Selasa, 22 November 2011

Bicara Cinta!

Saya sering sekali baca status galau tentang cinta, nonton film melodrama yang sampai berdarah-darah nangisnya, baca novel chiklit, teenlit, roman yang semuanya bicara cinta, bahkan artikel-artikel di yahoo pun banyak banget tentang bagaimana menarik cinta pada dirimu dan hatimu. Cinta yang saya tulis disini bukan cinta yang universal lho! Cinta orang tua pada anak, cinta pada sahabat, cinta pada tanah air, ataupun cinta pada agama. BUKAN! Yang saya tulis disini benar-benar cinta yang sangat spesifik dan menjadi bahan asyik laki-laki - perempuan di semua usia dan semua area. Cinta antara laki-laki dan perempuan.

Kalau saya baca, saya dengar, saya lihat, semua aspek senang sekali bicara cinta. Dari lagu slow ballad yang emang pangsanya nangis-nangisan sampai lagu band rock and roll yang tampangnya sangar tapi hatinya mellow. Lebih mellow dari saya, padahal saya lebih suka lagu ballad :p

Dari semua itu, saya selalu berpikir. Dari usia saya SMP, SMA, sampai sekarang semester VII, saya belum dapat jawabannya. Kenapa orang bisa jatuh cinta, pada orang tersebut, waktu tersebut, dan saat tersebut. Apa alasannya?!?

Pencarian tersebut saya mulai dari SMP, masa awal rain and storm (wkwkwkwk) dimana banyaak sekali teman-teman saya yang riuh rendah membahasnya. Kemudian SMA, saya bahkan bertanya pada teman-teman saya yang sudah menjalin hubungan dengan lawan jenis (maksudnya pacaran:). Kenapa kamu memilih pacaran, dan kenapa laki-laki itu yang jadi pacarmu? Begitu tanya saya. Tetapi jawabannya selalu tidak memuaskan logika berpikir saya. Kalau saya bisa memahami proses atensi di otak, kenapa saya tidak juga memahami proses cinta dalam diri seseorang yaa..

Kata Stenberg, cinta itu terdiri dari commitment, passion, dan intimacy. Commitment dan intimacy ada dalam hubungan pertemanan yang akrab. Passion dan intimacy ada pada pasangan kumpul kebo yang tidak memahami pentingnya komitmen tertulis bahkan kepemilikan pasangan. Bahkan passion saja bisa membentuk hubungan, hubungan kacau PSK dengan kliennya ataupun para pemerkosa.

Kata Islam, keluarga yang penuh cinta itu punya sakinah, mawaddah, warahmah. Ketenangan, rasa saling menyayangi dan memelihara, rahmah. Kalau menurut saya, cinta itu terbentuk yaa harus karena cinta pada Allah. Kita mencintai orang-orang yang mencintai Allah. Begitu bukan?

Kadang saya berpikir, sudah ada belum ya, penelitian fenomenologis yang membahas pemilihan pasangan dan decision makingnya. Bukannya kalau kita memilih pasangan yang kita lihat adalah bibit, bebet, bobotnya? Yang paling baik adalah memilih pasangan karena agamanya, setelah itu baru nasabnya, wajahnya, daann hartanya. Meskipun kalau pilih pasangan hidup, saya pasti pilih laki-laki yang pintarnya tingkat dewa 

Tappiii, bukannya orang yang masuk kriteria itu ada banyyaaakk sekali. Ada banyak orang sholeh di dunia ini. Ada banyak orang tampan di dunia ini. Ada banyak orang yang lahir dari keluarga yang baik di dunia ini. Ada banyak orang kaya di dunia ini. Dan ada banyak pula orang yang punya kesemuanya di dunia ini. Lalu, kenapa memilih orang yang ini? Saya sama sekali belum bisa memahami. Kurang nyaman, kurang cocok, kurang sreg, nggak ada chemistry. Itu benar-benar alasan atau sekadar alasan menolak? Wadduuhhh.. saya benar-benar bingung.

Atau memang karena saya tidak punya pengalaman yaa? Hahahaha, hidup saya kan bukan seperti Thorndike yang trial-error, mosok yaa.. butuh trial-error juga mencari pasangan hidup yang tepat. Yaa, sudahlah, mungkin saya belum tahu jawabannya sekarang, mungkin suatu saat nanti. Kata orang time solve everything, saya tunggu pembuktian saja :D

Yang jelas, mari mencinta. Mari mencinta dunia, mari mencinta semesta. Selamat mencinta kawan!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar