Pertanda futur itu ada dua. Kondisi jiwa yang memburuk atau stagnan, tidak berusaha meningkat dan tidak mengalami kemunduran. Akan tetapi bukankah setiap yang tidak berkembang sama saja dengan mundur?
Berada di titik nadir berarti saya berusaha menjadikan diri saya, baik lahir ataupun batin, berada seaman-amannya dalam comfort zone, zona teraman bagi ego saya. Saya malas keluar rumah. Saya malas bangkit dari kasur. Bahkan jika memungkinkan saya akan selamanya tidur *sayangnya itu tidak mungkin.
Mengamankan ego dengan berada di zona aman sama dengan melarikan diri dari realitas. Karena bagi saya, terutama saat ini, realitas yang terjadi adalah keadaan yang mengancam. Mengancam kedirian saya, mengancam ego saya, dan membuat diri saya berkubang dalam kecemasan. Satu-satunya cara adalah melarikan diri dari realitas. Yaaahhh.. dengan membangun perisai mekanisme diri yang tebal dan berlapis.
Saya membaca buku motivasi. Saya membaca novel. Saya menonton film. Saya tidur. Itulah upaya melarikan diri dari realitas yang mengancam. Menurut hemat saya, pelarian diri yang paling aman adalah tidur. Bukankah dengan tidur, kita membuat mimpi-mimpi sendiri. Semacam limbo mungkin..
Sayangnya, melarikan diri terus-menerus itu justru menyakitkan. Bukan menjadikan diri saya aman. Saya muak dengan pelarian diri saya. Saya menghindari telpon dan pesan yang menyakitkan. Saya menghindari info lomba yang biasanya saya nantikan. Saya bahkan merasa phobia campus. Saya amat sangat malas mendatangi kampus karena disitulah realitas menyakitkan itu terjadi (Bluntly speaking, skripsi just made me mad :)
Saya menyadari bahwa pelarian diri hanyalah menghindari kesakitan kecil tetapi menyongsong kesakitan yang mahabesar. Kesakitan dan kemalasan saya adalah tanda ketidakcintaan saya terhadap diri saya. Saya tidak cinta diri saya. Saya membiarkan diri saya terpuruk padahal saya tahu saya harus bangkit. Saya membiarkan diri saya melepaskan kesempatan padahal saya sadar bahwa kesempatan itu tak mungkin kembali. Saya membiarkan diri saya malas padahal untuk menggapai mimpi-mimpi, saya harus bekerja keras. Saya tidak mencintai diri saya sehingga saya menjadikan diri saya menuju jurang kegagalan.
Saya butuh segera diingatkan. Dibangunkan. Disadarkan. Bahkan ditampar jika kognitif saya tidak juga menggerakkan.
Saya rasa saya memang butuh ditampar, ditendang, atau mungkin dijatuhkan dari gedung tertinggi agar segera sadar bahwa saya harus segera, lebih mencintai diri saya sendiri!
Mbak...saya senang dengan tulisan-tulisannya mbak...Bagus-bagus, Inspirasi sekali, saya sangat suka yang ini, karena sekarang saya juga (emang) kudu di tampar
BalasHapusWah.. terima kasih banyak. Senang sekali bisa berbagi.
BalasHapusMari menampar diri sendiri :)
Hehe iya mbaa...:)
BalasHapussalam Kenal Mbaa Fauziah ^_^