| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | History |
| Author: | Pramoedya Ananta Toer |
Saya ingin menuliskan keempat novel tersebut dalam satu review sekaligus. Namun, karena hanya cukup mengupload satu gambar saja. Tak apalah jika review keempatnya saya beri judul Rumah Kaca.
Tetralogi novel ini adalah karya Pramoedya yang pertama kali saya tamatkan. Saya telah membaca beberapa novelnya seperti cerita dari Blora namun tak sempat habis saya baca.
Tetralogi novel ini dimulai dengan perjalanan Minke (tokoh utama novel ini) yang mengunjungi kediaman Nyai Ontosoroh dan jatuh hati pada Annellies dalam Bumi Manusia. Disinilah tumbuh bibit awal yang menjadi trigger bagi Minke untuk menulis dan menunjukkan pendapatnya mengenai kondisi bangsanya. Budaya kasta atau levelisasi masyrakat tampak nyata di novel ini. Tertinggi adalah Totok kemudian campuran dan terakhir pribumi. Di Bumi Manusia, kondisi ekonomi - sosio - kultural masyarakat Indonesia terutama Jawa (karena sangat terasa Jawasentris-nya), tergambar dengan jelas, gamblang, dan deskriptif.
Kehidupan Minke hingga Annellies meninggal terangkum dalam Bumi Manusia. Dalam Anak Seribu Bangsa, Minke yang ditinggal mati Annellies berjuang untuk hidup dan bergerak. Persoalan budaya, kondisi politik yang menghangat, terlebih karena buletin Medan yang dibuatnya. Menghembuskan nafas baru bagi kehidupan masyarakat Pribumi. Pembentukan awal organisasi pribumi pun diceritakan lugas. Pembaca akan menemui kesesuaian sejarah yang sering dipelajari di bangku sekolah dengan novel ini. Meski terdapat beberapa kontradiksi. Saya rasa, wajar jika novel ini pernah dibredel. Cerdas dan provokatif!
Pasang-surut kehidupan politik, kisah asmara Minke, dan hambatan sosial akhirnya mendorong Minke untuk hijrah dari Surabaya menuju Betawi yang tertuang dalam Jejak Langkah. Pergulatannya sebagai aktivis keorganisasian yang menerjang budaya dan kolonialisme sangat mengasyikkan untuk disimak. Sayangnya, jebakkan pengasingan menangkapnya dan berakhirlah novel ketiga.
Berbeda dengan ketiga novel sebelumnya yang ber-aku-an. Novel Rumah Kaca ditulis dengan sudut pandang Panggemanann, orang yang membuat Minke diasingkan. Sangat provokatif dan heboh. Banyak hal-hal mengejutkan ada dalam novel ini. Inilah mengapa novel ini dilarang terbit. Dianggap membuka rahasia negara!!
Saya terpukau dengan novel ini. Seperti saya terpukau dengan Srintil dalam Ronggeng Dukuh Paruk ataupun dengan Lanthiep dalam Para Priyayi. Saya rasa ini bukanlah novel namun benar-benar kisah nyata.
Mulai inisiasi Boedi Oetomo oleh Dr Wahidin, Berdirinya Boedi Oetomo, Sarikat Dagang Islam, Indistje Partij digambarkan dalam novel ini meskipun dengan penamaan yang berbeda. Tetapi saya yakin pembaca akan dapat dengan segera menebaknya.
A must reading novel! Saya yang bukan pecinta sejarah saja bisa merasa memiliki sejarah Indonesia. Selamat membaca, selamat menemukan keajaiban sastra dan sejarah Indonesia!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar