pula dengan usia Kesppi yang ke dasawarsa, seharusnya telah mampu mengubah Kesppi menjadi organisasi yang mantap dan bermanfaat.

Menulis essai ini mengingatkan saya pada sepenggal ayat yang saya sukai. Intansurullaha yansurkum wa yutsabits aqdaamakum. Tolonglah agama Allah maka Allah akan menolongmu dan meninggikan derajatmu.

Masuk bulan ketiga setelah Musyawarah Besar yang memutuskan saya menjadi Ketua Kesppi 2011 dan satu bulan setelah Bu Iin melantik saya menjadi Ketua Kesppi 2011 adalah masa-masa yang amat berat. Saya merasakannya lebih berat dari September-Oktober tahun lalu saat harus mengurus Seminar dan Lomba Essai yang penuh tantangan. Menghabiskan tiga bulan terakhir sering membuat saya goyah untuk berada di Kesppi. Amanah sebagai Ketua Kesppi merupakan amanah terberat yang pernah saya terima dalam hidup saya setelah amanah menjadi hambaNya. Saya ragu bahakan hingga saat menuis essai ini, saya ragu bahwa tempat ini adalah tempat yang tepat bagi saya.

Izinkan saya menceritakan tiga bulan berat dalam setahun terakhir hidup saya. Setelah MuBes mensyahkan saya menjadi Ketua Kesppi 2011. PR besar yang sudah terendap dalam otak saya kembai mengembang dan membengkak. Saya membaca beberapa artikel yang menguatkan saya bahwa menjadi ketua itu berat dan harus memberi sebuah perubahan. Tuntutan tim formatur untuk segera rapat dan membentuk kepengurusan 2011 begitu menekan. Libur UAS dan SP, terasa bukanlah liburan tetapi tumpukan amanah yang masih harus saya tanggung selama satu tahun.

Menyelesaikan proposal besar, rapat-rapat koordinasi dengan senat, sidang, hingga rapat penentuan jadwal menjadi agenda wajib saya. Berat-berat-sangat berat. Bahkan tahun baru yang biasanya saya habiskan dengan menonton film atau sekadar tidur nyenyak pun sulit saya lakukan. Tahun baru saya habiskan untuk mengitung detail anggaran Kesppi, berkali-kali, seteliti mungkin yang saya bisa. Tahun baru bukanlah saat saya menghela nafas lega namun saat saya menghirup nafas dengan berat dan kekhawatiran mampu kah saya?

Jika Umar bin Khattab merasa rubuh saat dibai’at menjadi khalifah setelah Abu Bakar, begitu pula yang saya rasakan ketika disyahkan sebagai Ketua Kesppi 2011. Rasanya yang saya mampu hanyalah menangis. menangis karena hanya hal itu yang mampu saya lakukan. Saya tak mampu menolak, saya tak mampu mengindar. Saya tak mampu mangkir, saya tak mampu berkelit. Saya, sungguh, tetap berada di tempat, tergugu, dan menangis. Sungguh, saya takut, amanah ini tak mampu saya laksanakan dengan baik dan membelit saya masuk neraka. Sungguh saya takut mendzolimi pengurus Kesppi, saya takut mendzolimi Kesppi.

Bulan Februari kemarin adalah bulan puncak rasa frustrasi saya. Bila mampu, saya ingin mengundurkan diri sebagai Ketua Kesppi 2011. Bila boleh saya ingin, sungguh. Bahkan di tiga bulan pertama, amanah sudah terasa begitu berat dan menakutkan.

Essai ini bukanlah essai tetapi cerita saya tentang diri saya. Maaf jika menjadikan essai ini meaningless.

Mengapa saya masih disini?
Inilah pertanyaan yang sampai saat ini tidak mampu saya jawab sesuai dengan nafsu dan keinginan saya. Jika saya mampu, sudah sejak lama saya mundur tetapi saya tak bisa. Semua ini sungguh bukan karena saya mencari penghargaan dan kedudukan sebagai ketua. Saya tak butuh, saya tak ingin! Satu-satunya alasan mengapa saya mau dan tetap disini apapun yang terjadi hanya karena ini adalah kewajiban!

Berada di Kesppi menjadi sebuah kewajiban. Perilaku yang bernilai fardhu ‘ain. Mengapa? Karena ketika saya berada disini motivasi utama adalah keridhoan Allah, yang kedua adalah idealisme Islam yang harus terus kita suburkan. Kita tidak punya pilihan lain kecuali itu.

Berada di Kesppi adalah sarana saya berdakwah dengan kompetensi yang saya miliki. Menjadikan masyarakat kita masyarakat yang madani seperti saat Nabi menjadi pemimpin dulu dengan tangan dan pikiran saya. Saya rasa, itulah mengapa saya masih disini dengan segala kepayahan yang menggilas sumsum tulang saya.

Karena saya muslim yang berusaha menjadi mukmin. Karena saya umat nabi Muhammad. Karena saya hamba Allah yang mengharapkan ridhoNya. Karena saya memiliki ilmu pengetahuan dan saya wajib mengamalkannya. Karena saya manusia hidup yang harus memberi kontribusi perubahan. Karena saya adalah Kesppier’s yang berintikan semangat membangun Islam dari psikologi. Karena saya adalah saya!

Sungguh, tidak akan kamu masuk surga sebelum kamu mendapat cobaan seperti umat-umat sebelum kamu. Biarkan ayat dari surat Ali Imron ini menginternalisasi diri supaya tetap berusaha sekuat Nabi Muhammad dahulu berjuang untuk agamaNya. Sungguh, semuanya tak pernah sia-sia.

Amalia Fauziah
21:49, 11 Maret 2011