Banyak orang berpikir -yang saya lihat- sholat adalah islam dan islam disimbolkan dengan sholat. Orang berislam secara baik adalah orang yang sholat lima waktu. Berislam hanya cukup dengan sholat. Apakah iya?
Berbeda lagi dengan yang lain, sholat dianggap sebagai sebentuk syukur. Saya hidup dan dihidupkan sehingga saya harus bersyukur. Kebersyukuran hanya karena rezeki yang kita terima. Apa benar seperti itu?
Dengan logika berpikir seperti itu, ketika bersyukur atas nikmat atau rizki dilakukan dengan cara lain, sholat dianggap tidak lagi penting. Melakukan tindakan lain sebagai subtitusi atas sholat. Cukup bersyukur dan merasa telah bersyukur.. Karena dianggap bahwa perasaan bersyukur telah mampu menggantikan semua efek dari sholat. Kemudian, sholat tidak lagi dilakukan dengan alasan Tuhan pun tidak membutuhkannya. Benarkah?
Aneh sekiranya Tuhan, Allah SWT, mengeluarkan keharusan dan kewajiban bagi manusia hanyalah berdampak bagi individu. Tidak masuk akal ketika satu perintah memang benar-benar bermakna tunggal dan satu, bukan makna yang saling menyambung serta kontinum.
Kalaupun ketika kita ingin berpikir dengan pensifatan manusia saja, perilaku yang dilakukan manusia, walaupun ditujukan dan dimaksudkan untuk kepentingan individu yang tunggal. Efek yang muncul pasti ganda, kontinum, bahkan menjadi sebuah sistem. Mengapa? karena manusia adalah makhluk sosial, satu perilaku memberi efek pada diri dan diri memberi efek pada orang lain.
Menjadi hal yang mustahil ketika berpikir bahwa saya, diri saya, tidak akan mempengaruhi orang lain. Mau, tidak mau, ingin, tidak ingin, setiap orang pasti mempengaruhi orang lain, dan dipengaruhi orang lain. Sengaja ataupun tidak sengaja.
Begitu pula dengan sholat. Sholat adalah manajemen individu supaya individu tersebut mampu berperan di lingkungannya dengan sempurna. Sesuai kodrat, tugas, dan fitrahnya. Sholat adalah suplemen manusia agar kemudian mampu bermasyarakat, berpikir, belajar, dengan baik.
Benar bahwa sholat adalah sebentuk rasa syukur. Akan tetapi, fungsi sholat tidak hanya sebentuk rasa syukur. Sholat berarti mengingatkan diri kita bahwa kita lemah dan papa sehingga harus terus tawadhu. Sholat adalah charger bahwa kita tidak sendiri, Allah pasti menolong, membantu kita untuk tawakkal. Sholat menjadi istirahat dan olah raga yang khusyuk dan syahdu. Sholat menjadi simbol bahwa kita hamba dan harus taat dengan perintahnya.
Dengan sholat, manusia akan bersikap tawadhu, tawakkal, berserah diri namun sangat optimis, berharap sekaligus takut, yakin sekaligus hati-hati, dan selalu bersikap baik, menjauhi perbuatan keji dan mungkar.
Memang betul Tuhan (Allah), tidak butuh sholat kita layaknya Ia tidak butuh kita. Namun, bukankah kita yang butuh sholat dan kitalah yang butuh Ia? []amalia fauziah