tanyaku sore itu ditengah rinai hujan pada penyair berambut palsu
dia hanya tersenyum. memamerkan gigi yang terendam nikotin. menguning
penyair, mengapa kau habiskan waktumu
menggubah ribuan kata, rima, dan bait
gumamku, meringis hampir menangis
padahal lebih baik kau menyapu,
membersihkan gorong hitam para otak udang
menyingkirkan nyeri anak-anak negri,
yang tak terperi
padahal lebih baik kau merangkul
ribuan bilqis, nirmala bonat, atau mungkin aku
yang takut tak mampu lagi menari saat
hujan esok pagi
kau tetap tersenyum, menggeleng sedikit
meluruskan rambut palsumu,
membiarkan aku menangis, menekuni gunungan puisimu
yang tak kunjung ku mengerti
22 Februari 2010
*puisi repost dari catatan facebook :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar