Sebelum saya menuliskan pendapat dan kritik saya terhadap pemikiran psikologi Barat, boleh kiranya untuk menilik keberadaan ilmu psikologi di dunia. Psikologi berawal dari pecahan filosofi yang memikirkan dan menghayati mengenai hakikat manusia. Psikologi yang berasal dari filsafat dialihkan menjadi lebih ilmiah dengan menjadikannya bernuansa medis, ekperimental, dan terukur. Pengalihan dasar ini menjadikan psikologi kemudian dianggap sebagai ilmu pasti dengan Wundt sebagai pembentuk dasarnya.
Psikologi yang berasal dari pola pikir rasionalis secara drastis berubah menjadi empiris. Perubahan menjadikan struktur dan pembentukan psikologi menjadi grambyang atau kehilangan jejak. Hal yang menjadi pertanyaan utama saya atas eksistensi ilmu psikologi adalah untuk apa sebenarnya ilmu psikologi ada.
Logikanya ketika tujuan atau visi pemunculan ilmu psikologi, pengarahan dan penatalaksanaannya akan jauh lebih terarah dan tidak kehilangan pijakan. Ilmu-ilmu pengetahuan lain berdiri disebabkan adanya kebutuhan manusia untuk memahami fenomena alam dan kehidupan sehingga harapannya manusia dapat menjadikan hidupnya lebih sejahtera dan lebih baik. Misalnya teknologi, teknologi dikembangakan dengan tujuan agar manusia dapat memiliki hidup yang lebih baik, lebih mudah, dan lebih sejahtera. Dengan demikian, semua ilmu disandarkan pada manusia sebagai center yang hasil akhirnya mejadikan manusia menjadi lebih nyaman.
Apakah logika ini bisa disandarkan pada ilmu psikologi? Ilmu psikologi ada tentu karena adanya kebutuhan manusia untuk memahami hakikat manusia itu sendiri, kebutuhan untuk memahami mengapa perilaku-perilaku berbeda muncul padahal dengan stimulus yang sama atau bahkan muncul perilaku yang sama padahal mendapat stimulus yang berbeda. Akan tetapi, muara dari ilmu psikologi sendiri tidak jelas. Jika kemudian disepakati bahwa ilmu psikologi mampu mengungkap hakikat manusia seutuhnya, akan dipergunakan macam apa hasil tersebut?
Mengutip perkataan Malik Badri dalam Dilema Psikolog Muslim, ilmu psikologi saat ini tidak lagi bebas nilai, atau netral. Semua ilmunya muncul, disepakati, dan diaplikasikan justru karena mereka semua memiliki nilai-nilai yang sesuai dengan paham yang dimiliki pencetus teori. Dengan demikian, ilmu psikologi menjadi subjektif, dan melegalisasi diri dengan intersubjektif.
Bukan hal bijak ketika menyatakan bahwa setiap teori yang muncul dari individu selalu subjektif mengingat individu tersebut adalah subjek. Ketika statement tersebut muncul, konsekuensinya adalah manusia tidak mungkin mendapatkan kemutlakan. Dan kebenaran tidak ada yang mutlak. Semua berjalan relatif, relatif, dan semakin relatif.
Menurut saya, pendapat bahwa tidak ada kebenaran mutlak adalah kebutuhan pencetus teori untuk melegitimasi teorinya. Tidak ada kebenaran yang relatif karena fakta dan kebenaran, sebenarnya, selalu bersifat mutlak dan satu. Tidak ada kebenaran yang ganda. Manusia meskipun berperan sebagai subjek, tetap mampu menginterpretasi sesuatu sesuai dengan sifat objeknya (objektif), tidak selalu semata-mata berperilaku sesuai dengan dirinya (subjektif).
Ilmu psikologi yang berkembang, ada dengan tujuan. Menurut saya, tujuannya adalah semakin menjadikan manusia yakin bahwa ia adalah ciptakan Tuhan. Tuhan ini ada secara objektif, riil, dan fakta. Dan ilmu psikologi membantu manusia untuk memahami dirinya sehingga mampu menjadi hamba yang sesuai dengan yang diingikan Tuhan.
Secara tidak langsung, psikologi Barat yang tidak memiliki tujuan ketuhanan beorientasi pada penihilan ketuhanan. Psikologi barat berusaha menolak eksistensi Tuhan yang sebenarnya telah diyakini jauh sebelum ilmu tersebut muncul. Psikologi barat merupakan kritik atas eksistensi Tuhan dalam kehidupan manusia. Paham-paham materialisme yang dimiliki oleh setiap pencetus teori psikologi bisa mejadi bukti bahwa ilmu psikologi Barat memiliki tujuan utama untuk menihilkan Tuhan. Lalu, apakah kita tetap bertahan dalam upaya penihilan ini? []am2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar