Rabu, 30 Mei 2012

Dipaksa Memilih atau Memilih Keterpaksaan

'Apakah skeptis dan apatis sama?' Seorang teman bertanya pada saya. Sebentar saya berpikir, kemudian saya menjawab dengan sedikit keraguan. 'Mirip. Skeptis itu cenderung menutup diri dari pendapat orang lain dan apatis itu masa bodoh atau tidak mau peduli'. Ternyata teman saya sedang bimbang. Dia berpikir bahwa sikapnya tidak selalu meng-iya-kan pendapat orang lain itu masuk dalam bentuk skeptis. 'Tidak mudah percaya', begitu katanya.

Menurut saya, sikap skeptis itu bukan sikap kritis. Skeptis itu tidak mau mendengar pendapat orang sedang kritis itu mendengar pendapat orang tetapi meminta pertanggungjawaban atau pendapat tersebut. Jawaban itu benar-benar pendapat saya saja, bisa dikatakan subjektivitas saya. Saya pun bukan orang yang mudah menerima pendapat orang lain. Okelah jika mendengarkan pendapat orang lain, toh saya suka berdiskusi. Bukankah dalam diskusi, mendengar pendapat orang lain itu mutlak hukumnya? Beda kasus dengan debat kusir, lho :p

Saya memahami pendapat orang lain sebagai sekumpulan pilihan. Orang lain memberikan pilihan pendapat atau sikap sesuai dengan pemahamannya, memberikan alasan mengapa pendapat itu perlu dipilih. Akan tetapi, orang lain tidak punya hak sedikitpun untuk memaksa pendapatnya untuk diterima bukan? Namanya juga pilihan, berarti bisa dipilih, juga bisa ditolak. Saran itu masukan. Masukan itu pilihan. Bukan kewajiban. Bukan keharusan. Berarti tidak etis jika didalamnya ada pemaksaan. Bukan begitu?

Kekritisan dan keinginan bertanya adalah sebuah dorongan yang alamiah (need yang dimiliki manusia). Fitrah. Dan saya berusaha mengembangkan fitrah tersebut :D
Jadi, saya hidup dan berkembang menjadi orang yang kebanyakan tanya, kebanyakan alasan, kebanyakan nge-les, dan kebanyakan ngeyel. Kata Bapak saya, saya itu warok. Kata Ibu saya, saya itu kepinteran. Hahahaha. Saya terima keduanya dengan senang hati dan bahagia.

Mandi dua kali sehari, saya pertanyakan. Makan tiga kali sehari, saya kritisi. Bahkan tidur yang katanya bagusnya 8 jam pun saya perdebatkan. Kalau bisa 4 jam, kenapa harus 8 jam? Anhe-aneh saja. Tapi begitu lah saya.

Jadi, jangan kaget jika semua hal saya pertanyakan kelayakannya untuk saya lakukan. Mengerjakan tugas kuliah. Datang ke kampus 15 menit sebelum kuliah mulai. Ataupun berorganisasi, bagi saya membutuhkan alasan, motif, dan kemanfaatannya. Jika saya mendapatkan jawaban yang bisa dipertanggungjawabkan, akan saya lakukan. Jika tidak, jangan harap saya lakukan. Kalaupun saya lakukan, itu hanya coba-coba. Tak lebih.

Orang lain berkata, tidak semua hal bisa dipilih. Ada hal yang tidak memiliki alasan. Ada hal yang menjadi keterpaksaan dan harus dilakukan. Bagi saya tidak! Semua hal bisa memilih.

Hidup, bisa memilih mati. BerIslam, bisa memilih kafir. Kerkungkung, bisa memilih membebaskan diri. Kapitalis, bisa memilih sosialis. Semua pasti ada pilihan, seburuk apapun pilihan itu. PSK melacurkan diri pun adalah pilihan. Toh, sebenarnya bisa memilih sebagai pengemis, pengamin, perampok, ataupun pedagang asongan. Mahasiswa pun memilih. Memilih tabah dalam belajar, pindah jurusan atau universitas, drop out, atau asal-asalan dalam belajar.

Saya yakin bahwa hidup itu pilihan. Kita pasti memilih. Jadi tidak ada kata 'netral'. Netral sebenarnya memilih membuat pilihan sendiri. Pluralisme pun memilih. Memilih meniadakan pilihan lain dan memilih prinsipnya sendiri. Bohong jika tidak memilih.

Sayangnya, sering dari kita merasa tidak memiliki pilihan sehingga merasa terjebak. Merasa tidak bisa bergerak. Merasa berhenti dan berusaha merelakan diri bahwa memang inilah seharusnya. Bodoh! Itu salah kaprah. Orang lain memaksa bukan berarti kita harus terpaksa bukan? Diri kita sendiri yang membuat keterpaksaan itu ada dan kesempatan untuk memilih itu hilang. Kita yang membuat diri kita sendiri terjebak pada ketiadaan pilihan. Kita yang menghilangkan option-option lain sehingga kita tidak mampu memilih.

Jangan-jangan kita sendirilah yang memilih keterpaksaan. Alih-alih dipaksa, sebenarnya menjalani keterpaksaan itu hanya sebagai pendamai diri dari konflik ego yang terjadi. Bukan kah, itu sama saja dengan putus asa?

*Tulisan ini mutlak pendapat saya dan opini saya. Tidak ada unsur untuk memaksa pendapat ini masuk kedalam pemahaman anda. Apakah ada yang menolak pernyataan saya? Mari berdiskusi dan menemukan kebenarannya :)

Minggu, 27 Mei 2012

Jatuh Hati

Apa yang membuatmu jatuh hati? Saya jatuh hati pada sesuatu hal yang menarik dan bermakna. Saya jatuh hati pada novel jika ceritanya berdetak dan berdenyut kencang, entah itu membuat saya menahan nafas saat menghayatinya atau malah meneteskan hingga menangis tersedu-sedu.

Saya jatuh hati pada sebuah lagu jika saya terpikat pada arti lagu tersebut. Terserah jika suara penyanyinya serak, beda tipis dengan suara saya yang cempreng. Terserah jika melodinya aneh atau nggak terlalu easy listening. Terserah kalau penyanyi nggak terkenal. Yang penting arti lagu itu menancap di hati saya dan membuat saya berkata 'akuu bangeet'.

Saya jatuh hati pada sinema ataupun film jika tema ceritanya membuat saya menangis parah ataupun tercengang. Film dengan genre human, family yang membuat saya tersedak dengan air mata. Film perang dan historical yang membuat saya tercengang. Ataupun film detektif dan medis yang membuat akal saya berlari lebih cepat.

Saya jatuh hati pada psikologi. Membuat saya terhanyut membaca beberapa buku populernya. Membuat saya berkerut dan kecanduan buku diktatnya. Membuat saya meruntuhkan sedikit keegoan dan self-centre saya untuk lebih peka dan peduli pada orang lain.

Saya jatuh hati pada Islam. Menangis membaca sirah-sirahnya. Tertegun dan terhanyut dengan ajarannya. Tergila-gila dengan Pencipta. Saya terjerat. Saya budak. Dan saya tak berusaha sedikitpun untuk melepaskan diri. Justru semakin terasa bahwa sudah seharusnya saya tunduk dan menghamba.

Saya jatuh hati. Dan saya yakin kamu pun juga.
kimi ga kono uta wo aishite kureru 

happines is living your life proudly while facing the sun -gokusen

Minggu, 20 Mei 2012

Memahami Budaya lewat Sastra

Saya suka sastra meskipun saya bukanlah orang yang nyastra dan berbakat seni, apalagi bikin cerita fiksi. Saya paling menikmati cerita berbau historical, sejarah, ataupun yang kental dengan budaya. Bagi saya, membaca novel sejarah layaknya membaca budaya sebuah daerah.

Mungkin ini mutlak ke-sotoy-an saya dalam memahami sastra. Sastra bagi saya, sama dengan memaknai kultur, budaya, kebiasaan, bahkan karakter masyarakat masa itu. Seperti melongok pada jendela waktu dan sejarah. Sangat menyenangkan dan mengesankan.

Pertama kali saya membaca novel sejarah adalah saat SMA. Selain karena perpustakaan sekolah isinya buku-buku kuno dan jadul, tak ada pilihan lain selain membaca novel-novel itu. Ronggeng Dukuh Paruk, Para Priyayi dan Jalan Menikung, Dibawah Lindungan Ka'bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dan masih banyak lagi. Saya jatuh cinta.

Menurut saya, banyak aspek budaya yang tampak dari karya sastra. Saya membaca Eropa dari Les Miserables-nya Victor Hugo. Eropa dengan konflik politik ala Prancisnya, rumah-rumah dan jalan-jalannya, bahkan pertentangan nilai dan norma di dalamnya. Saya membaca Rusia dari Pertengkaran (judul aslinya apaan yaa.. :) karya Nikolai Gogol. Kocak dengan deskripsi yang sepanjang jalan kenangan. Karakter orang Rusia masa itu yang serta merta suka memperkarakan hal sepele.

Saya membaca Jepang dengan Musashi karya Eiji Yoshikawa di zaman pergolakan menuju Meiji. Betapa perjuangan seorang samurai dalam menempa diri. Betapa murahnya nyawa karena pertarungan. Saya berusaha memahami Jepang dengan Kappa dari Ryonosuke Akutagawa ataupun Botchan karya Natsume Soseki. Satir-satir yang dilontarkan. Falsafah dan filosofi hidup yang dipegang. Bahkan gaya cerita yang berbeda dengan karya sastra lain. Karya sastra jepang -dari beberapa novel lampau yang saya baca- cenderung tidak memiliki klimaks yang runcing dan tunggal. Klimaksnya ganda dan banyak. Muncul masalah kecil, diselesaikan, masalah lain, diselesaikan kembali. Bukan gaya cerita macam Nikolai Gogol ataupun HAMKA. Benar-benar cerita gaya Jepang. Joke-joke satirnya pun sangat khas. Keren!

Saya membaca Etiopia dari Bayang-bayang Hitam karya Najib Kailani. Bagaimana pemerintahan yang dibayang-bayangi persengkongkolan mengerikan.

Saya membaca Indonesia dan kepriyayiannya dari novel karya Umar Kayam. Bagaimana ngenger terjadi. Ungah-ungguh yang dilakukan. Bahkan hingga nasi pecel yang jadi tradisi sarapan pagi. Saya belajar kisah Kiai Indonesia dari Dibawah Lindungan Ka'bah-nya HAMKA atau Runtuhnya Surau kami karya AA Navis. Pergolakan agama, budaya, dan sosial yang terjalin.

Saya suka sekali novel-novel sejarah. Apalagi novel tua yang ditulis dijamannya. Wuaahhh.. Jadi pingin baca lebih banyak lagi buku. Karya Naguib Mahfoudz, Anton Chekov, Leo Tolstoy, dan banyak lagi. 

Mari membaca. Mari memahami sejarah dan ribuan hikmah yang terjalin didalamnya :)

Senin, 07 Mei 2012

RISET: Egoisme atau Optimalisasi?

Lagi-lagi saya teringat esai yang pernah saya buat. Saya pikir, pasti akan menarik mendengar pendapat orang lain mengenai opini saya mengenai urusan ini.

So, I present you this essay :) Esai ini saya tulis sebagai syarat masuk sebagai pengurus BEM KM Undip periode 2012. Meskipun saya bukanlah anak BEM (Saya nggak pernah tertarik masuk BEM, sekarang kok masuk *lho?), tetapi karena BEM bagian masih ada bau-bau risetnya, maka okelahh :DD

***

RISET: EGOISME ATAU OPTIMALISASI?

Sebagai negara berkembang yang mendedikasikan diri sebagai negeri yang mencerdaskan bangsanya, Indonesia memiliki 121 Perguruan Tinggi Negeri belum lagi Perguruan Tinggi Swasta yang jumlahnya bisa mencapai empat kali lipatnya. Perguruan Tinggi hadir di Indonesia sejak tahun 1800an hampir seratus tahun sebelum negara ini merdeka. Lucunya, hingga usia lansia ini, Indonesia masih saja memiliki banyak masalah dengan pendidikan dan manusia-manusia hasil didikannya.

Sudah banyak mahasiswa yang menghujat kinerja DPR yang seenaknya dan meminta milyaran dana hanya untuk WC, sudah menjadi hal yang etis bahwa mahasiswa pun juga seharusnya melihat cermin diri atas kebobrokannya sendiri. Universitas Diponegoro telah berdiri hampir 55 tahun dan telah memiliki banyak prestasi dengan lintas ilmu. Sayangnya, potensi ini tidak tampak secara nyata dewasa ini. Mengapa? Bisa jadi ini karena kesalahan treatment atau bahkan kesalahan pemberdayaan potensi. Bisa jadi pula ini kesalahan Kementerian Riset.
  
Kementerian Riset salah. Jika parameter yang terukur hanya satu sisi. Jika muncul kesenjangan sosial tercipta antar fakultas. Jika iklim akademik yang awalnya ada kemudian pudar. Jika banyak mahasiswa yang merasa didzholimi karena cara mereka berprestasi yang unik. Bukankah setiap karakter memunculkan cara pandang yang berbeda?

Anak TK berprestasi jika berani maju ke depan atau bergaul dengan teman. Marketer dikatakan berprestasi ketika berhasil berkenalan dengan banyak orang dan menawarkan. Psikolog dikatakan berprestasi ketika mampu berempati dan berepokhe dengan benar. Lalu mengapa setiap fakultas yang bidangnya berbeda, wadah aktualisasinya berbeda, bahkan tipikal individunya berbeda harus disamaratakan dengan mengukur prestasinya berdasarkan proposal kegiatan mahasiswanya?

Hukum yang harus memiliki kompetensi lobi yang hebat. Ekonomi yang handal mengatur dan mengaudit keuangan. Teknik yang berinovasi. Psikologi yang menciptakan sistem-sistem manusia. Semuanya tidak bisa diukur samarata samarasa seperti sosialis. Semuanya harus dioptimalisasikan dengan caranya. Mengukur kertas dan jalan dengan alat yang berbeda bukan?

Jika ingin semua berprestasi berarti dekati dengan bagaimana seharusnya didekati. Ini berarti fokus lingkar riset bukanlah menghitung berapa banyak proposal melainkan bagaimana kualitas akademik tiap kampus. Ini berarti lingkar riset tidak menghitung banyaknya proposal PKMK di Fakultas Hukum, jangan-jangan mereka malah memperjualbelikan hukum, tetapi memantau berapa kuantitas simulasi sidang yang mereka lakukan. Inilah yang menjadikan riset berjalan secara beriringan dan dinamis. Tidak egois dan individual.

Konyol ketika memaksakan mengukur banyaknya PKMK di Hukum ataupun Akuntansi. Sama konyolnya meminta anak menjual barang yang seharusnya disedekahkan, menyuruh potensi terkubur dan memunculkan kedzoliman baru. Memaksakan berarti egois. Memaksakan berarti malas memikirkan alat yang sesuai. Memaksakan berarti menutup potensi, menyuburkan pemberontakan. Kementerian Riset memilih jalan yang mana?

[] Amalia Fauziah. 16 Januari 2012. 21:55

Sabtu, 05 Mei 2012

Benarkah Ini Milik Saya?

Saya benci kata galau. Apalagi jika disematkan pada diri saya. Ada yang menyamakan galau dengan gelisah dan resah. Ada yang menyamakan galau dengan krisis dalam fase pencapaian identitas. Padahal galau dengan gelisah dan resah itu beda!

Galau, menurut KBBI, adalah kondisi pikiran yang kacau, tidak menentu. Sedangkan gelisah adalah perasaan khawatir, tidak tenang, dan penuh kecemasan. Resah adalah kegelisahan yang sangat. Nah loo.. bedakan!

Galau, bagi saya, berkonotasi negatif yang kesannya saya masih berada dalam fase krisis identitas, ababil (abege labil), dan alay. Padahal, kondisi saya sekarang adalah resah! Saya khawatir sangat, saya gelisah sangat, saya cemas sangat karena beberapa persoalan berputar di kepala saya dan terlalu rumit untuk diselesaikan tanpa menyakiti siapapun.

Saya resah tingkat dewa. Berarti saya gelisah gelisah gelisah gelisah sangaat gelisah. Saya sepenuhnya sadar bahwa kehidupan yang saya jalani saat ini bukan sepenuhnya milik saya. Ketika saya berpakaian, menimbulkan efek sosial. Entah pencitraan Islam, pencitraan saya sebagai pribadi, ataupun pencitraan sekolah yang menaungi saya. Ketika saya bicara, pendapat saya mempengaruhi pendapat orang lain dan bisa saja mempengaruhi pengambilan keputusan orang lain.

Saya sepenuhnya sadar bahwa inilah mengapa manusia itu makhluk sosial. Bukan hanya karena ia dipengaruhi oleh keadaan sekitarnya melainkan juga karena pengaruh yang ia dapatkan dilingkungan membuat dirinya mempengaruhi lingkungan pula (bingung kan? saya pun juga bingung -,-?)

Huaahhh!! Saya benar-benar resah!
Sering kali pilihan-pilihan kehidupan yang saya buat sekarang dipengaruhi orang lain bahkan tak jarang justru kehidupan saya didesain oleh orang lain. Saya ingin menolak tetapi kesadaran saya akan beragam hal itu membuat saya menerimanya. Bukankah berpikir logis dan rasional itu justru lebih baik?

Sayangnya terkadang saya menyesali keputusan-keputusan tersebut dan lagi-lagi rasio saya menguatkan pilihan tersebut. Ego saya kalah telak :(
Pernah saya dengar seorang teman berkata "Seharusnya orang itu bisa memprioritaskan kegiatan dan kebutuhan". Saya terhenyak dan berpikir, prioritas menurut siapa? Bukankah yang membuat pilihan-pilihan prioritas kehidupan adalah orang yang menjalaninya?

Pilihan prioritas saya dengan orang lain berbeda. Saya beranggapan skripsi adalah hal yang lebih prioritas dibanding rapat (ada yang menolak?). Saya beranggapan kegiatan call for paper lebih penting daripada kajian (orang lain beranggapan berbeda, boleh kan?). Saya beranggapan mengurus adik dan mengantarnya mengaji lebih penting daripada saya berkumpul dengan teman. Prioritas kehidupan dan kegiatan orang dengan yang lain sah-sah saja berbeda. Bukankah target kehidupan kehidupan setiap orang berbeda?

Perbedaan prioritas adalah sebuah keniscayaan. Memang, ketika semuanya nafsi-nafsi, tujuan bersama bisa kacau dan hancur total. Akan tetapi, bukankah ada lisan yang bisa menyambungkan ribuan prioritas. Bukankah ada komunikasi yang bisa menyelaraskan semuanya.

Apakah tulisan ini seperti curcol. Saya yakinkan, bukan! Tulisan ini bukan curcol tetapi murni 100% curhat! :DD

Bisakah kiranya masing-masing menurunkan ego dan emosi untuk kemaslahatan bersama. Bolehlah mengintervensi target-target kehidupan orang lain tetapi bukankah lebih baik dengan ketuk pintu dan bicara sepantasnyaa.. Iya kan?

Jadi, bolehkah jika saya membuat prioritas-prioritas sendiri. Bolehkah saya mencapai target-target kehidupan saya sendiri. Bolehkah saya mengklaim bahwa kehidupan saya ini benar milik saya?