Saya tidak suka kucing! Sebenarnya justru bisa dikatakan bahwa saya membenci kucing. Menurut hemat saya, kucing selayaknya penjilat, mirip dengan tikus yang dikonotasikan sebagai tukang korup. Mengeong-ngeong lemah, manja, lalu berjalan sambil menggelendot di kaki majikannya. Jika kucing seperti itu, pasti ia menginginkan sesuatu. Entah makanan, air, bantal empuk, atau sekadar dielus-elus. Menjijikkan bukan. Alaminya, kucing itu memburu tikus. Memakan tikus untuk hidup. Mencari makanannya sendiri. Jika tidak, berarti itu penyimpangan! Deliquent!!!
Akan tetapi, karena lima ekor kucing di rumah saya yang secara otomotis mirip seperti panti asuhan kucing memaksa saya bersikap. Dicintai adik-adik saya. Berkeliaran sepanjang hari disekitar saya. Mau tidak mau, rela tidak rela, saya harus menerima kehadiran mereka. Lama-lama saya menjadi cukup memperhatikan, hapal nama-namanya, bahkan memberinya makan. Saya merasa terpaksa untuk meridhoinya. Begitulah. Witing tresno jalaran saka kulino.

Banyak dari kita hidup dengan mantra witing tresno jalaran saka kulina. Hampir di semua aspek kehidupan. Tidak suka makan buah, ketika dipaksa kemudian terbiasa akhirnya mencintai buah. Terpaksa masuk ke psikologi tetapi setelah kuliah satu hingga dua semester justru jatuh cinta dengan psikologi dan semakin mendalaminya. Bahkan, banyak sekali drama, sinetron, bahkan kehidupan percintaan yang fell in love karena terbiasa dan yup, simsalabim abrakadabra. Mencintai karena terbiasa dan terasa janggal jika tidak ada. Bisa jadi apa yang kita inginkan dan kita harapkan bukanlah yang terbaik bagi kita. Begitu bukan?
Hal yang aneh pun bisa kita anggap biasa, wajar, hingga kita cintai karena terbiasa. Wedges tidak dikenal perempuan jawa, dulu, tapi kini, sangat digemari. Celana panjang yang tidak biasa digunakan perempuan, kini hampir semua perempuan memakainya. Kini, perempuan yang sekolah tinggi dan bekerja adalah biasa, padahal dahulu adalah hal tabu. Normal dan biasa menjadi sebuah kesepakatan umum tentang suatu hal. Yang diterima mayoritas itu lah yang normal.
Sayangnya, witing tresno jalaran saka kulina ini ternyata berdampak lebih jauh dibanding yang dibayangkan. Bergandengan dan berciuman dipinggir jalan dianggap biasa. Memakai rok super pendek menjadi mode yang harus diikuti. Menonton video amoral dikatakan wajar, jika tidak, justru dikatakan munafik. Korupsi adalah manusiawi, jika tidak mau korupsi berarti sok alim dan berlagak malaikat.
Ketika masyarakat menganggap keburukan menjadi hal biasa, bukan lagi tabu. Maka, kurve dan grafik kewajaran menjadi bergeser. Yang baik dikatakan abnormal. Yang buruk dikatakan normal. Yang amoral dikatakan trend. Yang bermoral dikatakan munafik. Yang benar jadi salah. Yang salah dibenarkan.
Wah..wah..wah…. Jika begini adanya apakah mantra witing tresno jalaran saka kulina menjadi benar untuk dilakukan. Memang hal buruk yang menimpa harus dihayati dan diambil hikmahnya. Tapi kalau kita sudah terbiasa dan terlanjur tresno dengan keburukan. Alamak.. jangan-jangan mata kita buta dan otak kita sudah bebal, tahi ayam jadi berasa coklat!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar