Minggu, 02 Oktober 2011

Kesppi : saya cinta Kesppi, saya cinta berjuang

Mengingat awal tahun 2011, sudah masuk bulan kesepuluh di tahun 2011. Benar-benar cepat berlalu, tidak terasa. Satu saat saya iseng membuka artikel yang pernah saya tulis. Lalu, terbuka lah file ini. Artikel ini saya tulis sebagai tugas Up Grading Kesppi. Saya jadi mulai merefleksi diri, mengingat kembali semangat dan keyakinan itu. Selamat membaca, semoga memberi hikmah


KARENA INI SEMUA ADALAH KEWAJIBAN

Tahun ini adalah tahun ketiga saya berada di Kesppi dan tahun kesepuluh  berdirinya Kesppi. Bagi saya, hitungan tahun itu bukan lah hitungan yang sedikit dengan makna yang sempit. Jika hendak dianalogikan, dengan tiga tahun, bayi sudah menjadi batita yang mampu mengucap kata-kata, berlari-lari kecil, bahkan mulai belajar berhitung. Dengan tiga tahun, murid SD sudah berubah menjadi lulusan SMP, ataupun murid SMP sudah berubah menjadi lulusan SMA yang pastinya semakin matang dan mantap. Begitu pula dengan usia Kesppi yang ke dasawarsa, seharusnya telah mampu mengubah Kesppi menjadi organisasi yang mantap dan bermanfaat.

Menulis essai ini mengingatkan saya pada sepenggal ayat yang saya sukai. Intansurullaha yansurkum wa yutsabits aqdaamakum. Tolonglah agama Allah maka Allah akan menolongmu dan meninggikan derajatmu.

Masuk bulan ketiga setelah Musyawarah Besar yang memutuskan saya menjadi Ketua Kesppi 2011 dan satu bulan setelah Bu Iin melantik saya menjadi Ketua Kesppi 2011 adalah masa-masa yang amat berat. Saya merasakannya lebih berat dari September-Oktober tahun lalu saat harus mengurus Seminar dan Lomba Essai yang penuh tantangan. Menghabiskan tiga bulan terakhir sering membuat saya goyah untuk berada di Kesppi. Amanah sebagai Ketua Kesppi merupakan amanah terberat yang pernah saya terima dalam hidup saya setelah amanah menjadi hambaNya. Saya ragu bahakan hingga saat menuis essai ini, saya ragu bahwa tempat ini adalah tempat yang tepat bagi saya.

Izinkan saya menceritakan tiga bulan berat dalam setahun terakhir hidup saya. Setelah MuBes mensyahkan saya menjadi Ketua Kesppi 2011. PR besar yang sudah terendap dalam otak saya kembai mengembang dan membengkak. Saya membaca beberapa artikel yang menguatkan saya bahwa menjadi ketua itu berat dan harus memberi sebuah perubahan. Tuntutan tim formatur untuk segera rapat dan membentuk kepengurusan 2011 begitu menekan. Libur UAS dan SP, terasa bukanlah liburan tetapi tumpukan amanah yang masih harus saya tanggung selama satu tahun.

Menyelesaikan proposal besar, rapat-rapat koordinasi dengan senat, sidang, hingga rapat penentuan jadwal menjadi agenda wajib saya. Berat-berat-sangat berat. Bahkan tahun baru yang biasanya saya habiskan dengan menonton film atau sekadar tidur nyenyak pun sulit saya lakukan. Tahun baru saya habiskan untuk mengitung detail anggaran Kesppi, berkali-kali, seteliti mungkin yang saya bisa. Tahun baru bukanlah saat saya menghela nafas lega namun saat saya menghirup nafas dengan berat dan kekhawatiran mampu kah saya?

Jika Umar bin Khattab merasa rubuh saat dibai’at menjadi khalifah setelah Abu Bakar, begitu pula yang saya rasakan ketika disyahkan sebagai Ketua Kesppi 2011. Rasanya yang saya mampu hanyalah menangis. menangis karena hanya hal itu yang mampu saya lakukan. Saya tak mampu menolak, saya tak mampu mengindar. Saya tak mampu mangkir, saya tak mampu berkelit. Saya, sungguh, tetap berada di tempat, tergugu, dan menangis. Sungguh, saya takut, amanah ini tak mampu saya laksanakan dengan baik dan membelit saya masuk neraka. Sungguh saya takut mendzolimi pengurus Kesppi, saya takut mendzolimi Kesppi.

Bulan Februari kemarin adalah bulan puncak rasa frustrasi saya. Bila mampu, saya ingin mengundurkan diri sebagai Ketua Kesppi 2011. Bila boleh saya ingin, sungguh. Bahkan di tiga bulan pertama, amanah sudah terasa begitu berat dan menakutkan.

Essai ini bukanlah essai tetapi cerita saya tentang diri saya. Maaf jika menjadikan essai ini meaningless.

Mengapa saya masih disini?
Inilah pertanyaan yang sampai saat ini tidak mampu saya jawab sesuai dengan nafsu dan keinginan saya. Jika saya mampu, sudah sejak lama saya mundur tetapi saya tak bisa. Semua ini sungguh bukan karena saya mencari penghargaan dan kedudukan sebagai ketua. Saya tak butuh, saya tak ingin! Satu-satunya alasan mengapa saya mau dan tetap disini apapun yang terjadi hanya karena ini adalah kewajiban!

Berada di Kesppi menjadi sebuah kewajiban. Perilaku yang bernilai fardhu ‘ain. Mengapa? Karena ketika saya berada disini motivasi utama adalah keridhoan Allah, yang kedua adalah idealisme Islam yang harus terus kita suburkan. Kita tidak punya pilihan lain kecuali itu.

Berada di Kesppi adalah sarana saya berdakwah dengan kompetensi yang saya miliki. Menjadikan masyarakat kita masyarakat yang madani seperti saat Nabi menjadi pemimpin dulu dengan tangan dan pikiran saya. Saya rasa, itulah mengapa saya masih disini dengan segala kepayahan yang menggilas sumsum tulang saya.

Karena saya muslim yang berusaha menjadi mukmin. Karena saya umat nabi Muhammad. Karena saya hamba Allah yang mengharapkan ridhoNya. Karena saya memiliki ilmu pengetahuan dan saya wajib mengamalkannya. Karena saya manusia hidup yang harus memberi kontribusi perubahan. Karena saya adalah Kesppier’s yang berintikan semangat membangun Islam dari psikologi. Karena saya adalah saya!

Sungguh, tidak akan kamu masuk surga sebelum kamu mendapat cobaan seperti umat-umat sebelum kamu. Biarkan ayat dari surat Ali Imron ini menginternalisasi diri supaya tetap berusaha sekuat Nabi Muhammad dahulu berjuang untuk agamaNya. Sungguh, semuanya tak pernah sia-sia.

Amalia Fauziah
21:49, 11 Maret 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar