'Apakah skeptis dan apatis sama?' Seorang teman bertanya pada saya. Sebentar saya berpikir, kemudian saya menjawab dengan sedikit keraguan. 'Mirip. Skeptis itu cenderung menutup diri dari pendapat orang lain dan apatis itu masa bodoh atau tidak mau peduli'. Ternyata teman saya sedang bimbang. Dia berpikir bahwa sikapnya tidak selalu meng-iya-kan pendapat orang lain itu masuk dalam bentuk skeptis. 'Tidak mudah percaya', begitu katanya.Menurut saya, sikap skeptis itu bukan sikap kritis. Skeptis itu tidak mau mendengar pendapat orang sedang kritis itu mendengar pendapat orang tetapi meminta pertanggungjawaban atau pendapat tersebut. Jawaban itu benar-benar pendapat saya saja, bisa dikatakan subjektivitas saya. Saya pun bukan orang yang mudah menerima pendapat orang lain. Okelah jika mendengarkan pendapat orang lain, toh saya suka berdiskusi. Bukankah dalam diskusi, mendengar pendapat orang lain itu mutlak hukumnya? Beda kasus dengan debat kusir, lho :p
Saya memahami pendapat orang lain sebagai sekumpulan pilihan. Orang lain memberikan pilihan pendapat atau sikap sesuai dengan pemahamannya, memberikan alasan mengapa pendapat itu perlu dipilih. Akan tetapi, orang lain tidak punya hak sedikitpun untuk memaksa pendapatnya untuk diterima bukan? Namanya juga pilihan, berarti bisa dipilih, juga bisa ditolak. Saran itu masukan. Masukan itu pilihan. Bukan kewajiban. Bukan keharusan. Berarti tidak etis jika didalamnya ada pemaksaan. Bukan begitu?
Kekritisan dan keinginan bertanya adalah sebuah dorongan yang alamiah (need yang dimiliki manusia). Fitrah. Dan saya berusaha mengembangkan fitrah tersebut :D
Jadi, saya hidup dan berkembang menjadi orang yang kebanyakan tanya, kebanyakan alasan, kebanyakan nge-les, dan kebanyakan ngeyel. Kata Bapak saya, saya itu warok. Kata Ibu saya, saya itu kepinteran. Hahahaha. Saya terima keduanya dengan senang hati dan bahagia.
Mandi dua kali sehari, saya pertanyakan. Makan tiga kali sehari, saya kritisi. Bahkan tidur yang katanya bagusnya 8 jam pun saya perdebatkan. Kalau bisa 4 jam, kenapa harus 8 jam? Anhe-aneh saja. Tapi begitu lah saya.
Jadi, jangan kaget jika semua hal saya pertanyakan kelayakannya untuk saya lakukan. Mengerjakan tugas kuliah. Datang ke kampus 15 menit sebelum kuliah mulai. Ataupun berorganisasi, bagi saya membutuhkan alasan, motif, dan kemanfaatannya. Jika saya mendapatkan jawaban yang bisa dipertanggungjawabkan, akan saya lakukan. Jika tidak, jangan harap saya lakukan. Kalaupun saya lakukan, itu hanya coba-coba. Tak lebih.
Orang lain berkata, tidak semua hal bisa dipilih. Ada hal yang tidak memiliki alasan. Ada hal yang menjadi keterpaksaan dan harus dilakukan. Bagi saya tidak! Semua hal bisa memilih.
Hidup, bisa memilih mati. BerIslam, bisa memilih kafir. Kerkungkung, bisa memilih membebaskan diri. Kapitalis, bisa memilih sosialis. Semua pasti ada pilihan, seburuk apapun pilihan itu. PSK melacurkan diri pun adalah pilihan. Toh, sebenarnya bisa memilih sebagai pengemis, pengamin, perampok, ataupun pedagang asongan. Mahasiswa pun memilih. Memilih tabah dalam belajar, pindah jurusan atau universitas, drop out, atau asal-asalan dalam belajar.
Saya yakin bahwa hidup itu pilihan. Kita pasti memilih. Jadi tidak ada kata 'netral'. Netral sebenarnya memilih membuat pilihan sendiri. Pluralisme pun memilih. Memilih meniadakan pilihan lain dan memilih prinsipnya sendiri. Bohong jika tidak memilih.
Sayangnya, sering dari kita merasa tidak memiliki pilihan sehingga merasa terjebak. Merasa tidak bisa bergerak. Merasa berhenti dan berusaha merelakan diri bahwa memang inilah seharusnya. Bodoh! Itu salah kaprah. Orang lain memaksa bukan berarti kita harus terpaksa bukan? Diri kita sendiri yang membuat keterpaksaan itu ada dan kesempatan untuk memilih itu hilang. Kita yang membuat diri kita sendiri terjebak pada ketiadaan pilihan. Kita yang menghilangkan option-option lain sehingga kita tidak mampu memilih.
Jangan-jangan kita sendirilah yang memilih keterpaksaan. Alih-alih dipaksa, sebenarnya menjalani keterpaksaan itu hanya sebagai pendamai diri dari konflik ego yang terjadi. Bukan kah, itu sama saja dengan putus asa?
*Tulisan ini mutlak pendapat saya dan opini saya. Tidak ada unsur untuk memaksa pendapat ini masuk kedalam pemahaman anda. Apakah ada yang menolak pernyataan saya? Mari berdiskusi dan menemukan kebenarannya :)


