Minggu, 20 Mei 2012

Memahami Budaya lewat Sastra

Saya suka sastra meskipun saya bukanlah orang yang nyastra dan berbakat seni, apalagi bikin cerita fiksi. Saya paling menikmati cerita berbau historical, sejarah, ataupun yang kental dengan budaya. Bagi saya, membaca novel sejarah layaknya membaca budaya sebuah daerah.

Mungkin ini mutlak ke-sotoy-an saya dalam memahami sastra. Sastra bagi saya, sama dengan memaknai kultur, budaya, kebiasaan, bahkan karakter masyarakat masa itu. Seperti melongok pada jendela waktu dan sejarah. Sangat menyenangkan dan mengesankan.

Pertama kali saya membaca novel sejarah adalah saat SMA. Selain karena perpustakaan sekolah isinya buku-buku kuno dan jadul, tak ada pilihan lain selain membaca novel-novel itu. Ronggeng Dukuh Paruk, Para Priyayi dan Jalan Menikung, Dibawah Lindungan Ka'bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dan masih banyak lagi. Saya jatuh cinta.

Menurut saya, banyak aspek budaya yang tampak dari karya sastra. Saya membaca Eropa dari Les Miserables-nya Victor Hugo. Eropa dengan konflik politik ala Prancisnya, rumah-rumah dan jalan-jalannya, bahkan pertentangan nilai dan norma di dalamnya. Saya membaca Rusia dari Pertengkaran (judul aslinya apaan yaa.. :) karya Nikolai Gogol. Kocak dengan deskripsi yang sepanjang jalan kenangan. Karakter orang Rusia masa itu yang serta merta suka memperkarakan hal sepele.

Saya membaca Jepang dengan Musashi karya Eiji Yoshikawa di zaman pergolakan menuju Meiji. Betapa perjuangan seorang samurai dalam menempa diri. Betapa murahnya nyawa karena pertarungan. Saya berusaha memahami Jepang dengan Kappa dari Ryonosuke Akutagawa ataupun Botchan karya Natsume Soseki. Satir-satir yang dilontarkan. Falsafah dan filosofi hidup yang dipegang. Bahkan gaya cerita yang berbeda dengan karya sastra lain. Karya sastra jepang -dari beberapa novel lampau yang saya baca- cenderung tidak memiliki klimaks yang runcing dan tunggal. Klimaksnya ganda dan banyak. Muncul masalah kecil, diselesaikan, masalah lain, diselesaikan kembali. Bukan gaya cerita macam Nikolai Gogol ataupun HAMKA. Benar-benar cerita gaya Jepang. Joke-joke satirnya pun sangat khas. Keren!

Saya membaca Etiopia dari Bayang-bayang Hitam karya Najib Kailani. Bagaimana pemerintahan yang dibayang-bayangi persengkongkolan mengerikan.

Saya membaca Indonesia dan kepriyayiannya dari novel karya Umar Kayam. Bagaimana ngenger terjadi. Ungah-ungguh yang dilakukan. Bahkan hingga nasi pecel yang jadi tradisi sarapan pagi. Saya belajar kisah Kiai Indonesia dari Dibawah Lindungan Ka'bah-nya HAMKA atau Runtuhnya Surau kami karya AA Navis. Pergolakan agama, budaya, dan sosial yang terjalin.

Saya suka sekali novel-novel sejarah. Apalagi novel tua yang ditulis dijamannya. Wuaahhh.. Jadi pingin baca lebih banyak lagi buku. Karya Naguib Mahfoudz, Anton Chekov, Leo Tolstoy, dan banyak lagi. 

Mari membaca. Mari memahami sejarah dan ribuan hikmah yang terjalin didalamnya :)

2 komentar:

  1. Wah, Botchan! Suka! Sederhana, tapi penuh makna.

    BalasHapus
  2. Mohon maaf, masih punya buku "bayang bayang hitam" karya Najib Kailani tidak ? Boleh saya foto copy, penting lg butuh
    Terima kasih

    BalasHapus