Minggu, 05 Agustus 2012

Untuk Penyair Itu

hai penyair, mengapa kau menulis syair 
tanyaku sore itu ditengah rinai hujan pada penyair berambut palsu 
dia hanya tersenyum. memamerkan gigi yang terendam nikotin. menguning 

penyair, mengapa kau habiskan waktumu 
menggubah ribuan kata, rima, dan bait 
gumamku, meringis hampir menangis 

padahal lebih baik kau menyapu, 
membersihkan gorong hitam para otak udang 
menyingkirkan nyeri anak-anak negri, 
yang tak terperi 

padahal lebih baik kau merangkul 
ribuan bilqis, nirmala bonat, atau mungkin aku 
yang takut tak mampu lagi menari saat 
hujan esok pagi 

kau tetap tersenyum, menggeleng sedikit 
meluruskan rambut palsumu, 
membiarkan aku menangis, menekuni gunungan puisimu 
yang tak kunjung ku mengerti 

22 Februari 2010
*puisi repost dari catatan facebook :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar