Kamis, 24 November 2011

Hearty Paws (마음이)

Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Kids & Family
A Heart Warming movie!

Film ini bercerita tentang Chan Yi (Yoo Seung Ho) dan adiknya, Sol Yi (Kim Hyang Ki, adik lucu yang main di Wedding Dress) yang hanya tinggal berdua, eh bertiga dengan anjing kesayangan mereka, Maeumi. Ayah mereka meninggal sedangkan Ibu mereka meninggalkan mereka tanpa kabar yang jelas.

Film ini dimulai dengan ulang tahun Sol Yi dengan hadiah dari sang kakak, puppy lucu yang sebenarnya adalah curian. Kemudian, dimulailah kisah. Bagaimana Chan Yi menjalani hidup, mengasuh Sol Yi, berangkat sekolah, tingkah polah kakak-beradik yang lucu dan menggetarkan.

Masalah dimulai ketika Sol Yi, adik yang lucu dan cengeng ini meninggal tenggelam di danau yang membeku karena Maeumi. Chan Yi marah, meninggalkan dan membuang Maeumi, pergi ke Busan mencari Ibunya. Sayangnya, Ibunya justru menganggapnya angin lalu dan Chan Yi menjadi anak jalanan.

Film ini seddiihhh.. banget. Dari awal cerita, mata dan hidung ini meler teruss.. Sol Yi yang kangeen sekali dengan Ibunya dan yakin bahwa suatu saat nanti Ibunya pasti kembali. Chan Yi yang marah namun sebenarnya sangaat rindu kepada Ibunya.

Meskipun saya paling nggak suka film yang ngomongin binatang, entah itu simpanze, anjing, kucing, atau paus yang pinter main basket atau bola macem air bush gituu.. Tappi SUERR!! film ini bagguuss banget.

4 thumbs up untuk film ini. Yoo Seung Ho dengan akting nangis dan marah yang keren banget juga adik lucu dengan akting yang nggak main-main. Bikin nangis terus kalau inget :'(

Yups, film yang heart warming ini jelas-jelas mengingatkan bahwa anak itu berharga banget. Jangan pernah buang-buang anak apalagi menganggapnya invisible. Finally, happy watching eh sad watching! You have to cry ^^V

Pesan tambahan: Kalau memang nggak niat mau ngurus anak, jangan pernah berniat untuk punya anak! Suer, nggak bertanggung jawab banget kan kalau punya anak terus dibuang-buang!!

Selasa, 22 November 2011

Bicara Cinta!

Saya sering sekali baca status galau tentang cinta, nonton film melodrama yang sampai berdarah-darah nangisnya, baca novel chiklit, teenlit, roman yang semuanya bicara cinta, bahkan artikel-artikel di yahoo pun banyak banget tentang bagaimana menarik cinta pada dirimu dan hatimu. Cinta yang saya tulis disini bukan cinta yang universal lho! Cinta orang tua pada anak, cinta pada sahabat, cinta pada tanah air, ataupun cinta pada agama. BUKAN! Yang saya tulis disini benar-benar cinta yang sangat spesifik dan menjadi bahan asyik laki-laki - perempuan di semua usia dan semua area. Cinta antara laki-laki dan perempuan.

Kalau saya baca, saya dengar, saya lihat, semua aspek senang sekali bicara cinta. Dari lagu slow ballad yang emang pangsanya nangis-nangisan sampai lagu band rock and roll yang tampangnya sangar tapi hatinya mellow. Lebih mellow dari saya, padahal saya lebih suka lagu ballad :p

Dari semua itu, saya selalu berpikir. Dari usia saya SMP, SMA, sampai sekarang semester VII, saya belum dapat jawabannya. Kenapa orang bisa jatuh cinta, pada orang tersebut, waktu tersebut, dan saat tersebut. Apa alasannya?!?

Pencarian tersebut saya mulai dari SMP, masa awal rain and storm (wkwkwkwk) dimana banyaak sekali teman-teman saya yang riuh rendah membahasnya. Kemudian SMA, saya bahkan bertanya pada teman-teman saya yang sudah menjalin hubungan dengan lawan jenis (maksudnya pacaran:). Kenapa kamu memilih pacaran, dan kenapa laki-laki itu yang jadi pacarmu? Begitu tanya saya. Tetapi jawabannya selalu tidak memuaskan logika berpikir saya. Kalau saya bisa memahami proses atensi di otak, kenapa saya tidak juga memahami proses cinta dalam diri seseorang yaa..

Kata Stenberg, cinta itu terdiri dari commitment, passion, dan intimacy. Commitment dan intimacy ada dalam hubungan pertemanan yang akrab. Passion dan intimacy ada pada pasangan kumpul kebo yang tidak memahami pentingnya komitmen tertulis bahkan kepemilikan pasangan. Bahkan passion saja bisa membentuk hubungan, hubungan kacau PSK dengan kliennya ataupun para pemerkosa.

Kata Islam, keluarga yang penuh cinta itu punya sakinah, mawaddah, warahmah. Ketenangan, rasa saling menyayangi dan memelihara, rahmah. Kalau menurut saya, cinta itu terbentuk yaa harus karena cinta pada Allah. Kita mencintai orang-orang yang mencintai Allah. Begitu bukan?

Kadang saya berpikir, sudah ada belum ya, penelitian fenomenologis yang membahas pemilihan pasangan dan decision makingnya. Bukannya kalau kita memilih pasangan yang kita lihat adalah bibit, bebet, bobotnya? Yang paling baik adalah memilih pasangan karena agamanya, setelah itu baru nasabnya, wajahnya, daann hartanya. Meskipun kalau pilih pasangan hidup, saya pasti pilih laki-laki yang pintarnya tingkat dewa 

Tappiii, bukannya orang yang masuk kriteria itu ada banyyaaakk sekali. Ada banyak orang sholeh di dunia ini. Ada banyak orang tampan di dunia ini. Ada banyak orang yang lahir dari keluarga yang baik di dunia ini. Ada banyak orang kaya di dunia ini. Dan ada banyak pula orang yang punya kesemuanya di dunia ini. Lalu, kenapa memilih orang yang ini? Saya sama sekali belum bisa memahami. Kurang nyaman, kurang cocok, kurang sreg, nggak ada chemistry. Itu benar-benar alasan atau sekadar alasan menolak? Wadduuhhh.. saya benar-benar bingung.

Atau memang karena saya tidak punya pengalaman yaa? Hahahaha, hidup saya kan bukan seperti Thorndike yang trial-error, mosok yaa.. butuh trial-error juga mencari pasangan hidup yang tepat. Yaa, sudahlah, mungkin saya belum tahu jawabannya sekarang, mungkin suatu saat nanti. Kata orang time solve everything, saya tunggu pembuktian saja :D

Yang jelas, mari mencinta. Mari mencinta dunia, mari mencinta semesta. Selamat mencinta kawan!!

Jumat, 11 November 2011

Witing tresno jalaran saka kulina


Saya tidak suka kucing! Sebenarnya justru bisa dikatakan bahwa saya membenci kucing. Menurut hemat saya, kucing selayaknya penjilat, mirip dengan tikus yang dikonotasikan sebagai tukang korup. Mengeong-ngeong lemah, manja, lalu berjalan sambil menggelendot di kaki majikannya. Jika kucing seperti itu, pasti ia menginginkan sesuatu. Entah makanan, air, bantal empuk, atau sekadar dielus-elus. Menjijikkan bukan. Alaminya, kucing itu memburu tikus. Memakan tikus untuk hidup. Mencari makanannya sendiri. Jika tidak, berarti itu penyimpangan! Deliquent!!!

Akan tetapi, karena lima ekor kucing di rumah saya yang secara otomotis mirip seperti panti asuhan kucing memaksa saya bersikap. Dicintai adik-adik saya. Berkeliaran sepanjang hari disekitar saya. Mau tidak mau, rela tidak rela, saya harus menerima kehadiran mereka. Lama-lama saya menjadi cukup memperhatikan, hapal nama-namanya, bahkan memberinya makan. Saya merasa terpaksa untuk meridhoinya. Begitulah. Witing tresno jalaran saka kulino.

Banyak dari kita hidup dengan mantra witing tresno jalaran saka kulina. Hampir di semua aspek kehidupan. Tidak suka makan buah, ketika dipaksa kemudian terbiasa akhirnya mencintai buah. Terpaksa masuk ke psikologi tetapi setelah kuliah satu hingga dua semester justru jatuh cinta dengan psikologi dan semakin mendalaminya. Bahkan, banyak sekali drama, sinetron, bahkan kehidupan percintaan yang fell in love karena terbiasa dan yup, simsalabim abrakadabra. Mencintai karena terbiasa dan terasa janggal jika tidak ada. Bisa jadi apa yang kita inginkan dan kita harapkan bukanlah yang terbaik bagi kita. Begitu bukan?

Hal yang aneh pun bisa kita anggap biasa, wajar, hingga kita cintai karena terbiasa. Wedges tidak dikenal perempuan jawa, dulu, tapi kini, sangat digemari.  Celana panjang yang tidak biasa digunakan perempuan, kini hampir semua perempuan memakainya. Kini, perempuan yang sekolah tinggi dan bekerja adalah biasa, padahal dahulu adalah hal tabu. Normal dan biasa menjadi sebuah kesepakatan umum tentang suatu hal. Yang diterima mayoritas itu lah yang normal.

Sayangnya, witing tresno jalaran saka kulina ini ternyata berdampak lebih jauh dibanding yang dibayangkan. Bergandengan dan berciuman dipinggir jalan dianggap biasa. Memakai rok super pendek menjadi mode yang harus diikuti. Menonton video amoral dikatakan wajar, jika tidak, justru dikatakan munafik. Korupsi adalah manusiawi, jika tidak mau korupsi berarti sok alim dan berlagak malaikat.

Ketika masyarakat menganggap keburukan menjadi hal biasa, bukan lagi tabu. Maka, kurve dan grafik kewajaran menjadi bergeser. Yang baik dikatakan abnormal. Yang buruk dikatakan normal. Yang amoral dikatakan trend. Yang bermoral dikatakan munafik. Yang benar jadi salah. Yang salah dibenarkan.

Wah..wah..wah…. Jika begini adanya apakah mantra witing tresno jalaran saka kulina menjadi benar untuk dilakukan. Memang hal buruk yang menimpa harus dihayati dan diambil hikmahnya. Tapi kalau kita sudah terbiasa dan terlanjur tresno dengan keburukan. Alamak.. jangan-jangan mata kita buta dan otak kita sudah bebal, tahi ayam jadi berasa coklat!!