Minggu, 29 April 2012

Idola: Bentuk lain dari Pengkultusan?

Tiga hari terakhir ini ditambah dengan minggu-minggu bahkan hingga hitungan bulan, di televisi, mulai dari iklan, gosip, acara musik, hingga berita lagi ribut ngomongin hallyu (itu lho korean wave :). Lebih-lebih karena barusan saja Super Junior ngadain SS4 (Super SHow 4) - wah, aku tau juga yaa.. ya iyalah :D

Bisa dibilang ini artikel pembelaan, rasionalisasi, atau sekedar katarsis karena saya tidak mampu bicara soal masalah ini. Saya suka Super Junior. Bener! Saya tahu album pertama hingga kelimanya. Mulai dari personilnya masih 12, kemudian jadi 13, hingga sekarang tinggal 10 member yang masih aktif. 1 masih wajib militer, 1 baru saja keluar dari wajib militer, dan yang 1 lagi 'katanya' fokus dengan akting tetapi saya malah nggak pernah denger lagi syuting film apa. Mau bukti? Saya bahkan ngepos satu lagunya di artikel saya, ini nihh..

Tapi, sueerr!!! Saya nggak sampai nangis-nangis pingin liat konsernya, nungguin kapan manggung, ngumpulin merchandise, dan lain sebagainya yang berbau ababil atau abege galau. Lho wong, saya saja nggak tertarik nonton konsernya. Saya cukup senang dengan mendengarkan mp3 lagu balladnya berputar di komputer dan hape saya :D

Sampai saat ini, saya tidak habis pikir kenapa mereka, yang baru saja tahu super junior, sudah sangat tergila-gila, terbius, bahkan mendewakan mereka. Mengatakan ganteng banget (-,-?), mengatakan segala kebaikan dan kehebatan para personilnya hingga menjadikan mereka prioritas serta objek rasionalisasi.

Ini murni ke-sotoy-an saya untuk menuliskan ini. Kalaupun elf (everlasting friends - fansnya super junior) sampai guling-guling, nangis enjot-enjotan, dorong-dorongan sampai pingsan waktu beli tiket konser, emangnya para personil super junior bakal ngapain? segila-gilanya fans menyembah apakah ada efeknya pada idolanya??

Fenomena ini membuat saya teringat pada kisah Sunan Muria *lho?
Sunan Muria adalah satu dari wali songo yang kemudian berdakwah di daerah Muria (Gunung Muria, Kudus). Di akhir kehidupannya, Beliau membakar pesantren dan masjidnya :0 Why? Sunan Muria yang waspada akan terjadi syirik yang kemungkinan akan muncul ketika Beliau membiarkan pesantrennya tetap ada. Sayangnya, tembikar wadah air yang tersisa, tetap saja menjadi sarana masyarakat untuk ber-syirik ria. Hmfhh.. sedihnyaa :(

Menurut Nietzsche, manusia selalu menginginkan sosok super atau Superman (Übermensch) yang serba wow untuk menjadi tempat mereka mengiba. Ada fenomena berhala yang merupakan patung orang-orang bijak, ada fenomena ratu adil, bahkan fenomena artis dan idola. Sama yang terjadi pada super junior.

Kebutuhan untuk mengidolakan, kebutuhan akan figur, kebutuhan akan sosok yang lebih dan wow, menjadi sandaran. Entah sebagai role model yang sebenarnya, bentuk lain dari kecintaan pada diri sendiri, atau sarana mencari comfort zone. Saya juga tidak bisa mengerti.

Saya merasa kasihan pada Super Junior, Artis yang didewakan, Sunan Muria, Para Shalafus Sholeh, bahkan pada Nabi Muhammad SAW. Apakah mereka memang menginginkan dan mengharapkan pengkultusan??

Ya Allah, memang hanya Engkau yang seharusnya kami dewakan dan muliakan.. []

5 komentar:

  1. sama saya jg suka Korea, Suju jg suka tp ga py albumnya :-) ya..anak2 muda terutama perempuan mgkn mereka terlihat sperti pacar impian he..he..

    BalasHapus
  2. bisa jadi :DD
    saya sekadar pendengar lagu dan penonton dramanya saja :)

    BalasHapus
  3. Dunia hiburan itu hidup karena ada "idolisasi" ini. Banyak orang bisa makan karena idolisasi ini. Untuk menjadi idola, seseorang berusaha mendekati sifat-sifat Tuhan, Allah yang Maha Indah. Manusia suka keindahan yang karena itu seni bisa berkembang.

    Kita boleh memandang ini dengan sudut pandang keprihatinan, tapi sepanjang kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengubah manusia, biarkan Allah yang bermain lewat dinamika perkembangan manusia. Ada saatnya orang menjadi tergila-gila, ada saatnya mereka akan lebih bijak dan realistis. Mungkin "kesalahan" ini diperlukan untuk mencapai "sesuatu" yang baik?

    Jangan dilarang atau dipaksa tidak suka, nanti memberontak.

    BalasHapus
  4. ya, idolisasi memang menjadi sebuah dinamika kehidupan manusia, terlebih dunia hiburan..

    sayangnya, idolisasinya terlalu alay (mungkin gitu, mbak)..
    jadi inget kasus bertahun-tahun lalu, saat ada kasus remaja terinjak-injak di konser. apakah pembelajaran macam itu harus berulang?

    BalasHapus
  5. Ya, Nabi MUhammad saw adalah sebaik-baiknya idola

    BalasHapus