Sabtu, 05 Mei 2012

Benarkah Ini Milik Saya?

Saya benci kata galau. Apalagi jika disematkan pada diri saya. Ada yang menyamakan galau dengan gelisah dan resah. Ada yang menyamakan galau dengan krisis dalam fase pencapaian identitas. Padahal galau dengan gelisah dan resah itu beda!

Galau, menurut KBBI, adalah kondisi pikiran yang kacau, tidak menentu. Sedangkan gelisah adalah perasaan khawatir, tidak tenang, dan penuh kecemasan. Resah adalah kegelisahan yang sangat. Nah loo.. bedakan!

Galau, bagi saya, berkonotasi negatif yang kesannya saya masih berada dalam fase krisis identitas, ababil (abege labil), dan alay. Padahal, kondisi saya sekarang adalah resah! Saya khawatir sangat, saya gelisah sangat, saya cemas sangat karena beberapa persoalan berputar di kepala saya dan terlalu rumit untuk diselesaikan tanpa menyakiti siapapun.

Saya resah tingkat dewa. Berarti saya gelisah gelisah gelisah gelisah sangaat gelisah. Saya sepenuhnya sadar bahwa kehidupan yang saya jalani saat ini bukan sepenuhnya milik saya. Ketika saya berpakaian, menimbulkan efek sosial. Entah pencitraan Islam, pencitraan saya sebagai pribadi, ataupun pencitraan sekolah yang menaungi saya. Ketika saya bicara, pendapat saya mempengaruhi pendapat orang lain dan bisa saja mempengaruhi pengambilan keputusan orang lain.

Saya sepenuhnya sadar bahwa inilah mengapa manusia itu makhluk sosial. Bukan hanya karena ia dipengaruhi oleh keadaan sekitarnya melainkan juga karena pengaruh yang ia dapatkan dilingkungan membuat dirinya mempengaruhi lingkungan pula (bingung kan? saya pun juga bingung -,-?)

Huaahhh!! Saya benar-benar resah!
Sering kali pilihan-pilihan kehidupan yang saya buat sekarang dipengaruhi orang lain bahkan tak jarang justru kehidupan saya didesain oleh orang lain. Saya ingin menolak tetapi kesadaran saya akan beragam hal itu membuat saya menerimanya. Bukankah berpikir logis dan rasional itu justru lebih baik?

Sayangnya terkadang saya menyesali keputusan-keputusan tersebut dan lagi-lagi rasio saya menguatkan pilihan tersebut. Ego saya kalah telak :(
Pernah saya dengar seorang teman berkata "Seharusnya orang itu bisa memprioritaskan kegiatan dan kebutuhan". Saya terhenyak dan berpikir, prioritas menurut siapa? Bukankah yang membuat pilihan-pilihan prioritas kehidupan adalah orang yang menjalaninya?

Pilihan prioritas saya dengan orang lain berbeda. Saya beranggapan skripsi adalah hal yang lebih prioritas dibanding rapat (ada yang menolak?). Saya beranggapan kegiatan call for paper lebih penting daripada kajian (orang lain beranggapan berbeda, boleh kan?). Saya beranggapan mengurus adik dan mengantarnya mengaji lebih penting daripada saya berkumpul dengan teman. Prioritas kehidupan dan kegiatan orang dengan yang lain sah-sah saja berbeda. Bukankah target kehidupan kehidupan setiap orang berbeda?

Perbedaan prioritas adalah sebuah keniscayaan. Memang, ketika semuanya nafsi-nafsi, tujuan bersama bisa kacau dan hancur total. Akan tetapi, bukankah ada lisan yang bisa menyambungkan ribuan prioritas. Bukankah ada komunikasi yang bisa menyelaraskan semuanya.

Apakah tulisan ini seperti curcol. Saya yakinkan, bukan! Tulisan ini bukan curcol tetapi murni 100% curhat! :DD

Bisakah kiranya masing-masing menurunkan ego dan emosi untuk kemaslahatan bersama. Bolehlah mengintervensi target-target kehidupan orang lain tetapi bukankah lebih baik dengan ketuk pintu dan bicara sepantasnyaa.. Iya kan?

Jadi, bolehkah jika saya membuat prioritas-prioritas sendiri. Bolehkah saya mencapai target-target kehidupan saya sendiri. Bolehkah saya mengklaim bahwa kehidupan saya ini benar milik saya?

1 komentar:

  1. Dengan target yang deadline-nya di depan mata, aku pernah lebih memprioritaskan mengerjakan skripsi daripada membantu ibu. Tapi aku pernah dinasihati, kalau mungkin saja yang kita pandang benar itu, sebenarnya kurang bijak, termasuk dalam hal prioritas.

    Dengan kekuatanku sendiri, aku sendiri tidak berdaya memperjuangkan prioritasku. Ketika aku mengalah, mengendurkan sedikit keegoisanku, dengan melakukan hal yang sedianya bukan prioritasku, sekarang aku belajar yakin bahwa pertolongan Allah itu nyata.

    Kupikir, tempat di mana kita paling dibutuhkan oleh manusia itulah yang harus kita prioritaskan.

    BalasHapus